Suntik-Silikon
ilustrasi suntik silikon. (foto: google images)

harianpijar.com – Suntik silikon merupakan praktik ilegal dan dilarang di sejumlah negara karena mengandung risiko kesehatan. Memang belum ada aturan khusus yang mengatur tentang praktik suntik silikon di Indonesia. Oleh karena itu, sangat dianjurkan untuk menghindari praktik tersebut.

Selain itu, silikon memiliki bentuk yang beragam dan tidak seluruhnya cocok jika digunakan oleh manusia. Dengan pertimbangan itu, penggunaan silikon untuk mengisi jaringan lunak pada manusia dinilai ilegal dan dilarang di sebagian besar negara.

Seperti dilansir AloDokter, pengisian jaringan dermal melalui suntikan umumnya dianggap aman, namun bisa menimbulkan efek samping, diantaranya:

– Efek samping awal, dalam beberapa hari bisa menimbulkan efek samping berupa kulit kemerahan disertai perih, benjol, memar, gatal, reaksi hipersensitivitas, dan peradangan selama beberapa hari. Tekan dan kompres dengan es batu untuk meminimalkannya

– Efek samping tertunda, bisa muncul dalam kurun waktu berminggu-minggu hingga tahunan, dampaknya seperti inflamasi granuloma, bintil, kesenjangan dan timbul jaringan parut, serta migrasi pengisian implan.

Tapi, semua itu kembali lagi pada bahan atau material yang digunakan untuk mengisi jaringan kulit (filler). Saat ini, banyak macam-macam material yang bisa digunakan.

Efek samping suntik silikon pada perawatan tubuh dan kecantikan

Sejak tahun 1992, Amerika menjadi salah satu negara yang melarang perawatan dengan suntik silikon. Meski begitu, masih ada saja “oknum nakal” yang menggunakannya.

Umumnya suntik silikon digunakan oleh sebagian orang yang menginginkan langkah instan untuk tampil cantik. Lokasi suntik silikon yang sering dilakukan adalah pada area wajah, payudara, pinggul, bokong, dada, lengan, hingga alat kelamin.

Seorang ahli radiologi mengatakan penggunaan suntik silikon cair dapat menimbulkan risiko yang mengancam jiwa penggunanya, seperti emboli paru.

Tak hanya itu, sebuah studi yang meneliti 44 pasien pasca suntik silikon cair menemukan 25 persen di antaranya meninggal karena pendarahan di paru.

BAGIKAN
BERITA PILIHAN SPONSOR