Media dan Kekuasaan: Pendekatan Kritis terhadap Propaganda di Era Digital

harianpijar

JAKARTA – Di dunia digital media berperan penting dalam membentuk opini publik dan mempengaruhi dinamika masyarakat. Sebagai alat kekuasaan, media dapat digunakan untuk menyebarkan informasi dan memperkuat kekuasaan partai berkuasa.

Teori sosial kritis, khususnya gagasan Mazhab Frankfurt, memberikan kerangka komprehensif untuk menganalisis penggunaan media sebagai alat kekuasaan sosial dan politik.

Teori sosial kritis yang dikemukakan oleh para pemikir seperti Max Horkheimer, Theodor Adorno, dan Herbert Marcuse, menekankan pentingnya mengkritik struktur sosial yang ada dan cara mereka mempertahankan kekuasaan dan diperkuat. Dalam konteks media, teori ini memandang media sebagai alat yang digunakan para elit untuk membentuk opini dan mempertahankan kekuasaan.

Promosi di dunia digital tidak lagi terbatas pada media tradisional seperti surat kabar, radio, dan televisi. Internet dan media sosial telah membuka jalan bagi informasi untuk tersedia lebih cepat dan mudah.

Baca juga:   Menyelaraskan Gender: Islam dan Gerakan Feminisme Modern pada Teori Sosial Kritis

Namun seiring dengan menjamurnya informasi, permasalahan baru seperti misinformasi dan berita palsu pun bermunculan.

Karakteristik Propaganda Digital:

1. Kecepatan dan Skalabilitas: Informasi dapat disebarkan dengan cepat ke jutaan orang dalam hitungan detik.

2. Segmentasi dan Personalisasi: Algoritma media sosial memungkinkan konten dipersonalisasi untuk target audiens spesifik, membuat propaganda lebih efektif.

3. Interaktivitas: Media sosial memungkinkan partisipasi aktif dari pengguna, yang dapat memperkuat pesan propaganda melalui like, share, dan komentar.

Salah satu contoh paling terkenal dari penggunaan propaganda digital adalah pemilihan presiden AS pada tahun 2016. Kampanye propaganda yang diselenggarakan oleh aktor pemerintah asing melalui jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter telah menunjukkan bagaimana propaganda digital dapat mempengaruhi proses demokrasi.

Baca juga:   Kritik Sosial terhadap FOMO pada Wanita dalam Menyaksikan Pertandingan Timnas Indonesia: Analisis Feminis

Pendekatan teori sosial kritis mengajarkan kita untuk tidak hanya melihat konten media, namun juga struktur kekuasaan yang mendasarinya. Literasi digital sering kali memperkuat kesenjangan sosial dan ekonomi dengan menyebarkan informasi yang berpihak pada kelompok dominan. Misalnya, bias rasial dan gender dapat diperkuat melalui kampanye kesadaran.

Pendekatan kritis untuk memajukan era digital harus berfokus pada cara media digunakan untuk memengaruhi opini publik dan mempertahankan kekuasaan. Dengan memahami dinamika ini melalui kacamata teori sosial kritis, kita dapat mengidentifikasi dan merespons upaya manipulasi informasi dengan lebih baik.

Arif Bassam (2106015144)
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar Anda!
Masukkan nama Anda disini