Susi Susanti: Love All (2019), Perjuangan Gender dalam Dunia Olahraga

harianpijar

JAKARTA – Film Susi Susanti: Love All (2019) mengisahkan perjalanan hidup seorang legenda bulu tangkis Indonesia, Susi Susanti. Film ini tidak hanya menceritakan prestasi gemilangnya di dunia olahraga tetapi juga menggambarkan perjuangan Susi melawan ketidakadilan gender yang dihadapinya sepanjang kariernya.

Dalam analisis ini, kita akan mengkaji film ini melalui lensa feminisme radikal untuk memahami bagaimana isu-isu gender diangkat dan diperjuangkan.

Film yang berjudul Susi Susanti: Love All (2019) adalah film yang diangkat dari kisah nyata. Susi Susanti lahir pada 11 Februari 1971 di Tasikmalaya, Jawa Barat. Dari usia muda, bakatnya dalam bulu tangkis sudah terlihat jelas.

Bergabung dengan klub bulu tangkis terkenal PB Jaya Raya, Susi Susanti mulai meniti kariernya dengan dedikasi yang tinggi dan semangat juang yang tak kenal lelah.

Kariernya mencapai puncak ketika dia memenangkan medali emas di Olimpiade Barcelona 1992, sebuah pencapaian yang tidak hanya membanggakan Indonesia tetapi juga menempatkannya di panggung dunia sebagai salah satu atlet bulu tangkis terbaik sepanjang masa.

Dunia olahraga, seperti banyak bidang lainnya, sering kali didominasi oleh laki-laki. Perempuan yang berkarier di bidang ini sering kali menghadapi berbagai bentuk diskriminasi dan stereotip gender.

Mereka dianggap kurang kompetitif, lebih lemah, dan tidak mampu bersaing di tingkat yang sama dengan laki-laki. Dalam konteks bulu tangkis, meskipun Indonesia memiliki sejarah panjang dalam olahraga ini, atlet perempuan sering kali tidak mendapatkan perhatian dan penghargaan yang sama dengan atlet laki-laki.

Melawan Patriarki dalam Dunia Olahraga

Feminisme radikal berargumen bahwa akar dari ketidakadilan gender adalah sistem patriarki yang mendominasi berbagai aspek kehidupan, termasuk olahraga. Dunia olahraga sering kali dikendalikan oleh nilai-nilai patriarki yang menempatkan laki-laki di atas perempuan dalam hal kemampuan dan prestasi.

Baca juga:   Popularitas Kebaya dalam Transformasi Busana Tradisional di Era Modern: Budaya Populer pada Teori Sosial Kritis

Dalam film Susi Susanti: Love All kita melihat bagaimana Susi harus berjuang melawan diskriminasi dan stereotip yang menganggap perempuan kurang kompetitif dibandingkan laki-laki.

Susi Susanti dengan segala pencapaiannya menjadi simbol perlawanan terhadap struktur patriarki ini. Dia membuktikan bahwa perempuan memiliki kemampuan yang sama untuk mencapai prestasi tertinggi dalam olahraga. Melalui karakter Susi, film ini menunjukkan bagaimana perempuan dapat menantang dan melawan sistem yang tidak adil dan patriarkal.

Ketidakadilan Struktural dan Sistemik

Feminisme radikal menyoroti bahwa penindasan perempuan bukanlah hasil dari perilaku individu semata, tetapi merupakan bagian dari ketidakadilan struktural dan sistemik yang lebih luas.

Dalam konteks film ini, Susi menghadapi berbagai bentuk diskriminasi gender, baik di dalam maupun di luar lapangan. Dari pelatihan yang lebih keras hingga ekspektasi sosial yang menekan, Susi harus berjuang melawan berbagai rintangan yang diperkuat oleh struktur patriarki.

Film ini juga menyoroti bagaimana dukungan dari lingkungan, seperti keluarga dan pelatih, memainkan peran penting dalam membantu Susi mengatasi hambatan-hambatan tersebut. Ini mencerminkan pandangan feminisme radikal yang menekankan pentingnya solidaritas dan dukungan kolektif dalam melawan ketidakadilan struktural.

Dekonstruksi Stereotip Gender

Feminisme radikal berusaha mendekonstruksi stereotip gender yang membatasi peran dan kemampuan perempuan. Dalam Susi Susanti: Love All, stereotip bahwa perempuan lebih lemah dan kurang kompetitif dibandingkan laki-laki ditepis oleh prestasi dan dedikasi Susi.

Baca juga:   Menyelaraskan Gender: Islam dan Gerakan Feminisme Modern pada Teori Sosial Kritis

Dia tidak hanya berkompetisi di tingkat tertinggi tetapi juga meraih berbagai penghargaan internasional, menunjukkan bahwa perempuan bisa dan mampu mencapai prestasi yang sama, atau bahkan lebih tinggi dibandingkan laki-laki.

Melalui representasi Susi Susanti, film ini membantu mendekonstruksi pandangan yang meremehkan kemampuan perempuan dan menginspirasi generasi muda untuk melampaui batasan-batasan gender.

Tantangan Personal dan Sosial

Feminisme radikal juga menyoroti bagaimana perempuan sering kali harus menghadapi tantangan ganda: di ranah publik dan pribadi. Susi Susanti tidak hanya harus berlatih keras dan berkompetisi, tetapi juga menghadapi ekspektasi sosial yang menuntut perempuan untuk menjalankan peran domestik.

Dalam film ini, terlihat bagaimana Susi berusaha menyeimbangkan antara kariernya sebagai atlet dan kehidupannya sebagai perempuan dalam masyarakat.

Film ini menunjukkan bahwa perjuangan Susi bukan hanya tentang memenangkan pertandingan, tetapi juga tentang melawan ekspektasi sosial dan membuktikan bahwa perempuan bisa sukses di ranah publik tanpa harus mengorbankan identitas dan peran pribadinya.

Kesimpulan

Melalui lensa feminisme radikal, Susi Susanti: Love All (2019) dapat dilihat sebagai sebuah karya yang mengangkat isu-isu gender dan memperjuangkan kesetaraan dalam dunia olahraga. Film ini menyoroti bagaimana Susi Susanti melawan patriarki dan ketidakadilan struktural yang dihadapinya sepanjang kariernya.

Dengan membuktikan bahwa perempuan mampu mencapai prestasi tertinggi, Susi Susanti menjadi simbol perlawanan dan inspirasi bagi perempuan di seluruh dunia. Film ini tidak hanya menghibur tetapi juga mengajak penonton untuk merenungkan dan mendukung perjuangan melawan ketidakadilan gender dalam segala aspek kehidupan.

Galindra Rachman
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar Anda!
Masukkan nama Anda disini