Kritik Sosial terhadap FOMO pada Wanita dalam Menyaksikan Pertandingan Timnas Indonesia: Analisis Feminis

harianpijar

JAKARTA – Duduk di antara sorakan meriah dan riuh rendah suporter, olahraga telah menjadi industri yang berkembang dalam dua dasawarsa terakhir. Fenomena tersebut terjadi di seluruh dunia.

Olahraga tidak lagi menjadi sebuah aktifitas fisik yang bermanfaat bagi pelakunya, tetapi telah menjadi sebuah hiburan dan komoditas bagi penikmat olahraga. Pada saat ini banyak wanita mengamati lapangan dengan mata penuh konsentrasi.

Di sekitarnya, senyum-senyum kegembiraan pecah saat gol dicetak oleh Timnas Indonesia. Namun, di balik kegembiraan itu, terselip suara kegelisahan yang halus: rasa takut ketinggalan momen berharga, rasa gelisah akan koneksi sosial yang mungkin terlewatkan.

Atmosfer dalam dunia olahraga di Indonesia, khususnya sepak bola sangat tinggi. Dengan tingkat atmosfer yang tinggi tersebut menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara paling fanatik di dunia.

Suporter sepak bola di Indonesia terkenal dengan fanatisme yang luar biasa. Fanatisme ini bukan hanya ada di kalangan laki-laki tetapi orang tua, wanita bahkan anak-anak.

FOMO singkatan dari Fear of Missing Out bukan lagi sekadar gejala sosial umum, tetapi juga sebuah lensa kritis yang dapat mengungkap bagaimana perempuan memandang dan mengalami hobi yang tradisionalnya lebih sering dianggap milik pria.

Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi fenomena ini melalui perspektif feminisme, menyoroti bagaimana FOMO tidak hanya mempengaruhi pengalaman pribadi, tetapi juga menciptakan kritik sosial yang penting dalam konteks kesetaraan gender.

FOMO atau Fear of Missing Out dalam konteks penonton pertandingan sepakbola adalah ketakutan atau kecemasan seseorang, terutama wanita, akan melewatkan momen penting seperti gol yang signifikan atau interaksi sosial yang berharga yang terjadi selama acara tersebut.

FOMO menarik untuk dianalisis karena dapat mengungkap bagaimana individu, khususnya wanita, merespons dan mengalami acara publik seperti pertandingan sepakbola.

Analisis terhadap FOMO juga membuka diskusi tentang tekanan sosial yang mungkin dialami wanita dalam menjalani hobi atau minat yang sering diasosiasikan dengan pria, serta dapat diperluas dengan lensa feminisme untuk menyoroti konstruksi sosial mengenai gender dan pengaruhnya terhadap pengalaman individu dalam konteks kegiatan publik.

Artikel ini mengidentifikasi dampak mendalam dari FOMO terhadap pengalaman wanita yang menyaksikan pertandingan Timnas Indonesia.

Baca juga:   Memahami Black Lives Matter dalam Kerangka Pemikiran Karl Marx

Melalui analisis yang mendalam, kita menjelajahi bagaimana tekanan psikologis untuk terlibat secara aktif, stereotip gender yang persisten, dan eksklusi sosial dalam lingkungan penonton sepakbola dapat mempengaruhi cara wanita menikmati dan mengalami olahraga ini.

Dengan menggunakan lensa feminisme, artikel ini tidak hanya mengkritisi dinamika ini tetapi juga menyoroti pentingnya memahami dan menantang norma-norma sosial yang membatasi partisipasi dan pengalaman wanita dalam budaya olahraga yang sering didominasi oleh pria.

Kita dapat meninjau beberapa aspek penting terkait dengan tekanan sosial, stereotip gender, dan eksklusi dalam pengalaman menyaksikan pertandingan:

Tekanan Sosial

Wanita sering menghadapi tekanan sosial untuk terlibat aktif dalam menonton pertandingan sepakbola, terutama yang melibatkan Timnas Indonesia. Tekanan ini mungkin muncul dari harapan untuk terus mengikuti perkembangan terbaru, berpartisipasi dalam diskusi online atau offline, atau sekadar mempertahankan koneksi sosial dengan teman-teman atau komunitas penonton.

Stereotip Gender

Dalam budaya sepakbola yang masih didominasi oleh pria, wanita sering menghadapi stereotip bahwa minat dan pengetahuan mereka tentang olahraga ini kurang valid atau lebih rendah dari pada pria.

Stereotip ini dapat mempengaruhi cara wanita merasa diterima atau dihormati dalam lingkungan penonton, serta membatasi kesempatan mereka untuk berkontribusi atau memimpin dalam diskusi dan analisis tentang pertandingan.

Eksklusi dalam Pengalaman Menyaksikan Pertandingan

Wanita juga mungkin mengalami eksklusi langsung atau tidak langsung saat menyaksikan pertandingan Timnas Indonesia. Ini bisa berupa komentar tidak pantas dari sesama penonton yang meragukan minat atau pengetahuan mereka, atau kurangnya representasi dan dukungan untuk wanita di ruang publik atau online tempat diskusi tentang sepakbola berlangsung.

Studi Kasus

Studi tentang FOMO di Kalangan Penonton Olahraga: Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Communication Research Reports pada tahun 2020 mengungkapkan bahwa FOMO dapat mempengaruhi tingkat keterlibatan dan kepuasan penonton dalam acara olahraga.

Studi ini menunjukkan bahwa FOMO dapat menciptakan tekanan sosial yang signifikan bagi penonton untuk tetap terhubung dengan pengalaman acara olahraga, termasuk di antara wanita yang menyaksikan pertandingan.

Analisis tentang kritik sosial terhadap FOMO pada wanita dalam konteks menonton pertandingan Timnas Indonesia dapat memberikan wawasan yang dalam tentang dampaknya pada isu-isu gender yang lebih luas dalam masyarakat.

Baca juga:   Media dan Kekuasaan: Pendekatan Kritis terhadap Propaganda di Era Digital

Reproduksi Stereotip Gender: Fenomena FOMO dalam konteks penonton sepakbola dapat memperkuat stereotip yang melekat bahwa minat dalam olahraga, terutama sepakbola, lebih cocok untuk pria. Ini menciptakan ekspektasi sosial yang membatasi wanita dalam mengekspresikan minat atau keahlian mereka dalam bidang-bidang yang dianggap ‘tradisional’ laki-laki.

Dengan demikian, FOMO tidak hanya mempengaruhi pengalaman individu dalam menonton pertandingan, tetapi juga dapat memperkuat norma-norma sosial yang membedakan aktivitas dan minat berdasarkan gender.

Penguatan Teori Peran Gender: Konsep FOMO juga dapat menguatkan teori peran gender yang menetapkan ekspektasi tentang bagaimana wanita dan pria seharusnya berperilaku dalam masyarakat.

Wanita yang merasa tertekan oleh FOMO untuk terlibat aktif dalam aktivitas olahraga tertentu mungkin merasa perlu untuk menyesuaikan perilaku mereka agar sesuai dengan norma-norma gender yang dominan.

Akses dan Partisipasi dalam Ruang Publik: Analisis terhadap FOMO pada wanita dalam olahraga mencerminkan juga tentang akses dan partisipasi mereka dalam ruang publik yang sering kali didominasi oleh pria.

Ketika aktivitas seperti menonton sepakbola dianggap sebagai domain laki-laki, wanita mungkin menghadapi hambatan psikologis dan sosial dalam merasa nyaman dan diterima secara penuh dalam partisipasi mereka.

Pengaruh Terhadap Keseimbangan Kekuasaan dan Pengambilan Keputusan: Dalam konteks yang lebih luas, penekanan terhadap FOMO pada wanita dalam menonton pertandingan bisa mengindikasikan tentang pengaruh yang lebih dalam terhadap keseimbangan kekuasaan dan pengambilan keputusan dalam Masyarakat.

Kesimpulan dari kritik sosial terhadap FOMO pada wanita yang menyaksikan pertandingan Timnas Indonesia adalah sebagai berikut:

Tekanan Psikologis: Wanita sering merasakan tekanan untuk terlibat aktif dan terus mengikuti perkembangan terbaru dalam pertandingan, didorong oleh kekhawatiran akan ketinggalan momen penting.

Reproduksi Stereotip Gender: Pengalaman FOMO dalam konteks sepakbola dapat memperkuat stereotip bahwa minat dalam olahraga, terutama yang dianggap ‘maskulin’, lebih cocok untuk pria.

Eksklusi Sosial: Wanita mungkin menghadapi eksklusi dalam ruang publik atau online saat mengekspresikan minat atau pengetahuan mereka tentang sepakbola, karena budaya sepakbola masih dominan oleh pria.

Muhammad Pebri Priandani
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar Anda!
Masukkan nama Anda disini