Tips Petani Gurem Meraup Pendapatan di Area Lahan Sempit

Untirta

BANTEN – Petani gurem adalah petani yang memiliki lahan kurang dari 0,5 hektar. Keadaan pelaku usaha pertanian tersebut setiap tahun semakin bertambah jumlahnya dengan tingkat kesejahteraan yang masih rendah. Masih rendahnya taraf kesejahteraan petani terlihat dari serta dalam memproduksi pertanian untuk penyediaan pangan, pakan, bahan baku industri dan ekspor.

Berangkat dari pemikiran hal ini, sebagai negara yang agraris dengan sebagian besar masyarakatnya bekerja sebagai petani, maka negara juga memiliki kewajiban untuk menyediakan berbagai kebutuhan pada pemenuhan produksi pertanian di indonesia.

Salah satunya adalah keberadaan lahan tanah sebagai pelengkap usaha para petani. Tanah memiliki sumber arti yang sangat penting untuk memenuhi kebutuhan masyarakat luas.

Akan tetapi, penyusutan lahan juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi turunnya kualitas hasil pertanian Indonesia. Data Badan Pusat Statistik menunjukan secara keseluruhan sejak tahun 2009, luas lahan pertanian terus mengalami penyusutan sebesar 0.1% setiap tahunnya. (BPS, 2010).

Baca juga:   Penggunaan Aplikasi Tanidoc: Teknologi Diagnosa Hama dan Penyakit Tanaman

Dari hal itu sudah dipastikan bahwa petani gurem memiliki strategi untuk tetap mendapatkan penghasilan lebih dengan menggunakan area di lahan yang sempit akibat penyusutan. Bagaimana caranya? Yuk, simak artikel berikut ini!

Pertama, petani menentukan dan memilih jenis tanaman yang memiliki permintaan tertinggi di pasar lokal atau regional. Walaupun dengan lahan yang sempit, petani tetap akan mendapatkan pendapatan bahkan lebih.

Kedua, petani memanfaatkan teknologi terbaru dengan melibatkan generasi milenial untuk menyediakan platform aplikasi atau situs web dalam memantau harga pasar, cuaca, dan melakukan promosi untuk meningkatkan hasil panen petani.

Baca juga:   DPRD Provinsi Banten Meningkatkan Etika Profesi Humas untuk Transparansi dan Integritas

Ketiga, petani tetap melakukan secara konsisten dalam pemeliharaan tanaman antara lain adalah penyiapan tempat pembibitan, pengolahan tanah, penanaman, pemupukan, penyiangan tumbuhan pengganggu, pemberantasan hama dan penyakit, pemanenan dan pengolahan hasil panen.

Keempat, petani boleh mengelola lahan nya sampai akhir hayat, dan diperbolehkan untuk diwariskan hanya kepada satu anaknya saja. Tetapi tidak boleh dijual. Hal ini bisa dilakukan dengan menginvestasikan lahan tersebut kepada investor. Menjalankan ekspor dengan bantuan program dari pemerintah.

Apabila petani mengalami kesulitan untuk menerapkan tips untuk menyesuaikan kondisi lingkungan, namun ingin sekali untuk menjalankan hal ini, konsultasikan segera kepada penyuluh untuk tindakan lanjut dan arahan program yang sama.

Penulis: Tsabitah Ardelia
Mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar Anda!
Masukkan nama Anda disini