Maksimalkan Potensi Lele Desa Balonggabus Menjadi Olahan Baru: Abon Lele

Abon-Lele

SURABAYA – Abon berasal dari Negeri Tiongkok. Pada awal pembuatannya, abon digunakan sebagai topping maupun isian dari berbagai hidangan seperti roti, bakpao, bubur, nasi dan juga sebagai makanan ringan.

Ikan lele merupakan salah satu spesies ikan yang banyak hidup di perairan tawar di Indonesia. Bahkan saat ini banyak yang mengembangkan menjadi budidaya, sehingga membuat ikan ini berlimpah jumlahnya.

Desa Balonggabus merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Candi, Sidoarjo. Desa ini merupakan salah satu desa yang luas wilayahnya paling kecil dibandingkan dengan desa lain yang berada di wilayah kecamatan Candi. Akan tetapi, Desa Balonggabus memiliki budidaya ikan lele yang dapat dikatakan cukup besar.

Bapak Sunardi, selaku Ketua RW 04 dan juga penanggungjawab budidaya lele mengatakan bahwa saat sekali panen bisa memanen hingga 2 kwintal dan pembeli bukan hanya dari Sidoarjo tetapi juga dari wilayah luar Sidoarjo.

Baca juga:   Pengalaman Magang di Bagian Tata Pemerintahan Kantor Bupati Tulungagung

Kelompok mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya yang sedang melakukan KKN (Kuliah Kerja Nyata) di Desa Balonggabus yang beranggotakan Bryan Nifenty, Lutfika Arifa, dan Aldi Priyo, berinovasi melalui daging ikan lele dapat mereka sulap menjadi abon yang memiliki rasa dan ciri khas tersendiri yang cocok dikonsumsi sebagai lauk pendamping makan.

Melalui program kerja inovasi abon lele tersebut yang telah dilaksanakan pada tanggal 25 Mei 2024, diharapkan dapat meningkatkan potensi dan nilai tambah sumber daya pangan yang ada di Desa Balonggabus dan meningkatkan minat usaha kepemudaan di Desa Balonggabus, Candi, Sidoarjo.

Mahasiswa-mahasiswi tersebut bekerjasama dengan kelompok masyarakat dan pemuda desa setempat untuk berpartisipasi dalam pelaksanaan inovasi pengembangan olahan ikan lele menjadi abon lele.

Selain itu, abon lele mempunyai daya tarik rasa yang tak kalah lezatnya dengan abon sapi maupun abon ayam. Untuk membuat abon lele, cukup menggunakan bagian dagingnya saja, sementara bagian kepala dan tulangnya dipisahkan.

Baca juga:   Penyuluhan Pencegahan HIV di RW 03 Medokan Semampir Tingkatkan Kesadaran Masyarakat

Dalam proses pembuatan abon lele hingga kering membutuhkan waktu setidaknya 3-5 jam penggorengan, yang mana dengan lama pengolahan tersebut membuat abon lele lebih terasa gurih rempahnya, serta dapat menjadikan umur simpan lebih tahan lama.

Dika, salah satu tim pemuda bidang usaha divisi ekonomi Desa Balonggabus mengatakan bahwa, “Turut mendukung inovasi olahan abon dari ikan lele, apalagi hal ini kegiatan positif, bisa menjadi kegiatan sampingan bagi lansia yang pensiun dan juga membuka usaha baru untuk masyarakat pelaku UMKM di Desa Balonggabus. Yang artinya ide usaha tersebut disambut baik oleh masyarakat setempat.”

Tidak hanya itu, Dika juga menyampaikan bahwa ingin meneruskan ide usaha abon lele, dia mengharapkan olahan ikan lele dapat lebih bervariasi lagi kedepannya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar Anda!
Masukkan nama Anda disini