Cegah HIV/AIDS pada Remaja, Mahasiswa UNAIR Galakkan Sex Education di Gubeng Surabaya

UNAIR

SURABAYA – Mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) yang tergabung dalam Kelompok 5 Pembelajaran Dasar Bersama (PDB) A25 mengadakan sex education kepada remaja di daerah Gubeng Klingsingan III Surabaya pada Jumat, 12 Mei 2023 dan Sabtu, 13 Mei 2023.

SHINING With Karens merupakan nama kegiatan mereka. SHINING merupakan kepanjangan dari Sharing and Learning. Sedangkan, “Karens” merupakan singkatan dari “Kelompok Anak Kerens”.

SHINING With Karens mengangkat tema “Pengaruh Sex Education sebagai Upaya Pencegahan Penyakit HIV/AIDS pada Remaja”. Sebagaimana tema yang diangkat, kegiatan tersebut bertujuan untuk mencegah terjadinya penyakit HIV/AIDS pada remaja.

Hal itu dikarenakan remaja adalah sekelompok usia yang rentan terpengaruh akan suatu hal. Di masa ini, mereka mengalami perkembangan fisik dan emosional. Perkembangan fisik ditandai dengan matangnya organ-organ tubuh dan fungsi sekunder dari organ reproduksi. Secara emosional mereka mudah tersinggung, sikap tidak menentu, dan cenderung mengikuti sosok idolanya. Mereka berada dalam masa pengenalan jati diri.

Kondisi demikian menyebabkan sebagian remaja mudah terjerumus pada hal yang membawa dampak buruk pada mereka, misalnya penyakit menular seksual terutama HIV/AIDS. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 3 tentang Kesehatan dan Kesejahteraan.

HIV (Human Immunodeficiency Virus) yaitu virus yang menyebabkan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). AIDS adalah tahap lanjut dari infeksi HIV yang menyebabkan beberapa infeksi lainnya.

Virus akan memperburuk sistem kekebalan tubuh dan penderita HIV/AIDS akan berakhir dengan kematian dalam waktu 5-10 tahun kemudian jika tanpa pengobatan yang cukup.

HIV adalah retrovirus yang menyerang limfosit T CD4 pada akhirnya menyebabkan kematian sel-sel. Organisasi kesehatan dunia tahun 2020 menyatakan jumlah kasus baru HIV di seluruh dunia hampir 1,5 juta kasus pada 2020. Jumlah HIV/AIDS di Indonesia ditemukan sebanyak 427.201 orang.

Kelompok remaja sangat rentan terhadap tiga risiko kesehatan reproduksi atau yang dikenal dengan triad kesehatan reproduksi remaja yaitu seksualitas, napza (narkotika, alkohol, psikotropika dan zat adiktif lainnya), serta HIV/AIDS.

Permasalahan terkait remaja sangat kompleks, yakni perilaku merokok, menggunakan narkoba, dan perilaku seksual berisiko yang menyebabkan terkena penyakit IMS (Inveksi Menular Seksual), maupun HIV/AIDS.

Baca juga:   Pentingnya Pendidikan Seks pada Remaja di Indonesia

Namun, di dalam masyarakat sendiri permasalahan terkait HIV/AIDS dianggap tabu, dan bahkan tidak jarang orang tua masih enggan memberikan edukasi kepada anaknya terkait penyakit menular seksual terutama HIV/AIDS.

Oleh karena itu, SHINING With Karens hadir sebagai upaya kecil yang dapat dilakukan mahasiswa kelompok 5 PBD A25 UNAIR untuk membantu pencegahan penularan HIV/AIDS.

Gubeng Klingsingan III Surabaya menjadi lokasi sasaran kegiatan edukasi ini. Berdasarkan data proyeksi penduduk kota surabaya 2023-2032 yang diterbitkan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Pemerintah Kota Surabaya, pada tahun 2023 terlihat bahwa penduduk Kota Surabaya berjumlah 2.997.547 jiwa dan sebagian besar berada pada kelompok usia 10-14 tahun dan 15-19 tahun.

Pada tahun 2023, Kecamatan Gubeng menjadi salah satu penyumbang usia remaja terbanyak yakni dari 134.761 jiwa, proyeksi kelompok usia 10-14 tahun sebanyak 10.285 jiwa dan kelompok usia 15-19 tahun sebanyak 10.390 jiwa. Oleh karena itu, Gubeng Klingsingan III Surabaya menjadi sasaran kegiatan SHINING With Karens.

Kegiatan yang mengusung konsep sex education tersebut diselenggarakan selama 2 hari. Hari pertama diawali dengan pengenalan dan tujuan diadakannya kegiatan kepada para peserta, kemudian dilanjutkan dengan doa bersama.

Kegiatan berlanjut dengan pengerjaan kuis berjumlah 15 soal sebagai pre test, untuk mengetahui tingkat pemahaman peserta terhadap penyakit HIV/AIDS sebelum pemaparan materi. Soal pre test ditampilkan melalui media power point. Sebagai sarana untuk menjawab kuis, peserta diberi lembar jawaban soal.

Walaupun, sebagian dari mereka belum memahami secara menyeluruh apa itu HIV/AIDS. Namun, mereka memiliki antusias yang sangat tinggi untuk menjawab pertanyaan.

Kegiatan selanjutnya adalah pemaparan materi yang disampaikan oleh mahasiswa dari rumpun kesehatan dengan topik pembahasan mengenai, apa itu HIV/AIDS, data penderita HIV/AIDS di Indonesia, dan gejala HIV/AIDS.

Topik pembahasan ditujukan agar peserta mengetahui bahwa ada sebuah penyakit yang berbahaya dan terus berkembang hingga saat ini. Selain itu, pembahasan mengenai gejala HIV/AIDS bertujuan untuk memberikan gambaran awal dan mengidentifikasi bagaimana seseorang mengalami gejala HIV/AIDS.

Adapun dalam rangka memeriahkan acara, kegiatan berikutnya adalah permainan joepardy. Jeopardy merupakan salah satu pertunjukan kuis yang ada pada acara televisi populer di Amerika yang kemudian berkembang dan diadopsi menjadi bentuk kuis dalam permainan online.

Baca juga:   Pentingnya Pendidikan Seks pada Remaja di Indonesia

Tanpa mengurangi antusias para peserta, hari kedua diawali dengan pembahasan materi yang berbeda yaitu, dampak HIV/AIDS, perlindungan hukum bagi penderita HIV/AIDS, dan upaya pencegahan penyakit HIV/AIDS.

Pembahasan materi dampak HIV/AIDS sendiri diharapkan agar peserta dapat menyadari bahwa HIV/AIDS memiliki dampak yang besar. Selanjutnya, materi terkait perlindungan hukum diberikan agar peserta memahami bahwa penderita HIV/AIDS selama ini juga masih memiliki hak yang dilindungi oleh hukum.

Materi ini disampaikan agar peserta dapat menghargai dan melindungi kepentingan hukum dari penderita HIV/AIDS dengan memberikan dukungan sosial, tidak mengucilkan dan mencemooh mereka, serta tidak memberikan tekanan atau bullying.

Selain itu, menurut perspektif Hak Asasi Manusia perlindungan penderita HIV dijamin hak atas kerahasiaan statusnya melalui Pasal 57 ayat (1) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Kecuali, dalam keadaan mendesak penderita harus bersikap terbuka akan kondisinya untuk melindungi kesehatan dan kepentingan orang lain guna mencegah penularan HIV/AIDS.

Kegiatan dilanjutkan dengan pengerjaan kuis post test dengan soal yang sama. Hal tersebut dimaksudkan untuk mengukur pemahaman peserta sebelum dan sesudah pemberian materi.

Sebagai penutup, kegiatan diakhiri dengan foto bersama, pemberian hadiah pada peserta dan penyerahan cinderamata secara simbolik kepada perwakilan warga karena RT setempat berhalangan hadir.

Berdasarkan hasil evaluasi dan wawancara singkat yang dilakukan seusai kegiatan berakhir, didapati bahwa remaja di daerah tersebut sangat senang dan bersemangat dalam mengikuti kegiatan SHINING With Karens.

Selain mendapatkan pengetahuan baru, mereka juga memahami bagaimana penyebab, gejala, dan dampak yang ditimbulkan dari penyakit HIV/AIDS. Bahkan, warga setempat dan beberapa peserta menyayangkan perihal kegiatan yang hanya dilaksanakan selama dua hari saja.

Harapannya, walaupun kegiatan dilaksanakan secara singkat namun dapat memberikan sedikit edukasi kepada para remaja agar mereka dapat lebih berhati-hati dan selalu mawas diri dalam bergaul dan menjaga pergaulan di setiap lingkungan untuk menghindari tertularnya penyakit HIV/AIDS.

Penulis: Karina Octaviana Dwi Rahmawati

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar Anda!
Masukkan nama Anda disini