Membangkitkan Seni Budaya Lokal di Gowa agar Tidak Punah: Generasi Muda Patut Berpartisipasi!

image001
Seorang pria berpakaian adat sedang mempersembahkan Aru yang diiringi dengan empat penari paduppa pada acara penyambutan mempelai pengantin. (foto: dok. Twitter)

Pernahkah Anda menonton pertunjukan seni baik secara langsung maupun yang tersebar banyak di media online? Kira-kira apa yang terlintas di pikiran Anda? Mengapa mereka mengadakan kegiatan itu? Untuk hiburan kah? Lomba kah? Atau bagian dari pelestarian budaya lokal? Iya, betul. Ketiganya sudah betul. Kegitan-kegiatan tersebut merupakan pertunjukan seni guna mempertahankan dan melestarikan seni budaya lokal agar tidak mengalami kepunahan khususnya yang ada di wilayah Gowa, Sulawesi Selatan.

GOWA – Penggagas sekaligus Pembina Komunitas Seni Allasa’ Adjie Bau dg. Sila memberi ruang kepada masyarakat terutama generasi muda yang ingin belajar dan mengenal budaya-budaya lokal di Gowa dengan mendirikan komunitas seni.

Komunitas itu didirikan 5 tahun yang lalu tepatnya pada tahun 2018. Allasa’, komunitas yang ia dirikan ini diambil dari kata Jenetallasa yang artinya sumber-sumber air. Daeng Sila, sapaan akrabnya, mengatakan air adalah kehidupan.

Ayah satu anak ini menuturkan bahwa sangat penting melestarikan budaya lokal karena menurutnya orang Gowa menjadi salah satu simbol yang masih kental dengan budaya dan tradisinya seperti tradisi Angngaru.

Hal ini penting untuk diwariskan terutama ke generasi selanjutnya supaya tidak melupakan budaya yang menjadi ciri khas Kabupaten Gowa.

“Sangat penting bagi saya karena itu salah satu simbol kalau kita adalah orang Gowa karena salah satu kesenian di Gowa itu Angngaru kita bisa perkenalkan ke adik-adik kita supaya tidak melupakan budaya,” kata Adjie Bau dg. Sila.

Penggagas sekaligus Pembina Komunitas Seni Allasa’ itu mendidik para anggota dengan mengajarkan semua item-item kebudayaan. Bahkan lebih hebatnya rata-rata anggota dari komunitas Allasa’ itu dapat membawakan Aru atau orang Bugis-Makassar biasa menyebutnya dengan “Pangngaru”.

“Rata-rata yang di komunitas itu bisa Angngaru karena setiap anggota itu diajarkan semua item-item kebudayaan. Seni yang dipelajari itu Angngaru, ada macam-macam tari terus bermain musik juga. Pokoknya segala kesenian yang ada di Gowa sedikit-sedikit adik-adik bisa.”

Adjie Bau dg. Sila menambahkan komunitas yang didirikan ini memiliki keuntungan tersendiri baik dari segi materi maupun dari segi kepuasan batin. Menurutnya, dari materi mereka komersilkan budaya tersebut seperti ketika ada acara-acara penjemputan atau acara pengantin.

Sedangkan dari segi kepuasan batin, ia mengatakan ketika berhasil mendidik bibit-bibit baru untuk melestarikan budaya itu akan menjadi kepuasan batin bagi Adjie Bau dg. Sila.

Persiapan ketika seni budaya akan dipentaskan

Demikian juga dikatakan oleh salah satu anggota dari Komunitas Allasa’ Pandi dg. Mangawing, ada kepuasan tersendiri ketika membawakan Aru dan seni musik lainnya ada rasa puas dan rasa syukur karena telah menjaga nilai-nilai adat dari seni yang ia mainkan.

“Berbicara tentang kepuasan batin sangat puas karena kita sangat bersyukur bahwasanya kita masih menjaga nilai-nilai yang ada dalam adat Angngaru dan seni budaya yang sudah diwariskan oleh nenek moyang kita,” kata Pandi.

Ketika ditanya mengapa ia tertarik di bidang seni, Pandi mengatakan itu adalah bawaan lahir karena sejak kecil ia memang menyukai “warna-warna” seni.

Menurutnya, seni itu mempunyai nilai tersendiri untuk setiap orang. Oleh karena itu, menjaga nilai seni dari suatu tradisi adalah hal yang harus dilakukan generasi muda sekarang agar budaya dan tradisi lokal akan terus lestari.

Selain bidang musik yang dikuasai, Pandi juga mampu di bidang sastra seperti membawakan ‘Aru’, seperti yang kita tahu Aru termasuk golongan sastra lama.

Pandi dengan sapaan akrab Daeng Mangawing, mengatakan bermain seni mempunyai manfaat seperti adanya karakter yang dibentuk tersendiri oleh pelajaran-pelajaran yang sudah didapatnya melalui jalur seni.

Ia juga mengatakan selama porses latihan mempelajari seni seperti Aru dan seni lainnya cukup memakan satu hingga dua bulan karena itu semua tergantung bakat dari setiap individu.

“Tergantung dengan bakatnya teman-teman, bakatnya adik-adik, kalau kita berbicara tentang proses kadang juga ada yang satu bulan ada yang dua bulan karena penyatuannya kan karena kita harus pahami dulu bahwasanya apa pesan-pesan yang ingin disampaikan misal oleh Aru itu sendiri, makanya kita harus
kembali menjiwai setiap makna-makna yang ada dalam seni yang kita bawa,” ujar Pandi.

Baca juga:   Mahasiswa UINAM Berbagi Bibit untuk Warga Desa dalam Upaya Pemanfaatan Pekarangan Rumah

Selain dari proses yang harus dipersiapkan dengan matang, ada hal lain yang jauh lebih harus matang yaitu persiapan.

Pandi mengatakan ketika seni akan dipersembahkan persiapan yang paling pertama itu mental, karena menurutnya ketika mental tidak siap maka bisa terjadi sebuah kegagalan dalam mempersembahkan seni yang dibawakan.

“Persiapan yang paling pertama menurut saya itu mental, harus siap mental karena ya kadang-kadang dalam sebuah persiapan memang ketika teman-teman mentalnya itu kurang bagus kadang-kadang juga terjadi sebuah kegagalan dalam anggap saja ketika teman-teman membuat sebuah pegelaran ketika mentalnya teman-teman belum siap ya sering terjadi kegagalan jadi harus betul-betul mental itu sudah siap,” tuturnya.

Senada dengan hal itu, pemain gendang tradisional Gowa dari Sanggar Seni Daeng Bagank, Niswar Nasrullah, mengatakan bahwa persiapan yang harus diutamakan ketika seni itu akan dipersembahkan adalah mental.

Baginya mental itu bagian dari pembentuk karakter, ketika karakter tidak terbentuk itu artinya kita gagal menjiwai seni yang kita bawa.

Pemuda 20 tahun itu mengatakan di sanggar seni dimana ia bergabung, ia berlatih memainkan seni musik gendang tradisional Gowa. Menurutnya, gendang ini dipentaskan ketika hanya untuk sambutan saja seperti ‘Aru’. Sedangkan ketika pementasan atau acara-acara biasa seperti mengiringi tarian ada berbagai macam alat musik yang dipentaskan bersama dengan lagu daerah.

“Bidang seni yang saya mainkan yaitu seni musik gendang tradisional Gowa. Gendang tradisional ketika dipentaskan untuk sambutan saja seperti Aru itu gendang sama pui’-pui’ nama alat musiknya. Kalau untuk pementasan atau acara-acara biasa atau mengiringi tarian ada gendang ada pui’-pui’ ada suling ada bedug toraja ada kecapi sama lagu,” kata Niswar.

“Lagunya tergantung tari apa yang ditampilkan misalnya tari empat etnis lagunya itu lagu daerah Makassar, Bugis, Mandar dan Toraja,” imbuhnya.

Menurut Niswar, belajar seni itu susah-susah gampang karena ketika kita tidak memiliki dasar sama sekali maka akan butuh berbulan-bulan untuk menguasai seni musik yang dipelajari.

Sebelumnya, Niswar tertarik belajar bermain seni musik karena kecintaannya dengan seni. Ia mengatakan seni itu adalah mahakarya yang sangat indah. Dari keindahannya itu ia termotivasi untuk terus belajar sampai bisa menguasainya.

Selain itu, Niswar mengatakan bahwa seni budaya harus dilestarikan terutama yang ada di Gowa. Kalau bukan kita yang lestarikan siapa lagi karena sebagai generasi muda sudah sepatutnya ikut serta dalam melestarikan seni budaya lokal.

Sama halnya dengan Fuji Ananda Dian Pratiwi, penari dari Sanggar Seni Daun Mamea ini menjadi penari karena hobi dari kecil.

“2012 jadi penari di sekolah, masuk sanggar 2019. Jadi penari karena memang hobi dari kecil,” ujar Fuji.

Gadis berusia 20 tahun itu mengatakan bahwa menjadi penari sangat menyenangkan karena kita dapat melatih kelenturan tubuh hal ini ketika tarian dipersembahkan gerakan tubuh tidak akan kaku.

Fuji telah mementaskan beberapa tarian seperti tari kreasi, tari sandeq, tari empat etnis, tari duppa, tari mandar dan tari duppa bugis, pementasannya hanya sebagai media hiburan. Menurut Fuji, selama latihan menari ada tarian yang paling susah ia pelajari yaitu tari kreasi.

“Tari kreasi yang baru digunakan alasannya tidak pernah ditarikan dan baru dipelajari,” katanya.

Persiapan yang harus disiapkan ketika tarian akan dipersembahkan cukup banyak. Menurut Fuji, hal-hal yang harus disiapkan seperti make-up, baju, dan aksesoris, serta properti yang digunakan juga harus lengkap.

Membangun komunitas seni

Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin Makassar, Nur Ahsan Syakur, selaku pengajar kebudayaan turut menyelenggarakan seni budaya lokal seperti membangun komunitas budaya.

Ia mengaku sebagai mantan presidium orang yang mendirikan sanggar seni budaya, mengatakan sebagai pemerhati penggeliat seni budaya yang didalam komunitas itu ada berbagai jenis bidang seni.

“Komunitas budaya saya diatas ada komunitas sejarah dan budaya, saya salah satu presidium mantan presidium orang yang mendirikan sanggar seni budaya desa disana ya jadi kalau secara umum ya saya ini pemerhati penggeliat seni budaya tapi ya termasuk ya didalam sanggar itu ada bidang seni, seni tari ada, bidang seni musik ada, bidang seni kaligrafis, seni lukis ada, bidang seni teater dan lain sebagainya ada bidang fotografi, kalau saya tidak salah dulu ya ada itu semua kita optimalkan, kalau komunitas seni budaya yang disana ada di UKM kalau komunitas sejarah dan budaya juga ada diatas lantai empat di labmakanya ada lab sejarah dan budaya nah kebetulan saya yang mengorganisir lab budaya dan sejarah diatas,” kata Nur Ahsan Syakur.

Baca juga:   Mahasiswa KKN Gelar Sosialisasi di SMA tentang Dampak Pernikahan Usia Dini dan Pekerjaan Terberat Anak

Nur Ahsan Syakur juga mengungkapkan adanya wacana untuk pelestarian budaya salah satu diantaranya Fakultas Adab dan Humaniora khususnya Jurusan Sejarah dan Kebudayaan.

Ia mengatakan pentingnya mengembangkan kemampuan-kemampuan mahasiswa-mahasiswa khususnya yang di Sejarah Kebudayaan untuk menggali budaya-budaya luhur nenek moyang yang kemudian dikembangkan dan dilestarikan.

Terbukti Fakultas Adab dan Humaniora sudah sering mementaskan seni budaya lokal seperti proses penyambutan mahasiswa baru dan penyambutan tamu kunjungan yang ditampilkan oleh para mahasiswa-mahasiswa lama dan panitia-panitia mahasiswa baru menampilkan sisi budaya lokal seperti tarian dan Angngaru.

Nur Ahsan Syakur juga mengatakan bahwa universitas ketika ada tamu kunjungan misal dari Jakarta dan diterima oleh rektor biasanya akan didahului upaya tarian penyambutan yang kemudian diikuti dengan Angngaru, itu adalah salah satu bentuk sosialisasi promosi yang dilakukan oleh pihak perguruan tinggi bahwasanya tamu itu akan tahu kalau ada tradisi seperti itu.

“Bayangkan kalau tamu kita itu dari Jakarta misalnya dari menteri agama misalnya atau menteri kebudayaan datang kesini dan kemudian disambut dengan tarian dan Angngaru kenapa ada keris badik yang kemudian ditusuk-tusuk itu kan dia orang-orang yang mengiringi beliau itukan tahu kalau kita punya tradisi seperti ini yang dilestarikan.”

Menurut Nur Ahsan Syakur, supaya seni budaya lokal ini akan terus lestari salah satu manfaat dari seni pertunjukan, dengan diadakannya seni pertunjukan orang-orang akan melihat seperti inilah budaya dan tradisi orang Gowa. Jadi didalamnya ada sosialisasi dan visualisasi tentang bagaimana seni budaya lokal orang Gowa.

“Dari sisi pendidikan dari sisi edukasi ya tentu kami-kami ini sebagi pengajar kebudayaanya tentu memberikan edukasi pengajaran bahwa salah satu bentuk kebudayaan Sulawesi Selatan khususnya di Gowa itu misalnya Angngaru ya bagaimana esensi Angngaru itu ya itulah yang kita pelajari,” ucap Nur Ahsan Syakur.

Sosialisasi gerakan melestarikan seni budaya

Pemerintah Kabupaten Gowa pun juga ikut andil dalam pelestarian seni budaya lokal, upaya-upaya yang dilakukan adalah sering melaksanakan sosialisasi baik dari sisi media massa maupun wawancara.

Sosialisasi itu juga mereka laksanakan dalam bentuk melaksanakan lomba seperti lomba menari, lomba Angngaru di tingkat pelajar SMP maupun di kalangan masyarakat umum.

Seperti yang diungkapkan Kepala Bidang Kebudayaan Kabupaten Gowa Ikbal, upaya-upaya yang mereka lakukan tidak terhenti sampai disitu saja tetapi mereka juga mencetak buku-buku atau narasi-narasi terkait seni budaya lokal yang menggali berbagai sisi demi mempertahankan eksistensi dan pengembangan nilai-nilai budaya lokal.

“Selain dari sosialisasi yang kami lakukan itu juga kami mencetak buku-buku atau narasi-narasi terkait dengan seni budaya lokal baik dari sisi filosofi, agama maupun edukasi. Jadi banyak kok upaya yang kita lakukan dalam rangka mempertahankan eksistensi pelestarian dan pengembangan nilai-nilai budaya lokal,” ungkap Ikbal.

Ikbal menambahkan untuk membangkitkan semangat masyarakat umum terutama generasi muda untuk ikut serta dalam melestarikan seni budaya lokal adalah yang pertama mengedukasi mereka.

Edukasi ini bertujuan menambah ilmu pengetahuan dan menanamkan pemahaman bahwa kita kaya dengan budaya, adat dan tradisi yang perlu kita banggakan dan perlu kita pertahankan dan lestarikan di kemudian hari.

Kemudian ketika mereka telah paham maka akan muncul kecintaan terhadap seni budaya lokal yang nantinya mereka akan ikut berpartisipasi dalam melestarikan budaya lokal seperti tarian dan Angngaru.

Berkembangnya kelompok-kelompok masyarakat baik melalui sanggar maupun melalui komunitas maupun dari sisi personalitasnya masyarakat itu adalah bagian dari bagaimana cara mereka untuk melestarikan seni budaya lokal khususnya yang ada di Kabupaten Gowa.

Husnul Hatimah
Mahasiswa Jurnalistik UIN Alauddin Makassar

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar Anda!
Masukkan nama Anda disini