Heran Nama Soeharto Tak Ada di Keppres 1 Maret, Titiek Bilang Begini

Titiek-Soeharto
Titiek Soeharto. (foto: detik/Wilda)

harianpijar.com, JAKARTA – Putri Presiden RI ke-2 Soeharto, Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto, menilai pemerintah bunuh diri lantaran tidak menyebut nama sang ayah dalam Keppres Nomor 2 Tahun 2022 terkait Serangan Umum (SU) 1 Maret 1949. Menurutnya, pemerintah seharusnya memasukkan nama Soeharto yang berperan dalam peristiwa itu.

“Lucu aja gitu ya. Orang jelas-jelas ada di situ, orang yang ada di situ diilangin perannya, tapi orang yang tidak ada di situ dimasuk-masukin. Kan sebenarnya aneh saja, pemerintah bunuh diri saja gitu. Orang yang berperan ditipeks, yang tidak berperan dimasukin. Emang orang tidak punya catatan sejarah?” ujar Titiek Soeharto di sekretariat YSRI, Jalan Salak, Guntur, Jakarta Selatan, Jumat, 11 Maret 2022.

Titiek Soeharto mengatakan peristiwa SU 1 Maret 1949 bisa dilihat publik di arsip nasional, baik yang ada di Indonesia maupun di Belanda. Dirinya menganggap tak disebutnya nama Soeharto dalam Keppres tersebut merupakan hal yang lucu.

“Saya rasa bisa dilihat di arsip nasional, mau di Belanda kek, di Indonesia, di mana ada, tuh catatan semuanya, lucu aja aku sih. Kita, sudahlah… biar rakyat yang menilai,” ucapnya.

Baca juga:   Sandiaga Uno: Dukungan Titiek Soeharto Pribadi, Karena Ibu Dari Didit Prabowo

Menurut Titiek Soeharto, nama Soeharto telah tertulis dalam catatan sejarah SU 1 Maret 1949. Dirinya menyerahkan kepada rakyat untuk memberikan penilaian terkait polemik ini.

“Buat saya sih, kan sudah kasatmata, sudah tertulis dalam sejarah peran Pak Harto di situ. Kalau mau diilang-ilangin, biar rakyat saja yang menilai,” kata Titiek Soeharto.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meneken Keppres Nomor 2 Tahun 2022 tentang Hari Penegakan Kedaulatan Negara pada 24 Februari 2022. Keppres tersebut mengatur terkait Hari Penegakan Kedaulatan Negara yang jatuh pada 1 Maret.

Pada poin c pertimbangan Keppres, terdapat pembahasan berkaitan dengan sejarah Serangan Umum 1 Maret 1949. Pada poin itu memang tidak tercantum nama Soeharto.

“Bahwa peristiwa Serangan Umum I Maret 1949 yang digagas oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan diperintahkan oleh Panglima Besar Jenderal Soedirman serta disetujui dan digerakkan oleh Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta dan didukung oleh Tentara Nasional Indonesia, Kepolisian Negara Republik Indonesia, laskar-laskar perjuangan rakyat, dan segenap komponen bangsa Indonesia lainnya, merupakan bagian penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia yang mampu menegakkan kembali eksistensi dan kedaulatan Negara Indonesia di dunia internasional serta telah berhasil menyatukan kembali kesadaran dan semangat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia,” demikian bunyi poin c pertimbangan Keppres Hari Penegakan Kedaulatan Negara.

Baca juga:   Titiek Soeharto: Kami Berharap Hakim MK Bisa Putuskan yang Seadil-adilnya

Sementara itu, Menko Polhukam Mahfud MD mengatakan bahwa nama Soeharto ada di naskah akademik Keppres. Menurutnya, Keppres tersebut tidak menghilangkan nama Soeharto dari sejarah Serangan Umum 1 Maret 1949.

“Keppres tersebut bukan buku sejarah tapi penetapan atas 1 titik krusial sejarah. Keppres tersebut tidak menghilangkan nama Soeharto dan lain-lain dalam SU 1 Maret 1949,” ujar Mahfud MD dalam akun Twitter-nya, @mohmahfudmd, Kamis, 3 Maret 2022.

“Nama dan peran Soeharto disebutkan di naskah akademik Keppres yang sumbernya komprehensif,” tambahnya. (ilfan/det)

PILIHAN SPONSOR

BACA JUGA
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar