Sineas Banyumas Raya Bersatu Wujudkan Produksi Film di Tengah Pandemi

produksi-film
. (foto: dok. pribadi)

CILACAP – Beberapa sineas muda Cilacap bersatu mewujudkan produksi film dengan judul Larung. Yang mana hal ini terwujud berkat kerja kolektif dari teman-teman; Banyu Geni Films, sebagai rumah produksi utama serta Kalasa Films Kebumen, Cinemiscene Yogjakarta, Kabar Baik Films Yogyakarta dan teman-teman mahasiswa film dan juga sineas pelajar Banyumas Raya.

Film ini sendiri bercerita tentang Adi (10) seorang anak nelayan Teluk Penyu yang mengalami sakit demam ketika kondisi sedang dilanda Covid-19, disaat yang bersamaan kasus yang terjadi sedang marak-maraknya serangan nyamuk demam berdarah. Dengan minimnya pengetahuan, orangtuanya justru salah penanganan sehingga mengakibatkan hal yang tidak diharapkan.

“Kerja-kerja kolektif seperti ini adalah solusi ketika kita ingin berkarya tetapi sulit untuk mewujudkannya, karena di Cilacap sendiri untuk mengumpulkan banyak sineas itu cukup sulit, dengan adanya produksi ini diharapkan nantinya akan berkelanjutan,” ujar Muhammad Hilmi, selaku produser.

“Film ini penting dibuat, selain untuk mewujudkan jejaring di komunitas film juga karena isunya yang dirasa penting ketika masyarakat terfokus pada Covid-19 padahal di sisi yang lain ada penyakit yang juga perlu menjadi perhatian khusus. Sehingga, diharapkan dengan adanya film ini dapat memberikan sudut pandang lain bahwa ada penyakit demam berdarah yang juga mematikan dan harus benar cara penanganannya,” kata Naufal Ridho Pangestu, selaku sutradara.

“Saya berharap film ini dapat ditonton sebanyak-banyaknya oleh masyarakat, karena bagaimanapun juga tujuannya adalah itu. Saya yang juga dibantu dari teman-teman komunitas yang lain juga sedang mengupayakan agar film ini bisa dipertontonkan di beberapa daerah,” imbuhnya.

Kesehatan sendiri adalah keadaan sehat baik fisik, mental, spiritual maupun sosial yang akan memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial ekonomis. Disaat masyarakat terfokuskan kepada pandemi Covid-19, masyarakat lupa akan kasus penanganan demam berdarah (DBD) yang terus mewabah setiap tahunnya di Indonesia.

Kondisi tersebut menyebabkan masyarakat lupa akan keberadaan DBD dan cara penanganannya. Sehingga menyebabkan masyarakat salah dalam mengambil tindakan pertama atau keputusan pertama yang mengakibatkan kelalaian berujung kematian.

Parno Ridho Saputro (Kalasa Films Kebumen)
Mahasiswa Film Institut Kesenian Jakarta

PILIHAN SPONSOR

BACA JUGA
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar