Melihat Kasus Kakek yang Ditemukan Tewas Gantung Diri dari Sudut Pandang Psikologi

Psikologi
. (foto: unsplash/Francisco Moreno)

YOGYAKARTA – Warga Kelurahan Sendangsari, Kapanewon Pengasih, Kabupaten Kulon Progo digegerkan oleh seorang kakek yang ditemukan tewas tergantung di pohon jambu dekat rumahnya pada Minggu (21/11/2021).

Diduga korban yang berinisial P (68) itu mengakhiri hidupnya karena frustrasi lantaran sakit stroke yang dialaminya tidak kunjung sembuh. Korban ditemukan sudah tidak bernyawa tergantung di ranting pohon dekat rumahnya.

Kasi Humas Polres Kulon Progo Iptu I Nengah Jeffry mengatakan, bahwa awal mula kejadian sekitar kurang lebih pukul 05.00 WIB, anak dari P mencari keberadaan ayahnya, karena sudah tidak berada di kamarnya.

Mereka lalu mencari keberadaan sang ayah di berbagai penjuru rumah. Tak di sangka mereka melihat P tergantung di pohon jambu dekat rumahnya. Korban naik dengan menggunakan tangga, dan sudah ditemukan tak bernyawa.

Anak korban, Paulina, mengatakan bahwa semalam sang ayah masih berkumpul dan berbincang-bincang dengan keluarga, tak ada tanda-tanda sang ayah akan mengakhiri hidupnya dengan cara seperti ini

Baca juga:   Mantan Pengacara: Karena Frustasi, Novel Sebut Soal Keterlibatan Jenderal Polri Dalam Kasus Penyerangan Dirinya

Paulina mengaku kaget dan sangat terpukul akan kejadian itu. Dia juga mengatakan bahwa sang ayah dua bulan ini mengalami gejala stroke.

Berdasarkan dari kejadian tersebut penulis akan mengangkat tema tentang frustasi pada dewasa akhir atau lansia.

Frustasi, menurut Daradjat Zakiah (Andhy Irawan, 2011), adalah suatu keadaan dalam diri individu yang disebabkan oleh tidak tercapainya kepuasan atau suatu tujuan akibat adanya halangan/rintangan dalam usaha mencapai kepuasan atau tujuan tersebut.

Penulis berpendapat bahwasannya pada masa dewasa akhir sangat rentan mengalami frustasi karena pada masa-masa tersebut adalah periode kemunduran.

P disebut mengakhiri hidupnya karena frustrasi lantaran sakit stroke yang dialaminya tidak kunjung sembuh. Korban mengakhiri hidupnya secara tiba-tiba, tidak ada tanda-tanda bahwa korban akan mengakhiri hidupnya dengan cara tragis seperti itu. Bahkan, sebelum ditemukan tak bernyawa korban masih berbincang-bincang dan bercanda bersama keluarga.

Baca juga:   Sudut Pandang Psikologi Terkait Kasus Penganiayaan Napi di Lapas

Frustasi kemungkinan menjadi penyebab korban memutuskan untuk mengakhiri hidupnya karena setelah di otopsi tidak ada bukti tindak kekerasan yang dialaminya.

Kemunduran fisik pada masa lansia sangat berpengaruh pada kondisi kesehatan dan kondisi psikologis. Pada saat memasuki usia lansia diatas 60 tahun, sebagian lansia belum siap untuk menghadapi masalah di masa tua.

Kemuduran fisik seperti penyakit kronis yang belum mampu disembuhkan akan mengakibatkan timbulnya rasa asing, tidak dibutuhkan, putus asa, dan selalu mengingat kematian. Hal itu mempengaruhi penurunan aktivitas sosial yang berdampak pada kebahagiaan seseorang.

Beberapa cara menjaga kesehatan fisik dan psikis adalah dengan mulai berolahraga, mengonsumsi makanan sehat, istirahat yang cukup, serta jangan lupa juga untuk tetap menjaga kebugaran rohani dengan mendekatkan diri kepada Tuhan dan tetap berpikir positif.

Sampi Ranti Ing Baiti
Mahasiswa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta

PILIHAN SPONSOR

BACA JUGA
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar