Meningkatkan Minat dan Semangat Siswa Selama Pembelajaran Daring

Oleh Reza Alfa Rizki *)

Belajar-Daring
Ilustrasi. (foto: dok. Pexels)

SEMARANG – Sejak adanya pandemi Covid-19 sangat mempengaruhi kegiatan di berbagai bidang, tidak terkecuali bidang pendidikan. Kegiatan pembelajaran di sekolah yang semulanya dilakukan secara tatap muka kini diganti dengan pembelajaran daring.

Siswa diharuskan mampu belajar secara mandiri di rumah masing-masing. Sehingga memicu perasaan bosan, bahkan hilangnya semangat belajar pada diri anak untuk belajar.

Dilansir dari Kompas, sebuah survei yang telah dilakukan UNICEF pada Mei dan Juni 2020 mendapati, sebanyak 66 persen dari 60 juta siswa dari berbagai jenjang pendidikan di 34 provinsi di Indonesia mengaku tidak nyaman belajar di rumah selama pandemi.

Ada beberapa faktor terbesar yang mempengaruhi turunnya minat belajar dan hilangnya semangat belajar pada diri anak, yaitu kurangnya fasilitas yang memadai dibarengi dengan metode pembelajaran yang itu-itu saja.

Tidak meratanya fasilitas dapat dilihat dari banyaknya anak yang tidak memiliki smartphone untuk melakukan pembelajaran online, seperti melakukan zoom meeting dan google classroom. Sehingga anak diharuskan meminjam smartphone milik orang tua.

Akibatnya anak harus menunggu orang tua selesai menggunakan smartphone mereka. Terlebih lagi ketika orang tua memiliki anak lebih dari satu. Jelas keadaan ini akan memperlambat berlangsungnya pembelajaran antara guru dan anak. Seiring berjalannya waktu tentu akan menimbulkan berbagai masalah pada tiap anak.

Baca juga:   Presiden Jokowi Minta Pembelajaran Tatap Muka Dievaluasi, Begini Kata Gubernur Anies

Dikutip dari laman Kemendikbud, jika guru masih menggunakan metode lama dan tidak sesuai dengan generasi zaman sekarang, maka peserta didik akan cenderung merasa cepat bosan dan tidak tertarik pada mata pelajaran yang disajikan oleh guru.

Salah satu model pembelajaran yang cocok pada pembelajaran daring ini adalah dengan metode hibur. Metode hibur ini merupakan metode pembelajaran yang fungsinya untuk meningkatkan penguasaan siswa dalam keterampilan mendengarkan, berbicara, membaca serta menulis secara santai dan menyenangkan.

Sebagai contohnya siswa diajak belajar dengan membaca novel dan menonton video. Tentu saja dengan cara ini siswa akan mengikuti pembelajaran dengan rasa senang sehingga rasa bosan pada diri siswa saat pembelajaran daring dapat dicegah.

Selain itu, guru sendiri tidak mengalami stres dengan persiapan materi yang berlibet, cukup dengan menyediakan buku novel atau menyiapkan video.

Baca juga:   Hybrid Learning Solusi Pembelajaran di Masa Pandemi?

Selain model pembelajaran yang baik, pembelajaran dengan memanfaatkan berbagai aplikasi zaman sekarang tentu saja sangat efektif selama masa pembelajaran daring. Banyak alat-alat dan aplikasi kreatif yang tersedia di internet.

Tentu saja bisa dimanfaatkan untuk berbagai hal, terutama dalam hal pembelajaran. Sebagai contoh penggunaan aplikasi TikTok atau Youtube yang saat ini lebih banyak disukai kalangan muda. Aplikasi ini bisa dimanfaatkan untuk sarana belajar karena lebih kreatif dan menyenangkan bagi siswa dan guru.

Dikutip dari laman Kemendikbud, bahwa tujuan pokok pembelajaran melalui media sosial adalah untuk meningkatkan motivasi dan minat belajar.

Dapat disimpulkan bahwa minat dan semangat belajar siswa dapat ditingkatkan dengan kerjasama antara murid dan guru. Terutama gurunya sendiri harus berperan aktif memberikan berbagai macam model pembelajaran menarik selama masa pembelajaran online.

*) Reza Alfa Rizki, Mahasiswa Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang (UNNES)

BACA JUGA
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar