Cara Belajar Para Santri yang Transformatif

Santri
Para santri sedang melakukan tadarus bersama setelah melakukan salat berjamaah pada Senin, 15 November 2021. (foto: dok. Istimewa)

harianpijar.com, SEMARANG – Pada abad ke-21 kehidupan manusia mengalami perubahan seperti yang dialami masyarakat dan budaya manusia pada revolusi industri pada abad ke-18. Revolusi insdutri terjadi karena kemajuan teknologi komunikasi dan teknologi informasi yang menjadikan dimensi waktu di kehidupan manusia.

Selain faktor tersebut, tata cara hidup manusia dalam negara ikut berubah, bahkan sekarang manusia hidup di dalam dunia tanpa batas. Untuk mengatasi hal itu, perlu adanya sebuah pendidikan.

Pendidikan dapat menjadi penentu perkembangan suatu bangsa, dengan adanya pendidikan yang tertata akan menciptakan sumber daya yang berkualitas, cerdas, adaptif dan juga memiliki moral yang baik. Tanpa adanya pendidikan menyebabkan tidak adanya perbedaan manusia generasi saat ini dengan generasi zaman dahulu yang memiliki kehidupan sangat tertinggal dari segi kualitasnya.

Pendidikan merupakan sebuah jalan untuk menciptakan perubahan dalam kehidupan sosial. Tetapi sekarang pendidikan sudah banyak berubah, salah satunya pada bagian tujuan pendidikan itu sendiri.

Tujuan belajar adalah untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat agar mendapatkan pekerjaan atau jabatan yang layak, sehingga dapat merubah keadaan finansial sebagai simbol kesuksesan dan kejayaan.

Namun akhir-akhir ini tujuan belajar berubah, bukan lagi ilmu yang menjadi target belajar, melainkan untuk menggapai harta, tahta dll, serta cara untuk mendapatkannya seringkali melupakan moral, etika, kepatutan, kepantasan, rasa malu bahkan lupa yang mana halal dan haramnya yang mereka lakukan. Sehingga membuat maraknya korupsi, pemerasan, suap-menyuap dan juga penipuan.

Kerap sekali ditemukan manusia yang mudah menyerah, apabila dengan cara baik tidak bisa maka cara pemaksaan dan kekerasanpun dilakukan. Dunia pendidikan sudah seharusnya menerapkan pembaharuan serta perubahan, tetapi pembaharuan yang memiliki paradigma yang jelas dan menjadikan nilai-niai etika, moral, norma dan etos sebagai pedoman.

Pendidikan transformatif merupakan salah satu hal yang unik untuk menyelesaikan masalah sosial tersebut. Pendidikan transformatif lebih menekankan pada pentingnya kontribusi sesama manusia. Tujuan adanya perubahan ini agar sesama manusia dapat menerima tindakan atau kelakuan sesamanya, sehingga menciptakan perilaku tanggung jawab, toleransi, kerjasama, saling membantu dan saling menghormati.

Menurut Muhamad Rozikan dalam prosiding yang ditulisnya, pendidikan transformatif adalah pendidikan yang menempatkan penghormatan kepada hak asasi manusia, yang berarti pula pengakuan terhadap kewajiban asasi manusia untuk saling menghormati manusia dan masyarakat yang berbeda dengan kita.

Baca juga:   Mengejar Kualitas Pendidikan dengan Pembelajaran Tatap Muka

Pendidikan transformatif tidak hanya bergerak pada sisi pengetahuan umum saja, tetapi juga aktif dalam menanamkan akhlakul karimah. Dalam hal ini berarti bahwa orang yang berilmu belum tentu berakhlak baik dan manusia yang berakhlak sudah pasti berilmu.

Jadi mustahil bagi orang yang memiliki akhlak baik tapi tidak berilmu. Disinilah kita perlukan pesantren dalam membantu para santri dalam proses pendidikan yang diterapkan sehingga dapat memahami setiap ilmu dari Allah SWT.

Pesantren sebagai wadah perjuangan dalam upaya melawan proses westernisasi pendidikan yang dilakukan oleh pemerintah Hindia-Belanda untuk membelokkan dan mereduksi potensi perlawanan oleh kaum pribumi.

Indonesia diakhir abad 19 yang masih menggunakan nama Hindia-Belanda saat itu masih dalam situasi terjajah, kemudian muncullah kebijakan politik etis Belanda yang mempengaruhi kebangkitan nasionalisme, serta saling mempengaruhi antara beberapa intelektual didikan Belanda dan ulama didikan tradisi keilmuan Hijaz (Arab) dan mesir.

Banyak para ulama yang telah mendirikan pesantren setelah pulang dari negeri Hijaz. Pesantren bukan sekedar tempat pendidikan ilmu-ilmu Islam semata, tapi sebagai lembaga pendidikan berbasis agama yang menjadi wadah para santri agar dapat mengendalikan diri dari potensi yang dimiliki, baik maupun buruk.

Secara tidak langsung, pesantren juga dapat membantu santri untuk mengembangkan intelektual, menyeimbangkan emosional dan spiritual sehingga dapat membentuk kesatuan yang lengkap.

Tugas pesantren adalah mendidik dan menyiapkan para santri untuk menjadi thaifa mutafaqqihah fid-‘ain, artinya menyiapkan santrinya untuk menjadi kader-kader utama ataupun pengasuh yang mampu meneladani dan mewarisi sifat dan kepribadian para Nabi.

Para Ustaz/Ustazah di pesantren selalu mengajarkan santri mengenai tata krama, sikap rendah hati, jujur dalam berkata dan bersikap dan kebiasaan egaliter (memandang sama kepada manusia).

Bagi seorang santri pelajaran yang paling berharga adalah keteladanan yang di luar pesantren belum tentu diajarkan. Sikap yang sami’na wa atho’na pada kiai akan menjadi tradisi hingga dibawa sebagai sikap hidup.

Baca juga:   Pembelajaran Jarak Jauh Sulit Terapkan Pendidikan Karakter

Ada beberapa penyebab yang mempengaruhi santri dalam mencari ilmu. Pertama, Niat yang menjadi sumber motivasi santri dalam melakukan sesuatu, terutama hal yang positif sesuai jalur Islam. Dengan adanya sebuah motivasi akan menggerakkan keinginan santri menjadi kenyataan melalui usaha nyata yang dilakukan secara istiqomah. Memiliki niat yang tulus yang disandarkan pada ridha Allah dan memgharapkan keberkahannya mengerahkan semangat untuk menjadi orang yang diridhai-Nya.

Sekarang yang cukup fenomenal adalah orang yang melakukan sesuatu dengan niat mendapat suatu hal yang bersifat materiil. Sehingga, apabila sesuatu tersebut tidak tercapai, maka orang tersebut akan lebih frustasi dan cepat putus asa karena kegagalan itu. Seorang santri harus memiliki niat tulus mencari ilmu di jalan-Nya, pasti akan ada hasil yang maksimal.

Kedua, sebagaimana niat, sabar menjadi peras besar dalam setiap persoalan. Tinggi rendahnya kesabaran setiap manusia mempengaruhi kualitas hasil yang didapatkan. Semakin besar tingkat kesabarannya, maka semakin besar pula kualitas hasil yang diperoleh dan sebaliknya. Apabila kemampuan sabar santri untuk bertahan di pesantren sangat kuat maka akan menjadi salah satu pondasi terkuat ketika sedang mencari ilmu.

Ketiga, musyawarah dengan menyesuaikan budaya di pesantren dalam proses pembelajaran untuk menyelesaikan suatu masalah dan membangun jiwa kemandirian santri. Di dalam pembelajaran santri dapat melakukan aktivitas bertukar pikiran dalam masalah tertentu tanpa meletakkan adanya pihak-pihak yang dianggap lebih tinggi dari yang lain.

Keempat, memilih guru dan teman juga merupakan dua komponen yang penting serta memberikan pengaruh yang besar pada tercapainya belajar para santri. Peran guru dalam proses belajar yaitu ikut serta membentuk pola pikir serta karakter santri. Sehingga pesantren harus waspada dalam memilih guru, agar tidak terjadi salah arah dalam menyesuaikan pandangan.

Sedangkan memilih teman juga hal yang utama, karena teman dapat mempengaruhi individual santri apabila dia gampang terpengaruh. Kriteria memilih teman bisa dilihat melalui sifat dan prilakunya, apakah sesuai dengan nilai etika, moral dan sopan santun.

Aulia Widya Huda
Mahasiswa Pendidikan Matematika
Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang

PILIHAN SPONSOR

BACA JUGA
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar