Pengamat Nilai Interupsi PKS di Sidang Paripurna sebagai Strategi ‘Cari Panggung’

sidang-paripurna-DPR
. (foto: detik/Rengga Sencaya)

harianpijar.com, JAKARTA – Interupsi oleh anggota Fraksi PKS, Fahmy Alaydroes, dalam sidang paripurna DPR RI yang menuai polemik dinilai sebagai strategi komunikasi fraksi oposisi tersebut untuk mendapat perhatian publik.

Pasalnya, jika hanya mengandalkan kekuatan politik yang lemah di parlemen saat ini, suara PKS tidak akan terdengar oleh masyarakat luas.

“Kalau bahasa gampangnya ini strategi ‘cari panggung’. Karena PKS sadar kekuatan politik mereka lemah di DPR RI, fraksi oposisi juga lemah. Kalau kita lihat, bukan kali ini saja PKS memanfaatkan interupsi di sidang paripurna untuk memasukkan agenda lain,” ujar Pengajar Komunikasi Politik Universitas Indonesia (UI) Ari Junaedi dalam keterangan tertulis, Selasa, 9 November 2021.

Diketahui dari 575 anggota DPR RI, jumlah anggota fraksi oposisi di DPR hanya 104 anggota atau sebesar 18 persen, yakni Fraksi PKS 50 orang dan Fraksi Partai Demokrat 54 orang. Ari Junaedi menyebut jumlah ini jomplang dengan fraksi pendukung pemerintah yang berjumlah lebih dari 80 persen.

Baca juga:   Tak Memenuhi Unsur, Bareskrim Polri Tolak Laporan PPM Minang Soal Ucapan Puan Maharani

Karena itu, Ari Junaedi menilai jika Fraksi PKS mengandalkan kekuatan politik oposisi untuk mengusung agenda mereka sendiri akan sulit. Terlebih jika agenda tersebut tidak disetujui atau melawan arus fraksi mayoritas pendukung pemerintah.

“Seandainya kekuatan politik PKS dan oposisi kuat, mereka bisa memasukkan agenda yang akan diusung (isu Permendikbud) ke rapat paripurna di rapat Badan Musyawarah. Tapi kan mereka tidak bisa karena terlalu lemah, sehingga tidak bisa mengusulkan agenda lain selain persetujuan calon Panglima TNI yang disetujui mayoritas fraksi,” jelas Ari Junaedi.

“Apalagi agenda rapat paripurna adalah pengesahan atas persetujuan calon panglima TNI yang sudah melalui uji kelayakan dan kepatutan di Komisi I,” tambahnya.

Baca juga:   Tanggapi PDIP Soal Risma Undang Juru Masak, PKS: Pekerjaan Tak Bermutu untuk Ukuran Menteri

Untuk itu, dikatakan Ari Junaedi, Fraksi PKS kemudian menggunakan jalan pintas dengan menginterupsi Ketua DPR Puan Maharani saat rapat paripurna. Karena, menurutnya, mereka tidak bisa mengandalkan kekuatan politik di parlemen.

“Karena mereka tahu di rapat paripurna itu kan banyak kamera, ekspos peliputan medianya tinggi, dan PKS sadar betul ini sebagai jalan pintas untuk mendapat perhatian publik,” ucapnya.

Ari Junaedi mengatakan aksi cari panggung lewat interupsi Fahmy Alaydroes sah-sah saja sebagai strategi komunikasi oposisi yang lemah di parlemen. Namun, hendaknya interupsi itu mengedepankan etika politik.

“Gerutu-gerutu politik tersebut selain tidak elok secara politik, juga seperti kelihatan orang yang patah arang, karena kekuatan politik partainya terlalu lemah untuk mengusulkan agenda. Saya sebut gerutu karena apa yang disampaikan ad hominem, tidak sesuai konteks,” kata Ari Junaedi. (ilfan/det)

PILIHAN SPONSOR

BACA JUGA
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar