Positif Thinking Respons Pernyataan Hasto, Begini Kata Demokrat

Kamhar-Lakumani
Kamhar Lakumani.

harianpijar.com, JAKARTA – Partai Demokrat memilih bersangka baik dalam menanggapi pernyataan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto yang menyebut komunikasi politik Presiden Joko Widodo (Jokowi) tak bisa dengan mengarang lagu atau menulis buku tebal. Partai Demokrat mengatakan, jika pernyataan Hasto Kristiyanto ditujukan untuk Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), maka Hasto Kristiyanto insecure dan gagal move on.

“Tentang kekosongan posisi jubir presiden, ini sepenuhnya menjadi hak prerogatif Presiden Jokowi. Kami akan menghargai dan menghormati keputusan Presiden Jokowi siapapun nantinya yang akan dipilih dan ditugaskan menempati posisi tersebut, termasuk jika Hasto yang mendapatkan penugasan tersebut,” ujar Deputi Bappillu Partai Demokrat Kamhar Lakumani kepada awak media, Selasa, 26 Oktober 2021.

Kamhar Lakumani mengatakan, jika ucapan politik karangan lagu Hasto Kristiyanto ditujukan kepada SBY, maka hal itu tak relevan. Menurutnya, kemampuan SBY di bidang seni adalah anugerah yang luar biasa.

“Terkait pernyataan Hasto, kami berbaik sangka bahwa itu bukanlah insinuasi terhadap Pak SBY, tidak pas dan tidak relevan. Adalah benar bahwa Pak SBY memiliki karya tulis berupa buku dan karya seni, tak hanya lagu saat ini juga berupa lukisan. Ini bakat luar biasa sekaligus tanda keseimbangan fungsi otak kiri dan otak kanan yang optimal dari Pak SBY,” ucapnya.

Baca juga:   Diperiksa sebagai Tersangka, Saeful Bahri Ngaku Ditanya Hubungannya dengan Sekjen PDIP

Kamhar Lakumani pun lalu menjelaskan bagaimana jubir presiden era kepemimpinan SBY selama 10 tahun. Jabatan jubir presiden era SBY, kata dia, mumpuni dan justru populer di masyarakat.

“Menjadi tak relevan sindiran Hasto jika dikaitkan dengan keberadaan jubir kepresidenan, karena meskipun Pak SBY bukan yang pertama menggunakan jubir kepresidenan namun di era Pak SBY lah peran jubir kepresidenan menjadi sangat populer yaitu Bang Andi Mallaranggeng dan Bang Dino Pati Jalal di periode pertama dan Bang Julian Aldrin Pasha di periode kedua. Mereka adalah intelektual-intelektual terkemuka dengan reputasi dan capaian yang mendapatkan pengakuan nasional dan internasional,” ungkapnya.

Memilih gaya politik yang baik dan tak menjelekkan rezim yang berkuasa, Kamhar Lakumani mengatakan Partai Demokrat bersangka baik terhadap pernyataan Hasto Kristiyanto. Justru jika Hasto Kristiyanto menegaskan ucapannya itu untuk SBY, dirinya menyebut Hasto Kristiyanto gagal move on.

“Jadi kami positif thinking merespons pernyataan Hasto tersebut, karena jika dialamatkan ke Pak SBY, hanya semakin menegaskan bahwa Hasto insecure dan gagal move on. Kami berpegang pada fatsun etika politik berbangsa dan bernegara bahwa penguasa yang sedang berkuasa tak patut dan tak pantas untuk menjelek-jelekkan penguasa pendahulunya sebagaimana dulu ditunjukkan di masa pemerintahan SBY tak pernah menghakimi apalagi menjelek-jelekkan pemerintahan Bu Megawati,” kata Kamhar Lakumani.

Baca juga:   Soal Penerbitan Perppu KPK, Jaringan Aktivis Ingatkan Refly Harun Tak Dikte Jokowi

“Negara dan rakyat kita sedang diterpa berbagai persoalan akibat pandemi Covid-19, semestinya semua elemen bangsa bersinergi dan berkolaborasi mengatasi persoalan yang ada, bukan malah sebaliknya. Semoga Hasto terbuka hati dan pikirannya untuk mewujudkan suasana yang lebih teduh dan kondusif,” tambahnya.

Sebelumnya, PDIP menilai ada atau tidaknya jubir presiden berada di tangan Joko Widodo (Jokowi) sebagai kepala negara. Meski begitu, PDIP menyampaikan sejumlah pesan terkait ada-tidaknya jubir Presiden Jokowi kelak.

“Ada-tidaknya jubir presiden merupakan bagian dari ranah kebijakan Presiden tentang perlu-tidaknya posisi tersebut,” ujar Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto kepada awak media, hari ini.

Hasto Kristiyanto mengatakan komunikasi politik seorang Presiden penting dan diperlukan. Namun, dirinya menyebut komunikasi politik itu tak dapat dijalankan hanya dengan mengarang lagu ataupun menulis buku tebal.

“Komunikasi politik Presiden tidak bisa dilakukan dengan mengarang lagu atau menulis buku tebal, namun harus dilakukan proporsional, efektif dan menyentuh hal-hal yang bersifat strategis,” pungkas Hasto Kristiyanto. (ilfan/det)

PILIHAN SPONSOR

BACA JUGA
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar