Jadi ‘Partai Nasakom’ di Survei, PAN: Sudah Tak Kaget, Dibuat Lucu Saja

Viva-Yoga-Mauladi
Viva Yoga Mauladi. (foto: twitter/dpr_ri)

harianpijar.com, JAKARTA – Hasil survei Charta Politika menunjukkan elektabilitas Partai Amanat Nasional (PAN) hanya 1,7 persen. Terkait hal itu, PAN mengaku tidak kaget lagi dalam menanggapi hasil survei.

“Dalam menilai hasil dari lembaga survei, PAN sekarang sudah tidak kaget, tidak panik, dan bahkan terkesan dibuat lucu saja,” ujar Jubir PAN Viva Yoga Mauladi kepada awak media, Jumat, 13 Agustus 2021.

Viva Yoga Mauladi mengatakan sejak 2004 elektabilitas PAN berdasarkan survei selalu berada di kisaran 1-2 persen saja. Namun, saat pemilu perolehan suara PAN justru 500 persen lebih banyak dibandingkan survei.

“Meski PAN masif membuat program dan kegiatan masyarakat, tetapi ketika disurvei hasilnya selalu konstan, menjadi ‘partai nasakom’, partai yang nasibnya satu koma saja, ha-ha-ha…,” kata Viva Yoga Mauladi.

“Kalau berdasarkan survei yang dilakukan lembaga survei tersebut, sejak Pemilu 2004 PAN seharusnya tidak lolos parliamentary threshold. Kenyataannya, hasil perolehan suara PAN di pemilu ternyata berbeda 500 persen dengan hasil survei,” tambahnya.

Viva Yoga Mauladi pun lalu menjabarkan perolehan suara partainya di Pemilu 2004 hingga 2019. Perolehan suara PAN selalu berada di 6 persen.

“Di Pemilu 2004 PAN memperoleh suara nasional sebesar 6,44 persen, Pemilu 2009 sebesar 6,01 persen, Pemilu 2014 sebesar 7,59 persen, dan Pemilu 2019 sebesar 6,84 persen. Jadi ada perbedaan sebesar 500 persen antara prediksi melalui hasil survei oleh para lembaga survei dengan hasil resmi pemilu yang ditetapkan oleh KPU,” ungkapnya.

Baca juga:   Tanggapi Survei Pilpres 2024 Median, Desmond: Prabowo Presiden, Anies Wapresnya

Selanjutnya, Viva Yoga Mauladi balik mempertanyakan mengapa hasil survei justru berbeda signifikan dengan perolehan suara sebenarnya dalam pemilu. PAN, kata dia, beberapa kali menanyakan hal itu ke lembaga survei terkait, namun selalu tidak mendapatkan penjelasan yang rasional dan ilmiah.

“Salah satu alasan para surveyor ketika kami menanyakan mengapa hasil survei selalu berbeda dengan hasil pemilu, mereka menjawab, ‘karena yang berperan penting adalah pergerakan para caleg PAN sehingga hasil pemilu berbeda dengan hasil survei’,” ujar Viva Yoga Mauladi.

“Beberapa kali ‘hasil survei aneh bin ajaib untuk PAN’ kita tanyakan kepada surveyor. Tetapi mereka tidak dapat memberi penjelasan secara rasional, saintifik, dan ilmiah,” imbuhnya.

Meski demikian, PAN tetap mengapresiasi survei yang dilakukan Charta Politika. PAN menyebut hasil survei Charta Politika memperkaya informasi dalam merumuskan rencana kebijakan untuk pemenangan Pemilu 2024.

Di sisi lain, PAN sendiri juga secara rutin dan berkala melakukan survei dengan menggandeng lembaga independen untuk memprediksi berbagai hal, mulai elektabilitas, prioritas program, dan lain-lain yang dibutuhkan. Viva Yoga Mauladi mengatakan hasil survei internal PAN sejak 2004 memang selalu berbeda dengan lembaga survei seperti Charta Politika.

Baca juga:   Mundur dari PAN, Begini Kata Faldo Maldini Soal Isu Pindah ke PSI

“PAN sampai saat ini masih terus melaksanakan program-program kemanusiaan dengan vaksinasi, pemberian obat dan vitamin, serta pembagian sembako,” pungkasnya.

Sebelumnya, hasil survei Charta Politika menyatakan elektabilitas PDIP tertinggi di antara partai-partai lain. Dari sejumlah partai, ada dua yang mengalami peningkatan elektabilitas, yaitu Partai Gerindra dan Partai Demokrat.

Survei tersebut dilakukan tatap muka dengan metode multistage random sampling pada periode 12-20 Juli 2021. Adapun jumlah responden dalam survei ini 1.200 orang dari seluruh wilayah Indonesia, dengan margin of error 2,83 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Berikut elektabilitas partai berdasarkan survei Charta Politika:

PDIP: 22,8 persen
Partai Gerindra: 17,5 persen
PKB: 9,4 persen
PKS: 6,8 persen
Partai Demokrat: 6,6 persen
Partai Golkar: 6,6 persen
Partai NasDem: 4,8 persen
PPP: 2,3 persen
PAN: 1,7 persen
PSI: 1,2 persen
Partai Perindo: 0,7 persen
Partai Gelora: 0,3 persen
Partai Hanura: 0,3 persen
Partai Ummat: 0,2 persen
PKPI: 0,1 persen
PBB: 0,1 persen
Partai Berkarya: 0,1 persen
Tidak tahu/tidak jawab: 0,1 persen

. (msy/det)

PILIHAN SPONSOR

BACA JUGA
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar