Pengamat Nilai KLB Partai Demokrat Terjadi karena Bergabungnya 2 Musuh SBY

Moeldoko-di-KLB-Partai-Demokrat
Moeldoko menghadiri KLB Partai Demokrat. (foto: detik/Ahmad Arfah)

harianpijar.com, JAKARTA – Hajatan politik yang dilabeli Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat benar-benar terjadi di Deli Serdang, Sumatera Utara, untuk menetapkan Moeldoko sebagai Ketua Umum. KLB itu ditengarai bisa terjadi karena kerja dari dua musuh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Pengamat politik yang juga Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodari, menilai ada motivasi dendam politik di balik pelaksanaan KLB. Menurutnya, perpecahan di internal Partai Demokrat akibat Kongres 2010 masih terjadi.

“Saya lihat gini, memang ada dendam politik, tapi lebih kepada dendam politik orang-orang yang dulu berseteru dengan katakanlah Cikeas. Jadi menurut saya ini residu dari pertarungan politik 2010, dan akumulasi selanjutnya,” ujar M Qodari saat dihubungi detik, Jumat, 5 Maret 2021.

Pada Kongres Partai Demokrat 2010, SBY yang menjagokan Andi Mallarangeng kalah dari Anas Urbaningrum yang terpilih sebagai Ketum pada periode itu. M Qodari mengatakan saat itu Anas Urbaningrum juga menguasai DPC dan DPD.

“Kalau kita lihat 2010 itu kan SBY kan kaget ya karena calonnya jagoannya kalah, Andi Mallarangeng kalah telak, cuma dapat 82 suara dari 527 suara, cuma 15% aja, lalu Anas Urbaningrum terpilih, memang ada akomodasi berupa Ibas jadi Sekjen kan begitu. Lalu setelah itu di daerah terjadi Musda di DPD dan DPC, dan terjadi dinamika baru bahwa yang menang itu orangnya Anas semua, sehingga akhirnya Anas menguasai Partai Demokrat,” paparnya.

Baca juga:   Moeldoko: Sekarang Ini Banyak yang Mengklaim Paling Benar dengan Agamanya

Namun, dikatakan M Qodari, kekuasaaan Anas Urbaningrum di Partai Demokrat terhenti ketika tersandung kasus dan ditetapkan sebagai tersangka korupsi pada 2013. Saat itulah KLB 2013 terjadi dan menurutnya terbentuk pula perjanjian antara Anas Urbaningrum dan SBY terkait persyaratan SBY menjadi ketum.

“Anas menjadi tersangka, begitu tersangka, berhenti jadi ketum muncul lah namanya KLB 2013. Nah KLB 2013 Marzuki Alie mau maju jadi ketua umum, Anas juga mundur dan katakanlah membuka pintu bagi (SBY) KLB gitu ya, kan di daerah orang dia semua, orang Anas semua itu dia, nah membuka pintu bagi kongres itu dengan catatan orang-orang Anas diakomodasi oleh SBY itu,” sebutnya.

Namun pada kenyataannya, menurut M Qodari, SBY tidak pernah mengakomodasi orang-orang Anas Urbaningrum, dan Marzuki Alie juga menjadi korban perjanjian Anas Urbaningrum dan SBY. Dirinya menilai dari sinilah dendam itu muncul dan terjadilah KLB Partai Demorkat dengan pencetus orang-orang Anas Urbaningrum dan Marzuki Alie.

“Nah menurut yang saya dengar orang-orang Anas itu tidak diakomodasi, jadi istilahnya kubu Anas tersingkir, Marzuki Alie juga makin tersingkir juga. Nah itu yang menjelaskan kalau kita lihat pemain utama pada hari ini itu kan misalnya Jhoni Allen Marbun, siapa Jhoni Allen? itu motor dan operatornya Anas Urbaningrum tahun 2010, katanya di situ ada Nazar (Nazaruddin), itu kan timnya Anas juga, dan Nazar bendaharanya Demokrat waktu itu, lalu siapa? Marzuki Alie walau Marzuki mengatakan ‘sebetulnya saya tidak terlibat, tapi karena saya dipecat ya saya tidak ada pilihan lagi, ya sudah saya melawan’, jadi ini sebetulnya bergabungnya 2 musuh SBY,” kata M Qodari.

Baca juga:   Pengamat: Partai Demokrat Jangan Paksakan Usung Capres Yang Belum Penuhi Kriteria

Selain itu, M Qodari juga menganalisis ada 2 persoalan masa kini dan masa depan yang menyebabkan akumulasi keinginan KLB semakin besar.

“Masalah di masa lalu adalah soal partai katanya Demokrat mau jadi partai terbuka tapi kok sekarang jadi partai keluarga, ya sulit dibantah itu soal partai keluarga dari AD/ART itu saling mengunci itu. Kemudian janji politik, akomodasi kubu Anas dan kubu Marzuki yang tidak terjadi. Lalu masalah sekarang pro kontra misalnya soal iuran dari daerah ditarik ke pusat, kemudian dari daerah dimintain dana tapi nggak dibalikin lagi untuk pilkada nggak sesuai janji, lalu masa depan adalah soal nasib Demokrat apakah suara naik apa turun, nah 3 masalah ini sebetulnya berakumulasi,” pungkas M Qodari. (ilfan/det)

PILIHAN SPONSOR

BACA JUGA
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar