Pandemi Belum Usai, Pengrajin Genting Girimarto Keluhkan Omsetnya Merosot

Pengrajin-Genting
Produksi genting di Desa Kendal. (foto: dok pribadi)

harianpijar.com, WONOGIRI – Sebelum usainya pandemi COVID-19 sejumlah pengrajin disentra produksi genting di Desa Kendal, Kecamatan Girimarto, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah mengeluhkan omset produksi menurun drastis.

Desa Kendal merupakan salah satu sentra produksi genting di Wonogiri mengeluhkan merosotnya produksi imbas dari krisis ekonomi yang diakibatkan oleh pandemi yang tak kunjung usai. Diperkirakan omset merosot hingga 50% dari produksi sebelum pandemi.

Salah satu produsen genting di Desa Kendal, Sulastri (45), UD Usaha Baru miliknya mengalami penurunan omset yang sangat signifikan sejak awal pandemi Maret 2020.

“Dari awal COVID Maret 2020, omset saya menurun drastis. Toko bangunan yang biasanya memesan mulai mengurangi pemesanan ke pabrik kami, mungkin karena daya beli masyarakat berkurang karena krisis mas,” ujar Sulastri belum lama ini.

“Mungkin masyarakat yang akan membagun rumah menunda terlebih dahulu, sampai kondisi kembali membaik,” tambahnya.

Produsen mengeluhkan harga beli bahan baku genting dan kayu bakar untuk tobongan semakin mahal. Tak hanya itu, pengrajin juga masih harus mengeluarkan biaya operasional setiap harinya untuk menunjang mobilitas. Sementara produksi menurun drastis sampai dengan setengah dari produksi sebelum pandemi.

Baca juga:   Pemkab Luwu Utara Terus Genjot Vaksinasi Covid-19

Daya beli yang berkurang karena imbas pandemi membuat kondisi perekonomian masyarakat menjadi tidak stabil dan cenderung mengalami krisis. Permintaan dari toko bangunan juga tidak sebanyak sebelum pandemi. Kesulitan distribusi keluar daerah menambah lagi permasalahan produsen genting.

Pembeli enggan datang ke pabrik karena khawatir terpapar virus. Para produsen mengandalkan pesanan melalui online saja. Pengrajin yang hanya menggantungkan perekonomiannya pada produksi genting sangat merasakan penurunan omset.

Hal ini ditambah berbarengan dengan musim penghujan sehingga produksi tidak bisa dilakukan secara maksimal karena tetap mengandalkan panas matahari untuk pengeringan genting.

Senada dengan Sulastri, produsen genting UD Putra Mandiri milik Sutino (50) juga mengalami permasalahan yang sama.

“Biasanya kami sebulan bisa memproduksi 9000 genting perbulan mas, itu saja kadang masih bisa bertambah lagi. Sementara pada pandemi ini kami selama 2 bulan baru bisa membakar 9000 genting,” tutur Sutino.

Baca juga:   Moeldoko Pastikan Vaksinasi COVID-19 ke Presiden Tak Ada Beda dengan yang Lain

“Bahan baku harganya tetap standar tetapi produksi tidak bisa maksimal seperti biasanya. Kami ya hanya mengandalkan pesana via online saja, mungkin pembeli takut ke pabrik karena adanya pandemi ini,” sambungnya.

Untuk itu, para produsen berharap kondisi perekonomian segera membaik seperti sedia kala. Mereka berharap permintaan produksi genting segera membaik seperti semula.

Dikhawatirkan apabila kondisi terus seperti ini para pengrajin mengalami kerugian yang signifikan bahkan mengancam kelangsungan usahanya. Apabila kondisi seperti ini terus berlanjut mau tidak mau mereka harus menanggung kerugian.

“Kita tetap patuh sama protokol pemerintah, ya harapan kami pandemi segera usai dan kembali seperti semula, ekonomi segera bangkit,” pungkas Sutino.

Agus Adhi Sasongko
Mahasiswa Kurikulum dan Teknologi Pendidikan
Fakultas Ilmu Pendidikan – Universitas Negeri Semarang (UNNES)

PILIHAN SPONSOR

BACA JUGA
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar