Ibrahim-Tompo
Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Ibrahim Tompo. (foto: detik/Hermawan)

harianpijar.com, MAKASSAR – Polda Sulawesi Selatan (Sulsel) menyatakan sudah menerima laporan polisi terkait rekaman calon Wali Kota Makassar, Danny Pomanto, yang menyinggung mantan Wapres Jusuf Kalla (JK) di balik penangkapan Edhy Prabowo oleh KPK. Polda Sulsel mengatakan pihaknya akan menyelidiki laporan tersebut.

“Laporan sudah diterima dan akan kita proses,” ujar Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Ibrahim Tompo seperti dilansir dari detik, Sabtu, 5 Desember 2020.

Ibrahim Tompo tak menyebut siapa nama pelapor. Hanya saja dirinya menyebut penyelidikan atas laporan itu tengah dilakukan.

“Saat ini masih progress lidik,” kata Ibrahim Tompo.

Sebelumnya, beredar sebuah video berisi rekaman suara yang menyebut JK berada di balik penangkapan Edhy Prabowo. Danny Pomanto mengaku suara dalam rekaman itu adalah suaranya.

Video berdurasi 1 menit 58 detik itu menampilkan wajah Danny Pomanto, kemudian beralih pada sebuah percakapan yang membahas soal penangkapan Edhy Prabowo.

Makanya, kalau urusannya Edhy Prabowo ini, kalau Novel (Baswedan) yang tangkap, itu berarti JK (Jusuf Kalla). JK-Anies tuh. Maksudnya kontrolnya di JK. Artinya begini, dia sudah menyerang Prabowo. Yang kedua, nanti seolah-olah Pak Jokowi yang suruh, Prabowo dan Jokowi baku tabrak. Ini kan politik. Kemudian mengalihkan (isu) Habib Rizieq. Ini mau digeser JK dan Habib Rizieq. JK yang main, karena JK yang paling diuntungkan dengan tertangkapnya Edhy Prabowo. Coba siapa yang paling diuntungkan. JK lagi dihantam, beralih ke Edhy Prabowo kan. Kedua, Prabowo yang turun karena dianggap bahwa korupsi pale di sini, calon presiden to. Berarti Anies dan JK yang diuntungkan. Apalagi mengkhianati Jokowi. Jadi yang paling untung ini JK. Chaplin yang untung. Jago memang mainnya. Tapi kalau kita hafal apa yang dia mau main ini,” kata Danny Pomanto dalam rekaman yang beredar.

Baca juga:   JK: Masyarakat Papua Diharapkan Dapat Terima Permintaan Maaf

Danny Pomanto mengungkapkan ucapannya dalam rekaman hanyalah analisis politik saat dirinya berbincang bersama beberapa orang di rumahnya. Namun, ternyata ada yang merekam perbincangan itu.

“Jadi itu adalah percakapan di dalam rumah saya. Dalam rumah saya orang rekam. Jadi sebenarnya itu adalah percakapan biasa, analisis politik dan hak setiap orang kan begitu. Sebenarnya saya korban ini. Kenapa ada yang rekam dan sebar. Aneh,” ujar Danny Pomanto.

Baca juga:   JK: Usulan 10 Pimpinan MPR Berlebihan

“Orang tanya bagaimana dampaknya dan saya terangkan tidak ada karena ini konstelasi nasional. Ini perbincangan pribadi, diskusi gitu,” tambahnya.

Sementara itu, juru bicara JK, Husain Abdullah, juga telah merespons soal beredarnya rekaman Danny Pomanto. Menurutnya, tuduhan yang diarahkan kepada JK mengandung unsur fitnah.

“Saya cuma mau bilang, salah apa Pak JK kepada Danny Pomanto sehingga tega-teganya memfitnah seperti itu. Danny seperti tidak punya lagi sopan santun, sipakalebbi sedikit pun kepada sosok yang dihormati semua kalangan. Saya yakin kalau orang Bugis-Makassar tidak gampang mengumbar fitnah seperti karena secara budaya dan agama tahu risikonya, bahwa fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Coba Anda bayangkan, Pak JK di Jakarta dengan segala aktivitas sosial tidak mengusik orang lain, termasuk Danny Pomanto, tiba-tiba dia melontar pernyataan yang tidak masuk akal,” ujar Husain Abdullah saat dikonfirmasi terpisah.

“Dari omongan Danny yang begitu lancar tanpa rasa bersalah sedikit pun, mungkin saja Danny sudah biasa menyebar fitnah tentang Pak JK,” tukasnya. (msy/det)

BERITA PILIHAN

BACA JUGA
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar