Entrepreneur
Ilustrasi.

harianpijar.com – Semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi entrepreneur. Dengan memulai usaha sendiri, kita bisa mendapatkan kebebasan finansial, menjadi orang yang sukses serta dihormati di masyarakat.

Meski banyak orang yang memiliki ide bisnis yang cemerlang, tidak semua dari mereka berhasil merealisasikannya dan menjadi seorang entrepreneur.

Ketika ditanya mengapa mereka tidak berani berwirausaha? Kekurangan modal, pengetahuan dan koneksi menjadi faktor utama mereka tidak bisa berwirausaha.

Terlepas dari faktor-faktor diatas, ada banyak sosok inspiratif seperti pendiri Alibaba Group, Jack Ma, yang memulai usahanya dalam kondisi yang serba terbatas.

Lantas, mengapa tidak semua orang pada akhirnya menjadi entrepreneur? Bagaimana dengan karyawan yang sudah bekerja lama di perusahaan, memiliki tabungan yang cukup mapan, pengetahuan yang mendalam dan koneksi yang banyak, namun tetap belum berani meninggalkan zona nyamannya untuk mencoba peruntungannya sendiri sebagai entrepreneur?

Konsultan perencanaan usaha dan peneliti di bidang kewirausahaan, Donny Susilo, membeberkan rahasia dibalik fenomena tersebut. Setelah sekian lama berkecimpung membantu wirausahawan di Indonesia, ditemukan fakta bahwa perbedaan terbesar antara orang yang sukses dan tidak sukses terletak pada mindset.

Mindset adalah pemikiran yang membentuk pandangan kita terhadap sesuatu, pemikiran bisa menjadi senjata terkuat kita namun juga terkadang merupakan musuh terkuat kita untuk bisa sukses.

Pemikiran yang pesimis akan memberikan kita beribu alasan untuk tidak melakukan sesuatu, hal ini disebut dengan fixed mindset. Sebenarnya fixed mindset tidaklah buruk, karena bertindak sebagai sebuah alert system, yang tujuan aslinya adalah untuk membuat kita aman dari perubahan yang tidak pasti.

Oleh karena itu, orang yang pesimis akan lebih cenderung mencari faktor kegagalan dibandingkan solusinya. Sedangkan sebaliknya, kita butuh mindset yang selalu mencari solusi dibandingkan faktor kegagalan, hal ini disebut dengan growth mindset.

Jadi, bagaimana membangun growth mindset agar berani berwirausaha? Solusi terbaiknya adalah memahami apa yang diinginkannya agar kemudian dapat melakukan kompromi dengannya.

Baca juga:   Taklukkan HRD dengan CV Anti Nganggur

Mindset akan berubah ketika ada tekanan motivasi-motivasi yang lebih kuat dari dalam diri kita, salah satu cara memunculkan motivasi dari dalam adalah melakukan apa yang menjadi kesukaan kita, atau yang biasa disebut dengan passion.

Pada kenyatannya, menemukan passion adalah hal yang gampang-gampang susah. Apa hal yang paling ingin kita lakukan? Apa yang paling kita senangi? Sering kali kita salah dalam mengenali passion kita sendiri.

Sebenarnya ada 2 cara dalam mengindentifikasi passion. Pertama adalah dengan memperhatikan hal apa yang paling sering kita lakukan atau yang biasa disebut dengan hobi.

Namun, hal ini tidak selalu berhasil karena tidak semua passion mampu kita jadikan hobi, contohnya orang yang tidak mempunyai mobil mewah, bisa jadi dia memiliki passion di dunia otomotif, dan orang yang tidak pernah keliling dunia, bisa jadi dia memiliki passion di bidang travelling, bisa jadi dia menyukainya tetapi mereka tidak mampu untuk melakukannya karena keterbatasan fisik dan finansial.

Oleh karena itu, ada cara kedua yang dapat digunkaan untuk mengindentifikasi passion, yaitu dengan mengamati apa yang paling sering kita kritik dan komentari. Orang yang selalu memberikan komentar mengenai cara mengajar gurunya di sekolah, kemungkinan besar memiliki passion dalam mengajar, sedangkan orang yang suka membahas busana yang dipakai orang-orang sekelilingnya, bisa jadi memiliki passion di bidang fashion dan beauty.

Ketika kita melakukan apa yang kita suka, ini akan membuat pemikiran kita semakin optimis karena kita semakin percaya pada diri kita sendiri.

Kita akan mencari alasan untuk melakukannya dibandingkan tidak melakukannya, hal itu juga karena growth mindset kita mendukung efisiensi waktu yang kita bisa dapatkan dengan melakukan apa yang disukai dan mencari uang dalam waktu yang bersamaan.

Baca juga:   Harta, Tahta, Nyawa: Siasat Menyikapi Corona

Selain itu, kita harus mengenali apakah diri kita termasuk jenis orang yang suka dengan resiko atau tidak. Orang yang suka dengan resiko, biasanya akan langsung menyewa kantor, merekrut karyawan dan mendaftarkan usahanya.

Namun orang yang tidak suka dengan resiko, biasanya mereka memulai usahanya secara kecil-kecilan, orang-orang seperti inilah yang sering tidak mendapatkan dukungan dari keluarganya, terutama jika dia berpendidikan tinggi karena memulai usaha secara kecil-kecil dianggap menurunkan harga diri dan tidak sesuai dengan levelnya.

Pada kenyatannya mereka melakukan itu untuk melihat respons pasar sebelum nantinya mengeluarkan modal yang lebih besar lagi, orang-orang semacam ini jika tidak diberi kesempatan untuk memulai dengan skala yang kecil, mereka biasanya tidak akan pernah berani berwirausaha.

Mindset yang mereka miliki menetapkan batas-batas toleransi sendiri yang menjadi pengaman mereka tidak jatuh terlalu dalam pada situasi yang tidak pasti, oleh karena itu mereka akan melakukannya setahap demi setahap.

Seringkali kita berusaha mengubah pemikiran kita dengan mengikuti seminar motivasi, namun tidak selalu cara ini berhasil. Hal tersebut terjadi karena motivator memberikan dorongan dari luar, menceritakan mengenai dirinya sendiri dan orang lain namun membantu kita untuk mengenali diri kita sendiri dari dalam, tentu mereka tidak bisa melakukannya karena mereka tidak punya kesempatan untuk berbicara secara pribadi dengan kita.

Oleh karena itu, cobalah untuk memulai dari mengenal diri sendiri karena pemikiran adalah aset terbesar dalam mencapai kesuksesan berwirausaha.

“Perbedaan terbesar orang sukses dan gagal adalah pada mindset, mereka memiliki tangan yang sama, kaki yang sama, kebebasan yang sama untuk berusaha dan apalagi di dukung oleh dunia digital, mereka memiliki kesempatan yang sama untuk belajar”.

Donny-Susilo

Donny Susilo, MBA
Pendiri Donny and Partners Business Consulting Indonesia dan Peneliti Kewirausahaan dari Asia University, Taiwan.

BACA JUGA
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar