Yaqut-Cholil-Qoumas
Yaqut Cholil Qoumas. (foto: MI/Ramdani)

harianpijar.com, JAKARTA – Sugi Nur Rahardja alias Gus Nur, yang ditetapkan sebagai tersangka kasus ujaran kebencian, merasa benar dan tak ingin menarik perkataannya terkait Nahdlatul Ulama (NU). GP Ansor pun heran dengan Gus Nur yang menyebut ungkapannya sebagai bentuk rasa sayang kepada NU.

“Ya memang pantas dihukum seberat-beratnya dan seadil-adilnya. Mana ada ungkapan kebencian, hasutan dan fitnah seperti itu kok ungkapan rasa sayang,” ujar Ketum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut) kepada detik, Jumat, 30 Oktober 2020.

Gus Yaqut berpesan agar Gus Nur tidak mengulangi perbuatannya. Dirinya menyebut Gus Nur akan kembali berurusan dengan hukum jika tindakan itu diulang.

“Soal dia nggak akan jera meskipun di penjara, kita lihat nanti selepas dia keluar dari hukuman. Jika tetap masih sama saja, dia pasti akan berhadapan dengan hukum lagi,” ucapnya.

Baca juga:   Gus Yaqut: Kader GP Ansor Tidak Boleh Abaikan Masalah Politik

Terlepas dari hal itu, Gus Yaqut menyatakan bahwa NU sangat terbuka dengan kritik. “Sangat terbuka untuk kritik. Karena itu vitamin dan menyehatkan,” kata Gus Yaqut.

Sebagaimana diketahui, dalam video yang tayang di akun YouTube MUNJIAT Channel, Gus Nur berbincang dengan Refly Harun. Video itu diunggah pada 16 Oktober 2020.

Pada menit 03.45 di video tersebut, Gus Nur menyampaikan pendapatnya soal kondisi NU saat ini. Menurutnya, NU saat ini tidak seperti NU yang dulu.

“Sebelum rezim ini, ke mana jalan dikawal Banser. Saya adem ayem sama NU. Ndak pernah ada masalah. Nah, tapi setelah rezim ini lahir tiba-tiba 180 derajat itu berubah,” ungkap Gus Nur dalam video itu.

“Saya ibaratkan NU sekarang itu seperti bus umum. Sopirnya mabuk, kondekturnya teler, kernetnya ugal-ugalan. Dan penumpangnya itu kurang ajar semua. Merokok, nyanyi juga, buka-buka aurat juga, dangdutan juga,” imbuhnya.

Baca juga:   Laporkan Gus Muwafiq, GP Ansor Minta FPI Lebih Perhatian Urus Perpanjangan SKT

Gus Nur lalu menyebut sejumlah nama. Dirinya menyebut nama pegiat media sosial Permadi Arya atau Abu Janda, Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas, hingga Ketum PBNU Said Aqil Siroj.

“Jadi saya kok pusing dengerin di bus yang namanya NU ini. Ya tadi itu, bisa jadi keneknya Abu Janda. Bisa jadi kondekturnya Gus Yaqut. Dan sopirnya KH Aqil Siroj. Penumpangnya liberal, sekuler, PKI di situ numpuk,” sebutnya.

Gus Nur juga tetap merasa benar dan tak ingin menarik ucapannya. Menurutnya, ungkapannya itu sebagai bentuk rasa sayang.

“Kalau orang NU kritik NU itu namanya sayang, nggak mungkinlah menjatuhkan. Benci apalagi, ndak. Karena sayang,” ujar Gus Nur kepada detik di Bareskrim Mabes Polri, Rabu, 28 Oktober 2020. (nuch/det)

BACA JUGA
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar