Prabowo-Subianto
Prabowo Subianto. (foto: Antara Foto)

harianpijar.com, JAKARTA – Menhan Prabowo Subianto akhirnya kembali mendapatkan visa dan diundang ke Amerika Serikat (AS) pekan depan. Terkait hal itu, Pemerintah Indonesia diminta memastikan keamanan Prabowo Subianto saat berada di Negari Paman Sam.

Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana mengungkapkan permintaan itu bukan tanpa alasan. Pasalnya, selama 20 tahun ini AS menolak memberikan visa kepada Prabowo Subianto karena dugaan keterlibatannya dalam kasus pelanggaran HAM di Timor Timur.

“Amerika Serikat selama ini menolak memberikan visa berkunjung kepada Prabowo karena keterlibatannya pada masa lalu di Timor Timur. Namun demikian Prabowo harus hati-hati saat mengunjungi AS,” ujar Hikmahanto Juwana dalam keterangan tertulis, Minggu, 11 Oktober 2020.

Hikmahanto Juwana mengatakan pemerintah Indonesia harus meminta jaminan dari pemerintah AS terkait keamanan Ketum Partai Gerindra itu. Terutama terkait jaminan agar Prabowo Subianto tidak diseret ke pengadilan di AS.

“Pemerintah Indonesia wajib meminta jaminan agar Prabowo saat di AS tidak diseret oleh siapa pun ke pengadilan. Terutama korban atau keluarga korban Timor Timur yang bermukim di AS. Perwakilan Indonesia di AS pun harus mencermati kemungkinan adanya gugatan ke Prabowo baik sebelum maupun saat kedatangannya,” jelasnya.

Lebih lanjut, Hikmahanto Juwana menilai diseretnya Prabowo Subianto saat berada di AS ke pengadilan sangat mungkin terjadi. Mengingat, hal itu diatur dalam undang-undang di negara tersebut.

“Dalam hukum AS, ada dua undang-undang yang memungkinkan warga negara asing digugat atas tuduhan penyiksaan dan pembunuhan. Dua undang-undang tersebut adalah Alien Tort Claims Act 1789 dan Torture Victim Protection Act 1992. Berdasarkan undang-undang ini korban atau keluarga korban yang mengalami penyiksaan dan pembantaian (extrajudicial killing) di luar AS dapat menggugat pelaku saat keberadaannya di AS. Gugatan diajukan untuk memperoleh ganti rugi,” kata Hikmahanto Juwana.

Baca juga:   Gerindra Tak Masalah Jika Kembali Jadi Oposisi di Pemerintahan Jokowi

Hikmahanto Juwana mengatakan kasus diseretnya WNI ke pengadilan di luar negeri beberapa kali terjadi. Misalnya kasus mantan Komandan Pusat Sandhi Yudha (kini bernama Kopassus) Letjen TNI (Purn) Sintong Panjaitan pada 1994 hingga kasus mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso pada 2007.

“Di masa lalu, Sintong Panjaitan (1994) dan Johny Lumintang (2001) saat berada di AS mendapat surat panggilan untuk menghadap pengadilan. Mereka pun mengambil keputusan untuk segera meninggalkan AS. Kasus lain terjadi di Australia tahun 2007 ketika Sutiyoso sebagai Gubernur DKI diberikan panggilan oleh polisi untuk menghadap pengadilan di New South Wales. Panggilan berkaitan dengan kasus kematian 5 jurnalis Australia yang dikenal sebagai Balibo 5,” paparnya.

Selain itu, dikatakan Hikmahanto Juwana, hal yang sama terjadi pada Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat akan berkunjung ke Belanda. Saat itu, SBY terpaksa membatalkan kunjungannya lantaran pemerintah Belanda tidak menjamin keamanannya dari tuntutan pengadilan setempat.

“Bahkan Susilo Bambang Yudhoyono saat menjadi Presiden di tahun 2010 harus membatalkan kunjungannya ke Belanda. Saat itu RMS mengajukan tuntutan ke pengadilan setempat agar SBY menghadap untuk mempertanggungjawabkan masalah HAM di Indonesia,” ujar Hikmahanto Juwana.

“Pemerintah Indonesia meminta jaminan kepada pemerintah Belanda agar SBY aman dari tuntutan. Namun pemerintah Belanda tidak bisa memberikan jaminan tersebut sehingga kunjungan pun dibatalkan pada menit-menit terakhir,” imbuhnya.

Meski begitu, Hikmahanto Juwana menilai kunjungan Prabowo Subianto ini berperan penting dalam upaya Indonesia menunjukkan ketidakberpihakan dalam ketegangan antara AS dan China di Laut China Selatan. Menurutnya, undangan AS ini merupakan strategi AS menghadapi China lantaran Indonesia diprediksi akan jatuh ke tangan China.

Baca juga:   Prabowo Minta Maaf ke SBY Lantaran Sempat Tunda Jenguk Ani Yudhoyono

“Indonesia diprediksi oleh AS akan jatuh ke tangan China dengan ketergantungan ekonominya dan mudah dikendalikan oleh China. Padahal Indonesia adalah negara strategis dan memiliki peran yang sentral di kawasan Asia Pasifik, baik untuk AS maupun China. Oleh karenanya Menhan AS mengundang Menhan Indonesia untuk memperkuat kerjasama pertahanan kedua negara. Tapi di balik kerjasama itu AS ingin agar Indonesia tidak jatuh dalam perangkap China. AS juga ingin memberi pesan kepada China bahwa Indonesia berpihak kepada AS, utamanya dalam ketegangan AS-China di Laut China Selatan,” ujar Hikmahanto Juwana.

Karena itu, menurut Hikmahanto Juwana, Prabowo Subianto tetap harus menghadiri undangan Menhan AS. Namun, dengan catatan, keamanan mantan Danjen Kopassus itu untuk tak diseret ke pengadilan harus dijamin pemerintah AS.

“Dalam konteks ini Menhan Indonesia harus tetap berangkat ke AS untuk menghadiri undangan Menhan AS. Keberangkatannya untuk menegaskan bahwa Indonesia bersahabat dengan siapa pun negara. Namun demikian, keberangkatan Menhan Prabowo harus mendapat jaminan dari pemerintah AS agar Prabowo tidak diseret ke lembaga peradilan atas dugaan pelanggaran HAM masa lalu,” jelasnya.

Seperti dikutip dari detik, awak media telah menghubungi juru bicara Prabowo Subianto, Dahnil Anzar Simanjuntak, terkait kekhawatiran Hikmahanto Juwana ini tapi belum mendapat respons.

Sebelumnya, Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan kunjungan Prabowo Subianto ke AS ini merupakan undangan dari Menhan Amerika Serikat.

“Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto diundang oleh Pemerintah Amerika Serikat melalui Menteri Pertahanan Amerika Serikat Mark Esper untuk berkunjung ke Amerika Serikat pada tanggal 15-19 Oktober 2020,” ujar Dahnil Anzar Simanjuntak dalam keterangan tertulis, Kamis, 8 Oktober 2020. (nuch/det)

BACA JUGA
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar