M-Qodari
Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari. (foto: detik/Ari Saputra)

harianpijar.com, JAKARTA – Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama (BTP) atau Ahok mengungkap kebobrokan di dalam direksi perseroan tersebut. Sikap Ahok ini membuat sejumlah orang geram, mantan Gubernur DKI Jakarta itu dinilai buruk dalam berkomunikasi dan mengelola tata kata.

“Ya memang inikan penyakitnya Ahok ya, Ahok inikan punya 2 sisi istilahnya itu Jack Kill, Mr Jack Kill and Mr Hide, di satu sisi kalau saya percaya dengan kesungguhan dengan kejujuran Ahok untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik dimanapun institusi dia berada, tetapi di sisi lain dia memiliki kelemahan, dalam soal komunikasi. Komunikasinya cenderung katakanlah bombastis, yang kedua, sering tidak bisa membedakan kapan dan di mana, waktu yang tepat untuk berbicara,” kata Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari kepada detik, Rabu, 16 September 2020.

Lebih lanjut, Qodari menilai cara komunikasi Ahok yang terkesan bombastis ini sering menjadi blunder dan justru menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Dia lantas mengungkit seperti kasus Ahok saat Pilkada DKI Jakarta 2017 yang menyeretnya ke bui dan ditahan di Mako Brimob.

Menurut Qodari, Ahok tidak cocok bekerja di bidang pemerintahan. Ahok, kata dia, lebih cocok bekerja di perusahaan swasta jika cara berkomunikasinya tidak berubah.

“Yang namanya pejabat publik, entah yang dipilih langsung menjadi kepala daerah, atau yang ditunjuk menjadi menteri, atau bagian dari sebuah BUMN seperti Pertamina, ini memang hemat saya nggak begitu cocok untuk Pak Ahok, karena gaya dan kepribadian Pak Ahok ternyata tidak berubah,” ujar Qodari.

Baca juga:   Kakak Angkat Ahok: Sebulan Ahok Dipenjara, Veronica dan Anak-Anak Sedang Hadapi Ujian

“Kalau Ahok menjadi pejabat di ranah swasta, perusahaan swasta, yang tidak berhubungan dengan banyak orang, dgn kepentingan banyak orang, ya cara komunikasi seperti ini tidak masalah. Dengan melihat perjalanan yang ada, ya hemat saya memang Ahok tempat terbaiknya ada di perusahaan swasta bukan di jabatan publik atau berhubungan dengan publik atau separuh publik seperti BUMN,” imbuhnya.

Qodari pun menyarankan agar Ahok sebaiknya bekerja dalam diam saja. Untuk urusan publik, dirinya menyarankan Ahok menunjuk seorang juru bicara yang mewakili dirinya agar penyampaian ke publik lebih baik.

“Seperti saran saya di awal sekali ketika Ahok pertama kali ditunjuk menjadi Komisaris Pertamina, saya menyarankan beliau untuk bekerja dalam diam. Untuk urusan komunikasi ke luar, ke publik, ke media, serahkan ke jubir, sehingga lebih terkelola tidak spontan-spontan, tidak emosional. Jadi tata kelola itu menjadi lebih baik, lebih maksimal apabila dibarengi dengan tata kata,” terangnya.

Qodari mengatakan Ahok jika dilihat secara pekerjaanya tidak perlu dipertanyakan lagi, dalam artian Ahok bekerja baik dan benar. Tetapi, kekurangannya adalah tidak bisa memperbaiki tata kata dalam berkomunikasi dan kekurangan itu dinilai bisa menjatuhkan Ahok.

Baca juga:   Paham Tentang Peradaban, Daeng Azis Tetap Terima Perubahan Kalijiodo

“Niatnya melakukan tata kelola, tapi tata katanya nggak bagus akhirnya hasilnya tidak maksimal, dan jangan-jangan menimbulkan masalah baru, saya kira itu yang dikhawatirkan oleh Andre Rosiade. Hemat saya dia (Andre Rosiade) bukannya tidak setuju ada Ahok di komisaris, tapi dia khawatir dengan cara komunikasi Ahok, Jadi menurut saya sih perjalanan 2017 sampai 2020 termasuk di Mako Brimob itu memang belum mengubah Ahok. Dia bagus pada tata kelola, tapi buruk pada tata kata,” ujar Qodari.

Sebelumnya, Politikus Partai Gerindra yang juga anggota Komisi VI DPR RI, Andre Rosiade, meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) mencopot Basuki Tjahaja Purnama (BTP) atau Ahok dari jabatan Komisaris Utama PT Pertamina (Persero). Menurutnya, mantan Gubernur DKI Jakarta itu telah membuat Pertamina gaduh.

“Menurut saya sebagai anggota DPR Komisi VI, ya, yang mitra BUMN bahwa tidak gunanya Presiden mempertahankan Pak Basuki Tjahaja Purnama sebagai Komut Pertamina. Kenapa? Pertama, ya, yang bersangkutan selalu membikin gaduh,” ujar Andre Rosiade kepada awak media, Selasa, 15 September 2020.

Permintaan Andre Rosiade itu tak terlepas dari pernyataan Ahok yang membongkar aib Pertamina. Pasalnya, menurut Andre Rosiade, permasalahan internal Pertamina bukan untuk diumbar-umbar ke publik. (nuch/det)

guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar