Terkait Kasus Jiwasraya, Pengamat: SBY Tersinggung, Kalau Enggak Salah Diam Aja

Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) (Foto:Google)

harianpijar.com, JAKARTA – Pengamat politik dan juga Direktur Ekskutif Political and Public Policy Studies (P3S) Jerry Massie menilai mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terlalu sensitif dengan pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait kasus PT Asuransi Jiwasraya (Persero) telah muncul pada tahun 2006.

Selain itu, SBY juga bereaksi dengan menulis tulisan panjang yang beredar ke awak media dan media sosialnya.

Menurut Jerry, sikap SBY tersebut jauh berbeda dengan sikap mantan presiden lainnya yang lebih tegas.

 

“Bagi saya jika Pak SBY dibandingkan dengan presiden lainnya Pak SBY sedikit emosional ketika barangkali mengaitkan suatu hal,” kata Jerry di acara Crosscheck, di Jalan Wahid Hasyim, Jakarta, Minggu 2 Februari 2020.

Baca juga:   Pengamat Nilai Penerbitan Perppu KPK Berpotensi Timbulkan Konflik Baru

Selanjutnya, ditegaskan Jerry, bahwa SBY dianggap tersinggung dengan pernyataan pemerintah yang menyebut kasus PT Asuransi Jiwasraya (Persero) yang muncul sejak tahun 2006, di mana tahun tersebut merupakan tahun pemerintahan Ketua Umum Partai Demokrat itu.

Selain itu, SBY juga dinilai terlalu sensitif, padahal pemerintah tidak menyebut secara spesifik di zaman pemerintahan siapa kasus dugaan megakorupsi itu bergulir.

“Ini belum terlalu gamblang, mereka baru bilang 2006 tidak merujuk pada seseorang. Memang waktu 2006 itu ada pemerintahan dia, kecuali kalau bilang begini Presiden SBY dengan menyebut nama dan menyebut apa. Kalau enggak bersalah diam aja, stay cool aja, keep silent,” ujar Jerry.

Baca juga:   Soal Parlementary Threshold, Pengamat: Usulan NasDem Tidak Salah, Tetapi Membunuh Parpol Kelas Bawah

“Kalau saya presiden, dituduh atau difitnah, kalau saya tidak melakukan kenapa harus ada reaksi emosional,” lanjut Jerry.

Kemudian, dikatakan Jerry, bahwa SBY jangan terlalu mengedepankan sisi feminin agar tidak disebut baper oleh masyarakat.

“Pemimpin jangan terlalu sensitif juga, karena kan ada maskulin dan feminin, pemimpin harus maskulin jantan jangan sampai jiwa feminisme itu muncul. Bukan menganggap feminin, tapi gayanya beliau barangkali lebih ke perasaan,” tandas Jerry. [elz/rmol]

PILIHAN SPONSOR

BACA JUGA
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar