Politisi PDIP: Masa Jabatan Presiden dan Wakil Presiden Cukup 2 Periode

basarah-hasto
Poltisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Ahmad Basarah. (Foto:Google).

harianpijar.com, JAKARTA – Wakil Ketua MPR dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ( PDI-P) Ahmad Basarah mengatakan, bahwa fraksinya tidak sepakat dengan wacana perubahan masa jabatan presiden dan wakil presiden dalam UUD 1945.

Menurut Basarah, ketentuan masa jabatan presiden dan wakil presiden saat ini sudah cukup untuk memastikan pembangunan naisonal berjalan. Karena, berdasarkan Pasal 7 UUD 1945, presiden dan wakil presiden memegang jabatan selama lima tahun dan dapat dipilih kembali untuk satu kali masa jabatan.

Dengan demikian presiden dan wakil presiden dapat menjabat paling lama 10 tahun dalam dua periode.

” Masa jabatan presiden satu periode atau lima tahun kali dua (periode) itu sudah cukup untuk pemerintahan nasional, untuk memastikan pembangunan nasional itu berjalan,” kata Basara saat ditemui, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis 21 November 2019 kemarin.

Selanjutnya, dikatakan Basarah, bahwa saat ini yang dibutuhkan adalah menghidupkan kembali Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN), bukan mengubah ketentuan masa jabatan presiden dan wakil presiden dalam UUD 1945. Karena, dengan adanya GBHN, maka pemerintahan akan berjalan lebih efektif.

Baca juga:   Demokrat Nilai Jokowi Khianat Soal Kabinet, Begini Kata Elite PDIP

Bahkan, rencana pembangunan nasional akan berkesinambungan meski terjadi pergantian kepemimpinan nasional.

Sebab itu, Basarah menegaskan Fraksi PDI-P hanya ingin amendemen UUD 1945 dilakukan secara terbatas.

“Apalagi nanti jika sudah ada haluan negara dan haluan pembangunan nasional. Kami memandang tidak ada urgensinya untuk mengubah konstitusi kita yang menyangkut tentang masa jabatan presiden dan wakil presiden,” ujar Basarah.

Sementara sebelumnya, Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid mengungkapkan adanya wacana perubahan masa jabatan presiden dan wakil presiden terkait amendemen UUD 1945. Artinya, amendemen UUD 1945 tidak hanya sebatas menghidupkan kembali Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN).

Menurut Hidayat, ada anggota fraksi di MPR yang mewacanakan seorang presiden dapat dipilih kembali sebanyak tiga periode. Bahkan, ada pula yang mewacanakan presiden hanya dapat dipilih satu kali namun masa jabatannya diperpanjang menjadi 8 tahun.

“Iya memang wacana tentang amendemen ini memang beragam sesungguhnya, ada yang mewacanakan justru masa jabatan presiden menjadi tiga kali, ada yang mewacanakan untuk satu kali saja tapi dalam 8 tahun. Itu juga kami tidak bisa melarang orang untuk berwacana,” kata Hidayat, Rabu 20 November 2019 baru lalu.

Baca juga:   Teguh Samudra: PDIP Berencana Laporkan KPK ke Dewan Pengawas

Sedangkan, menurut Wakil Ketua MPR dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Arsul Sani menyebut, bahwa saat ini pihaknya tengah menghimpun berbagai masukan terkait amendemen terbatas UUD 1945.

Salah satunya, wacana perubahan masa jabatan presiden dan wakil presiden menjadi hanya satu periode selama 8 tahun.

Selain itu, wacana tersebut juga memiliki alasan atau dasar yang patut dipertimbangkan. Dengan satu kali masa jabatan yang lebih lama, seorang presiden dapat menjalankan seluruh programnya dengan baik, ketimbang lima tahun.

“Ya itu kan baru sebuah wacana ya. Dan itu juga punya logical thinking-nya. Karena dengan satu kali masa jabatan tapi lebih lama, dia juga bisa meng-exercise, mengeksekusi program-programnya dengan baik,” kata Arsul Sani saat dikonfirmasi secara terpisah. [elz/komp]

PILIHAN SPONSOR

BACA JUGA
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar