Wacana Jabatan Presiden Tiga Periode, Pengamat UI: Berpotensi Timbulkan Rezim yang Otoriter dan Merusak Demokrasi

Pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI) Ade Reza Hariyadi. (Foto:Google).

harianpijar.com, JAKARTA – Pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI) Ade Reza Hariyadi menilai wacana masa jabatan presiden menjadi lebih dari dua periode yang disampaikan Ketua MPR Bambang Soesatyo, menuai banyak komentar.

Menurut Ade, wacana penambahan periode jabatan presiden hanya bisa dilakukan melalui amandemen UUD 1945.

“Jika wacana tersebut disetujui, kita akan set back pada politik oligarki yang terlalu lama dan berpotensi merusak tatanan demokrasi yang telah kita capai,” kata Ade saat dihubungi, di Jakarta, Kamis 21 November 2019.

Baca juga:   Pengamat Nilai Ada Pengalaman Gagal Nyapres di Balik Kritik Gatot Nurmantyo

Lebih lanjut, ditegaskan Ade, penambahan masa periode presiden juga berpotensi menyebabkan penumpukan kekuasaan pada seorang figur. Bahkan, bisa berpotensi menimbulkan rezim yang otoriter.

Sementara, Ketua MPR RI Bambang Soesatyo saat menyambut jajaran pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, di ruang kerjanya, melempar wacana mengejutkan yakni masa jabatan presiden bisa diperpanjang.

Baca juga:   Gerindra Bidik Kursi Ketua MPR, Golkar: Logisnya Diduduki Partai Pemenang Kedua

“Mungkin perlu juga pemilihan presiden diamendemen, misalnya masa jabatan bisa dilakukan untuk tiga periode,” kata Bambang Soesatyo. [elz/rmol]

PILIHAN SPONSOR

BACA JUGA
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar