Soal Tudingan Partai Nasionalis, Politisi PDIP: Surya Paloh Terlalu Emosional

Andreas-Hugo-Pareira
Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Andreas Hugo Pareira. (Foto:Google).

harianpijar.com, JAKARTA – Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Andreas Hugo Pareira menyebut pernyataan Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh yang disampaikan saat berpidato di Kongres ke II Partai NasDem di Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta, Jumat 8 November 2019, terkait partai nasionalis terlalu emosional. Selain itu, pidatonya juga tidak memiliki makna secara ideologis.

“Terlalu emosional dan sama sekali tidak bermakna ideologis,” kata Andreas dalam keterangan tertulisnya, Sabtu 9 November 2019.

Menurut Andreas, tuduhan tersebut berawal dari sindiran Presiden Joko Widodo (Jokowi) soal kemesraan Surya Paloh dengan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sohibul Iman di acara Hari Ulang Tahun (HUT) Golkar pada Rabu 6 November 2019 lalu.

Selain itu, reaksi Surya Paloh terhadap sindiran Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu juga terlalu emosional karena membawa diskursus seolah persoalan kemesraan dirinya dengan Sohibul masuk ke wilayah ideologis partai politik di koalisi pendukung pemerintah.

Baca juga:   Soal Isu Reshuffle Kabinet Rabu Pon atau Pahing, PKS: Pilih yang Profesional-Tak Korupsi

Pada hal, tidak satu partai politik yang mengartikan bahwa kemesraan Surya Paloh dan Sohibul Iman tersebut bermakna ideologis. Bahkan, seluruh pihak juga menyadari bahwa dinamika antarelite partai politik lebih bersifat pertemanan saat ini.

“Semua juga tahu dinamika antarelite partai saat ini lebih bersifat politik pertemanan. Membangun pertemanan sebagai basis kesepahaman kerjasama politik,” ujar Andreas.

Andreas juga menjelaskan, sebuah hal yang wajar jika Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengomentari kemesraan Surya Paloh dan Sohibul Iman. Karena, menurutnya Presiden Joko Widodo (Jokowi) terus berharap agar semua partai politik (Parpol) pendukungnya tetap solid pascapembentukan kabinet beberapa waktu lalu.

“Meskipun hubungan antarelite partai dinamis tetapi soliditas koalisi tetap terjaga,” jelasnya.

Seperti diketahui, Surya Paloh sebelumnya menyindir partai yang mengaku paling pancasilais dan nasionalis. Namun, dalam praktiknya justru bersebrangan dengan nilai-nilai pancasila.

Baca juga:   Abraham Samad: Kalau Revisi UU Terus Dipaksakan, Saya Khawatir KPK Akan Mati Suri

“Ngakunya partai nasionalis, partai yang pancasilais. Ya buktikan saja di rakyat yang membutuhkan pembuktian partai mana yang paling menanamkan nilai-nilai Pancasila,” kata Surya Paloh dalam Kongres ke II Partai NasDem di Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta, Jumat 8 November 2019 baru lalu.

“Kalau partai yang masih mengundang cynical propaganda yang kosong, mengajak berkelahi satu sama yang lainnya, ah yang pasti itu bukan pancasilais itu,” lanjutnya.

Menurut Surya Paloh, partai yang pancasilais semestinya tidak menganggap partai yang tidak searah sebagai musuh. Selain itu, semestinya partai pancasilais itu harus merangkul semua partai, termasuk yang bersebrangan sikap politik.

“Jangan musuhi teman. Itu baru Pancasila. Kalau tidak dijalankan yang paling menangis proklamator bangsa ini,” tandas Surya Paloh. [elz/cnn]

PILIHAN SPONSOR

BACA JUGA
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar