Pengamat: Presiden Jokowi Bisa Reshuffle Kabinet Demi Jatah Pendukung

Presiden-Joko-Widodo-Jokowi-1
Presiden Joko Widodo (Jokowi).

harianpijar.com, JAKARTA – Direktur Eksekutif Parameter Politik Adi Prayitno menilai Presiden Joko Widodo (Jokowi) sangat mungkin mengganti sejumlah menteri atau reshuffle Kabinet Indonesia Maju dalam enam bulan ke depan.

Menurut Adi Prayitno, selain kinerja peluang untuk mengganti para menteri juga didasari kepentingan pemenuhan ‘jatah’ pihak yang mendukung Jokowi-Ma’ruf Amin pada pemilihan presiden (Pilpres) lalu.

“Cukup terbuka Jokowi reshuffle kabinet 6 bulan hingga setahun ke depan. Dasarnya kinerja atau polemik yang ditimbulkan menteri. Selain itu mungkin juga karena banyak pendukung Jokowi yang antre ingin masuk kabinet,” kata Adi Prayitno di Jakarta, Sabtu 2 November 2019.

Ditegaskan Adi, berkaca pada perombakan kabinet di periode pertama, Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat itu melakukan reshuffle dalam waktu 10 bulan. Selain itu, ada lima posisi menteri yang diganti yakni Menko Perekonomian, Menteri Bappenas, Menko Kemaritiman, Menko Polhukam dan Menteri Perdagangan.

Karena itu, sangat mungkin Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali merombak Kabinet Indonesia Maju dalam kurun waktu kurang dari setahun pada periode kedua ini.

Baca juga:   Agar Tak Cacat Formal, Mahfud MD Minta DPR Tunda Pembahasan Revisi UU KPK

“Dulu kan juga reshuffle dalam 10 bulan. Bisa jadi kembali dilakukan karena ada sejumlah menteri yang tak sesuai latar belakang keahliannya,” tegas Adi.

Sementara, menurut pengamat politik dari Universitas Padjajaran Firman Manan, perombakan kabinet sangat mungkin dilakukan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam waktu enam bulan ke depan. Karena, sejak awal pelantikan menteri Kabinet Indonesia Maju, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah mengingatkan tidak akan segan mencopot menterinya yang tidak bekerja dengan serius.

“Di awal juga presiden sudah bilang, kalau tidak baik akan dicopot. Kalau kemudian menteri-menteri out of perform, ada kemungkinan diganti,” kata Firman.

Selain itu, ditegaskan Firman, penggantian menteri bisa jadi dilakukan karena terjadi perubahan format koalisi pendukung Jokowi-Ma’ruf Amin.

Diketahui, pada periode pertama terjadi perubahan, Partai Amanat Nasional (PAN) yang semula mendukung Jokowi-Jusuf Kalla (JK). Karena, perubahan ini berdampak pada pengunduran diri kader Partai Amanat Nasional (PAN) Asman Abnur sebagai Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara Reformasi Birokrasi.

Baca juga:   Moeldoko: Polri Tidak Ulur Waktu Dalam Pengusutan Kasus Novel Baswedan

Namun, Firman menilai kecil kemungkinan terjadi perubahan format koalisi mengingat dukungan partai pendukung Jokowi-Ma’ruf Amin saat ini terbilang cukup ‘gemuk’ setelah Partai Gerindra bergabung.

“Saya tidak melihat kemungkinan reshuffle karena kebutuhan partai. Itu sudah cukup berimbang, kecuali memang terjadi perubahan format koalisi,” ujarnya.

Sedangkan sebelumnya, pernyataan soal kemungkinan reshuffle Kabinet Indonesia Maju ini juga disampaikan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Bambang Soesatyo. Selain itu, meski tidak merinci alasan soal reshuffle kabinet, Presiden Joko Widodo (Jokowi) perlu menambah menteri perempuan dalam Kabinet Indonesia Maju.

Bahkan, ditegaskan Bambang, jika dibandingkan dengan menteri perempuan dalam Kabinet Kerja periode 2014-2019, jumlah menteri perempuan dalam Kabinet Indonesia Maju saat ini lebih sedikit. [elz/cnn]

PILIHAN SPONSOR

BACA JUGA
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar