Veronica-Koman
Veronica Koman (kanan). (foto: twitter/veronicakoman)

harianpijar.com, SURABAYA – Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur dan Divhubinter Mabes Polri mengatakan akan menyurati Australian Federal Police (AFP) untuk membawa Veronica Koman ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di negara tersebut.

Hal ini, terkait status Veronica Koman sebagai tersangka kasus dugaan provokasi dan penyebaran informasi bohong terkait insiden Asrama Papua.

Menurut Kapolda Jawa Timur Irjen Luki Hermawan, hal itu dilakukan jika Veronica Koman tidak kunjung mengindahkan pemanggilan pemeriksaan polisi.

“Kami kirim surat kepada AFP, kepolisian Australia untuk membawa Veronica ke KBRI,” kata Luki Hermawan di Mapolda Jatim, Surabaya.

Dijelaskan Luki Hermawan, semestinya hari ini akan dilakukan pemeriksaan Veronica Koman di Polda Jatim, sebagaimana dalam surat pemanggilan kedua sebagai tersangka.

Selain itu, Luki Hermawan mengatakan surat pemanggilan tersebut, telah dikirimkan ke dua alamat Veronica Koman di Jakarta. Kemudian, ada pula satu surat yang dilayangkan ke alamat Veronica Koman di luar negeri.

Namun, hingga Jumat siang, Veronica Koman juga belum memberikan konfirmasi apakah dirinya bisa hadir atau tidak, dalam pemeriksaan kali ini. Kendati demikian, Polda Jatim tetap memberikan toleransi waktu hingga lima hari ke depan. Bahkan diketahui, Veronica Koman tengah berada di luar negeri.

Apabila hingga batas 18 September 2019 Veronica Koman tidak kunjung menghadiri pemeriksaan, maka polisi segera menyurati AFP. Bahkan, tidak hanya itu, polisi juga akan menerbitkan Daftar Pencarian Orang (DPO) dan red notice terhadap Veronica Koman.

Baca juga:   Dinilai Sudah Lampaui Kewenangan, Caleg yang Digantikan Mulan Laporkan Hakim PN Jaksel ke KY

“Bersamaan itu juga kami kirimkan red notice nanti Divhubinter akan digelar di Prancis. Karena memang memenuhi penetapan, baru disebar ke 190 negara,” jelas Luki Hermawan.

Sementara, Kantor Konsulat Jenderal (Konjen) Australia di Jalan Ir Soekarno, Surabaya, dianggap kooperatif pada permintaan Polda Jatim untuk berkoordinasi mencari keberadaan Veronica Koman di negara tersebut.

Menurut Luki Hermawan, koordinasi tersebut ditempuh Polda Jatim, lantaran saat ini Veronica Koman diketahui tengah berada di negara itu, bersama sang suami yang merupakan warga negara Australia. Bahkan, hal tersebut merespons kunjungan Wakapolda Jatim Brigjen Pol Toni Harmanto ke Konjen Australia, Kamis, 12 September 2019 baru lalu.

“Kemarin Pak Wakapolda berusaha berkoordinasi ke Konjen (Australia) untuk langkah koordinasi karena saudara Veronika, karena suaminya WN Australia,” ujar Luki Hermawan.

Selain itu, ditegaskan Luki Hermawan, langkah itu, mendapatkan respons yang baik dari Konjen Australia. Bahkan, pihak konjen juga bertekad tidak akan ikut campur dalam proses hukum yang tengah dilakukan Polri.

“Jadi kami melakukan pendekatan dan mendapat respons yang baik dari konjen, bahwa yang bersangkutan (konjen) menyerahkan semua kepada pihak Polri, mengingat yang bersangkutan (Veronica Koman) adalah Warga Negara Indonesia,” tegasnya.

Baca juga:   KPK Tetapkan Andi Narogong Sebagai Tersangka Dugaan Korupsi E-KTP

Sementara, Kantor Konjen Australia di Surabaya, didatangi massa. Mereka mendesak pemerintah Australia memulangkan Veronica Koman.

Massa yang mengatasnamakan Jaringan Satu Indonesia (JSI) dan Forum Komunikasi Pemuda Nusantara (Forkompemnus) membentangkan poster. bahkan, mereka juga menyanyikan yel-yel pulangkan VK.

Sedangkan, Koordinator Aksi Sahidin meminta pihak Konjen Australia di Surabaya harus memperjuangkan kepulangan Veronica Koman ke Indonesia. Menurutnya, Veronica harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.

“Konjen Australia di Surabaya harus turun tangan menyampaikan kepada Pemerintah Australia agar memulangkan VK untuk mempertanggungjawabkan status hukumnya, karena sudah ditetapkan sebagai tersangka di Polda Jawa Timur,” kata Sahidin, Jumat, 13 September 2019.

Sebelumnya, pengacara hak asasi manusia yang kerap mendampingi aktivis Papua, Veronica Koman ditetapkan sebagai tersangka provokasi insiden Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya oleh Polda Jawa Timur.

Dirinya dijerat polisi sebagai tersangka dengan pasal berlapis dari empat undang-undang, dari mulai UU ITE hingga antirasialisme. Lantaran dinilai aktif menyebarkan provokasi melalui akun Twitter-nya, @veronicakoman.

Veronica Koman dijerat pasal berlapis dari UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), KUHP, UU Nomor 1 tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana, dan UU Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis. (elz/cnn)

BACA JUGA
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar