Presiden-Joko-Widodo-Resmikan-Pabrik-Mobil-Esemka
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menghadiri acara Launching Mobil Esemka di Boyolali, Jawa Tengah, pada Jumat, 6 September 2019.

harianpijar.com, JAKARTA – Peneliti politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro menilai Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam posisi serba salah terkait peluncuruan mobil Esemka. Selain itu, janji Presiden Jokowi mewujudkan mobil nasional akan mendapatkan kritikan.

Menurut Siti Zuhro, Pesiden Jokowi saat mewujudkan mobil nasional, akan terkena kritik karena realisasinya setengah-setengah. Jika tak diwujudkan, kadung menjadi janji politik yang membenak di publik.

“Ya simalakama, terlanjur. Maju kena, mundur kena. Kalau orang Jawa bilang, sudah basah, basah sekalian. Ini pelajaran berharga buat kita mengukur kemampuan sendiri,” kata Siti Zuhro saat dihubungi, Senin, 9 September 2019.

Siti Zuhro menyampaikan Esemka memang taktik jitu Jokowi saat maju di DKI Jakarta. Tetapi, program itu jadi bumerang di kemudian hari karena sulit diwujudkan baik dari segi politik ataupun bisnis.

Saat ini, dikatakan Siti Zuhro, Esemka dipakai Presiden Jokowi sekadar untuk menjawab kritik para kawan politik. Selain itu, langkah ini dilakukan agar kritik serupa tidak terus menghinggapinya pada periode kedua.

Baca juga:   Sibuk Persiapan Ijtimak Ulama IV, PA 212 Belum Bertemu Prabowo

“Pak Jokowi ingin menunjukkan kepada pengkritiknya bahwa Esemka itu riil, konkret, ada. Untuk politik ini kan menaikkan legitimasi,” ujarnya.

Seperti diketahui, pabrik produksi mobil Esemka di Boyolali, Jawa Tengah, akhirnya diluncurkan ke publik pada Jumat, 6 September 2019 lalu. Momen ini jadi bagian dari rangkaian panjang janji politik Jokowi mewujudkan mobil nasional.

Selanjutnya, Esemka lahir pada 2007 dari tangan anak-anak sekolah menengah kejuruan (SMK). Lima SMK dilibatkan dalam proyek tersebut, yakni SMKN 2 Surakarta, SMKN 5 Surakarta, SMK Warga Surakarta, SMK 1 Singosari Malang, dan SMK Muhammadiyah 2 Borobudur.

Kemudian, Esemka mulai dikenal publik saat Jokowi memakainya sebagai mobil dinas Wali Kota Solo pada tahun 2012. Saat itu, Jokowi yang sedang bersiap maju di Pilgub DKI pun menjanjikan Esemka bakal jadi mobil nasional.

Namun, setelah Jokowi terpilih menjadi Gubenur DKI Jakarta, lalu maju menjadi Presiden RI, nama Esemka timbul tenggelam. Bahkan, Esemka baru terdengar kembali saat gelaran pemilihan presiden (Pilpres) 2019.

Sedangkan, lawan politik Jokowi saat itu, dengan gencar mencibir janji soal mobil nasional. Esemka disebut sebagai cerminan janji politik Jokowi yang tak pernah ditepati. Selain itu, beberapa saat usai Pilpres 2019, pabrik produksi Esemka diluncurkan. Bahkan, pabrik itu diklaim bisa memproduksi 18 ribu unit per tahun.

Baca juga:   PDIP: Rekonsiliasi Yes Harus Diteruskan, untuk Masuk Kabinet yang Lain Masih Banyak

Dalam kesempatan itu juga ditegaskan, Esemka adalah produk swasta yang diproduksi di bawah PT Solo Manufaktur Kreasi (SMK). Berbeda dari janji Jokowi pada 2012 yang hendak menjadikannya mobil nasional.

Kemudian, Esemka juga dikritik publik karena berbentuk mobil pikap, bukan sport utility vehicle (SUV) yang pernah dipakai Jokowi sebelumnya. Publik juga menyoroti kemiripan pikap Esemka dengan merek Changan dari China.

Sementara, menurut Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon yang juga menyampaikan sindirannya, Esemka seharusnya dijadikan mobil dinas kepresidenan.

“Ganti dong dengan mobil Esemka yang dibangga-banggakan. Saya kira itu spiritnya akan bagus, kan sudah diproduksi. Ganti dulu pakai mobil Esemka,” kata Fadli Zon di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat, 6 September 2019. (elz/cnn)

Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of