Jokowi-Ma'ruf-Amin
Jokowi dan Ma'ruf Amin. (foto: detik/Andhika Prasetia)

harianpijar.com, JAKARTA – Pengamat politik dan juga Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago menyebut masih ada poin yang tertinggal dalam pidato pertama Joko Widodo (Jokowi) sebagai Presiden terpilih. Menurutnya, poin itu mengenai penegakan hukum dan pemberantasan korupsi.

“Itu (penegakan hukum dan pemberantasan korupsi) yang kering, yang tertinggal sepertinya, kalau saya enggak salah atau boleh dikoreksi, hanya sedikit menyindir soal pungli. Sangat disayangkan dalam pidato soal visi, Pak Jokowi tidak membahas narasi besar lima tahun ke depan, apa dan bagaimana cara beliau memberantas korupsi,” kata Pangi Syarwi Chaniago saat dikonfirmasi, Minggu, 14 Juli 2019.

Menurut Pangi Syarwi Chaniago, narasi besar Jokowi mengenai penegakan hukum dan pemberantasan korupsi harusnya lebih dalam. Karena, permasalahan terkait konflik sosial, kesenjangan, dan ketidakadilan menjadi akar permasalahan bangsa, hal ini disebabkan lemahnya penegakan hukum.

Selanjutnya, Pangi Syarwi Chaniago menilai, jika penegakan hukum di Indonesia berjalan dengan baik maka secara otomatis masalah yang lain juga akan terselesaikan dengan baik.

“Kuncinya ada pada penegakan hukum. Sangat disayangkan dalam pidatonya, apakah ada atau tidak menyingung soal penegakan hukum dan pemberantasan korupsi,” terangnya.

Baca juga:   Tanggapi Megawati, Andi Arief: Demokrat Juga Pernah Ditawari Posisi oleh Jokowi

Namun, di sisi lain, Pangi Syarwi Chaniago juga berpendapat pidato Jokowi tersebut menjawab mengenai optimisme bahwa Indonesia akan menjadi negara maju. Hal itu, menurutnya, dapat terlaksana selama kebersamaan dan sinergitas semua elemen bisa terbangun dengan baik.

Lebih lanjut, Pangi Syarwi Chaniago menegaskan, dalam pidato tersebut, Jokowi ingin memastikan dan menekankan soal investasi yang terkesan dipersulit oleh birokrasi yang tidak lincah, rumit, dan bertele-tele. Dirinya menilai investasi adalah kemajuan bangsa, karena membuka lapangan pekerjaan.

“Jokowi juga menegaskan tidak bakal kasih kendor terhadap perilaku pungli yang menghambat investasi,” sebutnya.

Selain itu, sambung Pangi Syarwi Chaniago, pidato Jokowi yang menekankan betapa pentingnya Pancasila dan menjadi harga mati juga menjadi peringatan dini bagi pengganggu Pancasila. Karena, Pancasila dapat menjaga kerukunan dan tolernasi antar umat beragama.

“Jangan ada yang coba-coba mengganggu atau mengotak-atik Pancasila sebagai pelekat persatuan bangsa selama ini. Konteks pidato Jokowi juga memberikan makna dan penekanan soal tidak ada toleransi dan tempat bagi pengganggu Pancasila dan keberagaman umat beragama di Indonesia,” ujar Pangi Syarwi Chaniago.

Baca juga:   Begini Tanggapan Ketua DPR Soal Jokowi Pertimbangkan Terbitkan Perppu UU KPK

Pangi Syarwi Chaniago mengatakan, Jokowi dalam pidatonya juga menekankan mengenai pembangunan sumber daya manusia (SDM) pada periode kedua kepempiminannya. Menurutnya, hal ini dapat memberi ruang dan tempat bagi putra-putri terbaik bangsa yang kreatif dan multitalenta. Sehingga bisa tampil dalam diaspora dunia dan membawa nama baik bangsa.

“Negara wajib memfasilitasi dan mencari bibit anak bangsa yang berbakat atau multitalenta kreatif serta inovatif, demi kemajuan bangsa,” pungkas Pangi Syarwi Chaniago.

Diketahui, Pasangan Joko Widodo (Jokowi) dan KH Ma’ruf Amin menyampaikan pidato pertamanya sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI terpilih dalam acara Visi Indonesia di Sentul Indonesia Convention Center (SICC), Bogor, pada Minggu, 14 Juli 2019 malam.

Dalam pidato tersebut, Jokowi menyampaikan beberapa poin penting yang akan dirinya lakukan dalam periode kedua kepemimpinannya, seperti reformasi birokrasi, pembangunan sumber daya manusia, dan pentingnya Pancasila bagi persatuan bangsa. (elz/rep)

Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of