Ryamizard-Ryacudu
Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu.

harianpijar.com, JAKARTA – Menhan Ryamizard Ryacudu menanggapi pernyataan mantan Panglima TNI Jenderal (purn) Gatot Nurmantyo terkait peningkatan anggaran TNI. Menjelaskan peningkatan angaran TNI, Ryamizard Ryacudu meminta Gatot Nurmantyo berhenti berbicara soal anggaran militer.

“Ya sudah lah, Gatot Nurmantyo sudah, sudah. Dulu anggaran kita sebelumnya Rp 50-60 T, sekarang Rp 100 T lebih. Rp 108 T, apalagi? mau ngambil uang rakyat? Nggak mungkin. Kita tentara rakyat, rakyat dulu lah diutamakan,” ujar Ryamizard Ryacudu di restoran D’cost VIP, Jakarta Pusat, Senin, 15 April 2019.

Lebih lanjut Ryamizard Ryacudu lalu membandingkan kondisi militer dan rakyat di India. Menurutnya, India memiliki tentara yang kuat namun masyarakatnya banyak yang miskin dan tidak punya tempat tinggal.

“Kalau di India sana hebat tapi rakyatnya banyak yang miskin, kalau kepanasan mati, kalau kedinginan mati. Itu tidak boleh terjadi di sini dong, masa menomor-10-kan rakyat, pokoknya alutsista bagus (tapi) rakyat terserah, (itu) nggak benar, bukan tentara rakyat itu,” ungkapnya.

Ryamizard Ryacudu menilai, saat ini Indonesia masih jauh dari ancaman perang bersekala besar. Ancaman yang banyak terjadi saat ini, menurutnya, berupa bencana dan terorisme sehingga harus lebih diprioritaskan.

“Situasi pertahanan ini kan saya bilang, ancaman yang nyata dan belum nyata, yang nyata ini kan banyak gempa, teroris. Yang belum nyata yang perang besar, itu kan jauh. Kita tentara rakyat berasal dari rakyat masa rakyat dinomorduakan, nggak nomor 1 rakyat,” kata Ryamizard Ryacudu.

Sebelumnya, Gatot Nurmantyo berbicara soal kondisi nasional. Menurutnya, ada suatu hal yang kritis, yakni soal kekuatan TNI yang tidak didukung oleh pemerintah dari segi anggaran.

“Saat ini yang kritis adalah anggaran. Saya tidak menyalahkan siapa pun juga, tapi saya harus sampaikan karena saya mantan Panglima TNI, agar rakyat bersatu jangan terpecah-pecah,” ujar Gatot Nurmantyo di Surabaya, Jumat, 12 April 2019.

Kemudian, Gatot Nurmantyo berbicara soal APBN-Perubahan tahun 2017 saat dirinya masih menjabat sebagai Panglima TNI. Dirinya menyebut tambahan untuk TNI tak sebanding dengan institusi pertahanan-keamanan lainnya.

“Saat saya menjabat Panglima TNI, saya sudah berusaha sekuat mungkin tapi saya tidak berdaya. APBN-P, TNI yaitu Dephan, Mabes TNI, TNI AD, TNI AL, dan TNI AU jumlah personelnya lebih dari 455 ribu mempunyai ratusan pesawat tempur, punya ratusan kapal perang, ribuan tank, dan senjata berat. Anggarannya hanya Rp 6 T lebih. Sehingga Dephan dapat Rp 1 T, AD dapat Rp 1 T lebih, AU Rp 1 T lebih, AL dapat Rp 1 T lebih Mabes TNI dapat Rp 900 miliar,” kata Gatot Nurmantyo. (ilfan/det)

loading...