Ahmad-Riza-Patria
Ahmad Riza Patria. (foto: dok. Viva)

harianpijar.com, JAKARTA – Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menuding pemerintah sebagai dalang peretasan akun-akun media sosial pendukung paslon nomor urut 02.

“Sekarang kita buktiin ternyata pendukung kami dihack akunnya,” ujar Jubir BPN Prabowo-Sandi, Ahmad Riza Patria di Jalan Sriwijaya, Jakarta Selatan, Minggu, 14 April 2019.

Hal itu disampaikan Ahmad Riza Patria terkait peretasan akun Twitter Said Didu setelah debat terakhir Pilpres 2019, pada Sabtu, 13 April 2019. Said Didu yang merupakan mantan staf khusus menteri ESDM sebelumnya sudah menyatakan dukungan kepada Prabowo- Sandi.

Said Didu mengaku terakhir masuk ke dalam akun Twitter-nya, @saididu, persis sebelum debat pamungkas berlangsung. Namun saat keluar arena debat, akunnya otomatis tak bisa dibuka.

Ahmad Riza Patria mengatakan, tak hanya Said Didu, sebelumnya akun media sosial pendukung Prabowo-Sandi lainnya seperti Ustaz Haikal Hasan, dan Ferdinand Hutahaean juga diretas. Menurutnya, tak lain hal itu merupakan ulah pemerintah.

“Siapa yang bisa melakukan ini tentu orang yang punya kekuasaan, teknologi, anggaran dan sebagainya. Mudah-mudahan dengan sisa waktu ini tidak terjadi lagi,” sebutnya.

Selain menjadi dalang peretasan, Ahmad Riza Patria juga menyebut pemerintah berada dibalik semua berita bohong, hingga ujaran kebencian di media sosial menjelang Pilpres 2019. Dirinya mengaku sepakat dengan pernyataan Rocky Gerung yang menyebut pemerintah sebagai pabrik hoaks.

“Saya setuju dengan Rocky Gerung, bahwa pabrik hoaks ada pada pemerintah. Kenapa? Karena punya regulasi, program, anggaran, aparat, SDM, media, punya kekuatan lain,” kata Ahmad Riza Patria.

Sebelumnya, sejumlah tokoh dari tim pemenangan Prabowo-Sandi mengaku akun media sosial mereka diretas. Mereka diantaranya Haikal Hassan Barak, Kepala Divisi Advokasi dan Bantuan Hukum Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean, dan Ketua DPP Partai Demokrat Imelda Sari.

Meski demikian, pengamat menilai peretasan ini bisa terjadi karena kelalaian dari pengguna media sosial itu sendiri. Pasalnya, media sosial sudah menggunakan pengaman berlapis seperti otentifikasi dua faktor.

Apalagi, sebagai tokoh publik yang diincar akun pribadinya, harus lebih waspada terhadap keamanan siber. (nuch/cnn)

loading...