suhud-pks
Direktur Pencapresan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Suhud Alynudin.

harianpijar.com, JAKARTA – Terkait tudingan hoaks yang dilontarkan kubu pasangan calon presiden-calon wakil presiden Joko Widodo-Ma’ruf Amin soal hoaks 1.000 titik kampanye cawapres nomor urut 02, Sandiaga Uno mendapat respon keras dari politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Suhud Alynudin.

Menurut Suhud Alynudin, tudingan hoaks itu justru menjadi energi besar. Karena, hal itu memperlihatkan kubu sebelah tidak memiliki bahan kampanye lagi yang dapat ditawarkan ke masyarakat.

“Bagi kami tudingan hoaks itu menjadi energi besar, karena kubu sebelah tidak memiliki bahan kampanye lagi yang dapat ditawarkan, kecuali berusaha melebeli semua dengan istilah hoaks,” kata Suhud Alynudin melalui keterangan tertulis, Minggu 13 Januari 2019.

Lebih lanjut, Suhud Alynudin menegaskan, kubu Jokowi-Ma’ruf Amin sudah larut dalam dunia pencitraan, sehingga 1.000 titik kampanye Sandiaga Uno juga disebut mereka hoaks.

“Mereka terbiasa di alam pencitraan, sehingga semua hal nyata dilebeli hoaks,” tegas Suhud Alynudin.

Selanjutnya, juga dijelaskan Suhud Alynudin, kampanye maraton yang telah dilakukan Sandiaga Uno sangat efektif untuk meningkatkan elektabilitas Prabowo-Sandi. Bahkan, menurutnya strategi ini akan terus dilakukan Sandiaga Uno secara intensif hingga menjelang Pemilu 2019.

“Kampanye maraton yang dilakukan Pak Sandi terbukti efektif meningkatkan elektabilitas pasangan Prabowo-Sandi. Dan dalam tiga bulan ini kami akan terus intensifkan hingga menjelang pencoblosan,” jelas Suhud Alynudin.

Semetara sebelumnya, ketua fraksi Hanura Inas Nasrullah Zubir mencurigai 1.000 titik kampanye yang dikatakan Sandiaga Uno hanya asbun alias asal bunyi.

Menurut Inas Nasrullah Zubir, idealnya seorang politikus yang sedang berkampanye melakukan sosialisasi di satu titik menghabiskan waktu dua jam.

“Kalau kita mau sosialisasi secara benar, maka di setiap titik membutuhkan waktu minimal dua jam, yang dihitung sejak datang hingga meninggalkan tempat acara. Persoalannya, apakah Sandiaga sosialisasinya dari satu titik ke titik lain pake ‘simsalabim’, lalu sampai ke titik berikutnya atau ‘terbang’ seperti burung? Atau melata pakai mobil sambil dadah-dadah di jalan yang dilewati seolah-olah ada yang menyambut? Nggak mungkin ‘simsalabim’ kan? Jadi, dari satu titik ke titik lain butuh waktu juga, kita anggap saja dua jam,” kata Inas Nasrullah Zubir dalam keterangan tertulis. [hlw/det]