Ace-Hasan-Syadzily
Ace Hasan Syadzily. (foto: detik/Ari Saputra)

harianpijar.com, JAKARTA – Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Ace Hasan Syadzily menilai janji Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang tak mengangkat Jaksa Agung dari partai politik untuk memerangi korupsi, hal itu percuma. Karena, sebagian koalisi Prabowo Subianto-Sandiaga Uno berasal dari Keluarga Cendana.

Menurut Ace Hasan Syadzily, dirinya membandingkan dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang dinilai tegas. Bahkan, ketegasan itu akan sulit ditiru oleh Prabowo Subianto.

Selain itu, dirinya juga menilai Joko Widodo (Jokowi) adalah pemimpin berani melawan kekuatan pemburu rente dan oligarki ekonomi-politik yang merupakan warisan rezim Orde Baru. Sehingga, Jokowi tidak ada beban untuk membubarkan Petral.

“Hal ini akan sulit dilakukan oleh Prabowo-Sandi karena banyak konflik kepentingan dengan sisa-sisa kekuatan oligarki Orde Baru, seperti keluarga Cendana yang mendukung paslon 02, atau mengembalikan pada era Orde Baru,” kata Ace Hasan Syadzily melalui keterangan tertulisnya, Sabtu 12 Januari 2019.

Lebih lanjut, ditegaskan Ace Hasan Syadzily, dirinya juga menilai Joko Widodo (Jokowi) mempunyai rekam jejak yang baik terkait penegakan hukum, terutama korupsi. Bahkan, Joko Widodo (Jokowi) terbukti bersih sejak menjabat Wali Kota Solo hingga saat ini.

“Jokowi memiliki rekam jejak sebagai pemimpin yang berintegritas. Pada tahun 2010, saat menjadi Wali Kota Solo, Jokowi mendapatkan Bung Hatta Anti Corruption Award. Upaya pencegahan korupsi dilanjutkan saat menjadi Gubernur DKI Jakarta dengan e-budgetting,” tegas Ace Hasan Syadzily yang juga politisi Partai Golkar ini.

Selanjutnya, Ace Hasan Syadzily juga menjelaskan, Joko Widodo (Jokowi) tidak mempunyai konflik kepentingan. Bahkan, anak-anaknya pun tidak memanfaakan posisi ayahnya dalam berbisnis.

“Jokowi juga tidak punya beban terkait dengan konflik kepentingan terkait bisnis keluarga. Anak-anaknya justru jualan martabak dan pisang goreng. Sebaliknya sulit membayangkan akan tidak ada konflik kepentingan terkait bisnis keluarga Prabowo dan juga Sandi,” jelas Ace Hasan Syadzily.

Sementara sebelumnya, Koordinator Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Dahnil Anzar Simanjuntak bicara soal pandangan capres nomor urut 02 tentang jaksa agung.

Menurut Dahnil Anzar Simanjuntak, Prabowo Subianto tak akan pernah mengangkat Jaksa Agung yang berlatarbelakang sebagai kader partai politik.

“Prabowo dan Bang Sandi berulang kali menyatakan bahwasanya penegak hukum itu adalah bagian penting dari pemberantasan korupsi. Kalau penegak hukumnya bermasalah jangan harap bisa melakukan pendidikan korupsi atau pencegahan korupsi. Polisi, Jaksa termasuk KPK harus diperkuat, jadi perhatian khusus,” kata Dahnil Anzar Simanjuntak di Sarinah, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat.

“Nah kalau terkait dengan ini bahwasanya Prabowo tidak akan pernah melakukan mengangkat Jaksa Agung yang berasal dari partai politik tertentu,” lanjut Dahnil Anzar Simanjuntak.

Selanjutnya, ditegaskan Dahnil Anzar Simanjuntak, terkait pemberantasan korupsi, tim Prabowo-Sandiaga telah merumuskan sejumlah program di antaranya adalah menjadikan gerakan antikorupsi sebagai gerakan budaya.

“Memastikan antikorupsi itu menjadi membudaya. Jadi kalau Anda baca di visi-misi itu kami menggunakan istilah pemberantasan korupsi itu harus menjadi gerakan,” tandas Dahnil Anzar Simanjutak yang juga mantan Ketua PP Muhammadiyah itu. [hlw/det].