Abdul-Kadir-Karding
Abdul Kadir Karding. (foto: net)

harianpijar.com, JAKARTA – Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin, Abdul Kadir Karding menuding pasangan capres-cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dikelilingi oleh kelompok yang berpikiran radikal.

“Yang melingkari Pak Prabowo adalah rata-rata, mohon maaf ya dengan segala hormat itu banyak orang-orang yang berpikiran track record nya berpikiran radikal selama ini,” kata Abdul Kadir Karding saat dikonfirmasi, di Posko Jokowi-Ma’ruf Amin, Sabtu 12 Januari 2019.

Menurut Abdul Kadir Karding, bahwa kelompok radikal yang mengelilingi kubu Prabowo-Sandiaga merupakan fakta yang tak bisa dibantah. Bahkan, dirinya sendiri menilai kehadiran kelompok radikal itu tentu menghawatirkan bagi kelompok Islam moderat, seperti NU dan Muhammadiyah.

“Dan tentu itu kalau bagi Ansor, NU, Muhammadiyah akan menjadi kekhawatiran,” kata Abdul Kadir Karding yang juga Politikus PKB itu.

Lebih lanjut, ditegaskan Abdul Kadir Karding, Indonesia bisa terpecah belah jika pasangan yang disokong kaum radikal memenangkan pemilihan presiden (Pilpres) 2019. Bahkan, dirinya juga khawatir Indonesia bisa terpecah belah seperti sejumlah negara di Timur Tengah, seperti Suriah dan Afganistan.

“Kalau gerakan radikal ini menang, bangsa ini bisa pecah, Suriah kan begitu, kemudian beberapa negara di Afrika,” tegas Abdul Kadir Karding.

Sementara, menurut KH Ma’ruf Amin, tidak ada pendukung mereka yang berasal dari kaum radikal. Bahkan, dirinya menyakini GP Ansor telah memiliki data yang valid terkait kelompok radikal yang menginduk di salah satu pasangan capres-cawapres tersebut sehingga mau membuka suara ke publik.

“Ya kalau di Jokowi tidak ada (kelompok) radikalis ya. Ya mungkin saja (ada kaum radikal mendukung salah satu pasangan), kalau GP Ansor kan punya datanya. Kalau dia bicara berarti dia punya data,” kata KH Ma’ruf Amin di Kantor DPD Golkar, Depok, Jawa Barat.

Sementara sebelumnya, GP Ansor menyatakan kelompok-kelompok radikal yang tersebar di sejumlah wilayah Indonesia mulai terkonsolidasi menjelang pemilihan presiden (Pilpres) 2019.

Sedangkan, konsolidasi yang mereka lakukan disebut bukan untuk mengacaukan jalannya pemilihan presiden (Pilpres) 2019, melainkan membawa agenda mendirikan negara Islam atau NKRI Bersyariah dengan mendukung salah satu paslon presiden dan wakil presiden.

Selanjutnya, menurut Direktur Relawan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno Ferry Mursyidan Baldan, dirinya menilai pernyataan GP Ansor terkait kaum radikal berlebihan. Ketimbang memperhatikan salah satu kelompok yang mendukung salah satu paslon, lebih penting memastikan jumlah pemilih.

“Kita kan bernegara beragam masyarakat, yang penting kita urus jumlah pemilih, mau apapun sukunya punya hak untuk memilih. Ini stigmatisasi yang merusak dan menjadi cikal bakal bahaya laten dalam membangun persatuan,” kata Fery Mursyidan Baldan di Media Center, Kebayoran Baru, Jakarta, Sabtu 12 Januari 2019. [hlw/cnn]