Saleh-Partaonan-Daulay
Saleh Partaonan Daulay. (foto: screenshot Youtube)

harianpijar.com, JAKARTA – Partai Amanat Nasional (PAN) meminta Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai penyelenggara pemilu melaksanakan debat yang berkualitas. PAN menyebut kisi-kisi atau bocoran pertanyaan yang diberikan kepada paslon sebelum debat akan menciptakan debat yang tidak berbobot.

“Perdebatan dua hari belakangan ini terkait dengan ‘pembocoran’ pertanyaan kepada paslon, menurut saya, justru tidak menciptakan debat yang berbobot dan berkualitas. Karena itu, lebih baik sebetulnya KPU memikirkan ulang agar pertanyaan tersebut dilaksanakan secara impromptu, artinya langsung ya ketika mereka berhadap-hadapan, pertanyaannya diberikan tanpa terlebih dahulu diberi kisi-kisi atau pembocoran soal dari pertanyaan yang akan disampaikan,” ujar Wakil Sekjen PAN Saleh Partaonan Daulay kepada awak media, Senin, 7 Januari 2019.

Saleh Partaonan Daulay mengatakan calon pemimpin harus mampu menyelesaikan masalah secara cepat dan tepat. Menurutnya, kepemimpinan dalam menyelesaikan suatu masalah bisa terlihat dari gaya bicara seorang pemimpin saat menjawab pertanyaan.

“Kalau dia menjawabnya bawa dulu bahan atau baca dulu bahannya untuk perdebatan, itu nggak usah jadi presiden. Semua masyarakat biasa saja juga bisa melakukan itu. Yang tidak memiliki leadership atau katakanlah leadership-nya biasa-biasa saja, itu juga bisa melakukan,” kata Saleh Partaonan Daulay.

“Tapi ini kan presiden. Kalau presiden itu memang harus orangnya luar biasa, itu kemampuannya di atas rata-rata. Kepemimpinannya itu tidak bisa sembarangan, itu harus mumpuni,” imbuhnya.

Selain itu, Saleh Partaonan Daulay juga menilai bocoran pertanyaan yang sudah diberikan berpotensi jawabannya dipoles oleh tim sukses. Sehingga. kata dia, jawaban debat bukan lagi pemikiran asli dari para capres-cawapres.

“Kalau calon presiden ini kan dengan pertanyaan yang diberikan secara impromptu atau katakanlah pada saat debat diberikannya, itu akan kelihatan siapa di antara mereka yang memiliki bobot pengetahuan. Jadi pengetahuan presiden itu tidak hanya mengetahui soal katakanlah satu lingkup kabupaten atau kota, tapi juga dia harus tahu provinsi, skalanya seperti apa, nasional, harus tahu tentang regional, global, dan harus mengerti tentang apa yang menjadi persoalan bangsa ini secara detail. Dan di situ nanti akan kelihatan,” ujar Saleh Partaonan Daulay. (nuch/det)