Moeldoko
Moeldoko. (foto: dok. KSP)

harianpijar.com, JAKARTA – Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin, Moeldoko menilai isu tujuh kontainer yang berisi surat suara tercoblos merupakan teror demokrasi. Dirinya meminta masyarakat tetap tenang menghadapi isu tersebut.

“Isu itu teror demokrasi. Seharusnya, demokrasi perlu dibawa ke area yang tidak mengganggu dan ini mengganggu,” ujar Moeldoko saat menghadiri Konsolidasi Umum Relawan di Karang Setra, Kota Bandung, Jumat, 4 Januari 2018.

Menurut Moeldoko, masyarakat kini sudah bisa memilah informasi dengan benar dan mampu membedakan kabar hoax dengan kabar valid. Terlebih, pihaknya menegaskan bahwa foto pasangan Jokowi-Maruf Amin baru dirilis.

Meski demikian, Moeldoko tak menampik bahwa isu surat suara tercoblos berbahaya. Jika hal itu diyakini oleh masyarakat, maka penyelenggaraan demokrasi di Indonesia akan menjadi yang terburuk di dunia.

“Bisa dibayangkan kalau ini diyakini masyarakat, ini sebuah demokrasi paling jelek sedunia. Kemarin kita juga ketemu TKN dan baru dipaparkan foto (Jokowi dan Maruf Amin di surat suara) mana yang dipilih, itu baru dua hari kemarin,” kata Moeldoko.

“kemudian empat hari sebelumnya sudah ada berita pencoblosan kartu suara tujuh kontainer menjadi tujuh juta suara, ini kan sinting,” imbuhnya.

Untuk itu, Moeldoko berpesan kepada seluruh relawan dan pendukung Jokowi-Maruf Amin agar tetap tenang dan fokus berkampanye dengan cara yang baik.

“Jangan bangun demokrasi menakutkan demokrasi kita nikmati enjoy dan happy,” pungkasnya.

Di sisi lain, penyidik Bareskrim Polri telah menangkap dua orang terkait kasus hoax tujuh kontainer surat suara tercoblos. Keduanya, HY dan LS diketahui memiliki peran yang sama dalam kasus yang mendadak viral itu.

“HY perannya menerima konten kemudian ikut memviralkan. LS juga sama, menerima konten tidak dicek langsung diviralkan,” kata Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo, Jakarta, Jumat , 4 Januari 2018.

Dedi Prasetyo mengatakan, saat ini keduanya masih diperiksa secara intensif di kantor polisi wilayahnya masing-masing. HY diamankan di wilayah Bogor, Jawa Barat, sementara LS diamankan di wilayah Balikpapan, Kalimantan Timur.

“Polisi memiliki waktu 1×24 jam untuk menentukan status hukumnya,” ungkapnya. (ilfan/mer)