Ferdinand-Hutahaean
Ferdinand Hutahaean. (foto: dok. The Telegram)

harianpijar.com, JAKARTA – Partai Demokrat menganggap Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin panik karena mengetahui capres Prabowo Subianto meminta wejangan ke ketua umumnya, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menjelang debat pertama capres-cawapres pada 17 Januari mendatang.

Kadiv Advokasi dan Bantuan Hukum Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean menilai kepanikan itu terlihat setelah menuding SBY tak mempunyai data yang akurat setelah empat tahun turun dari kursi presiden.

“Apa yang mereka katakan sekarang hanya upaya menghibur diri, kalut, panik, Pak SBY terlibat langsung,” ujar Ferdinand Hutahaean kepada merdeka, Selasa, 1 januari 2019.

Ferdinand Hutahaean mengatakan TKN Jokowi-Ma’ruf Amin terlihat euforia setelah SBY membebaskan kader Partai Demokrat dalam menentukan pilihan di Pilpres 2019.

Namun, lanjutnya, TKN Jokowi-Ma’ruf Amin kewalahan memenangkan pilpres setelah melihat SBY turun gunung untuk memenangkan Prabowo-Sandi.

“TKN memiliki beban berat untuk memenangkan Jokowi-Ma’ruf,” sebutnya.

Sedangkan terkait rencana pertemuan SBY dan Prabowo, Ferdinand Hutahaean menuturkan pertemuan itu tidak hanya membahas debat. Tetapi juga persiapan paparan visi-misi pada tanggal 9 Januari.

Menurutnya, di antara tanggal 9-17 Januari, bakal ada agenda pertemuan khusus di kediaman SBY, Mega Kuningan, Jakarta Selatan. Meski demikian, Ferdinand Hutahaean enggan membocorkan agenda tersebut.

“Kalau ketemu akan memahas banyak hal, mempersiapkan banyak hal, jangan saya bicara detail, bocor nanti,” kata Ferdinand Hutahaean.

Sebelumnya, TKN Jokowi-Ma’ruf Amin merasa tak khawatir Prabowo Subianto akan bertemu dengan SBY menjelang debat pertama capres-cawapres.

“Tidak khawatir kenapa karena Pak SBY sudah 4 tahun di realita lapangan enggak paham,” kata Arya Sinulingga, Selasa, 1 januari 2019.

Wacana pertemuan Prabowo-Sandi dengan SBY jelang debat pertama dilontarkan oleh Koordinator Jubir BPN, Dahnil Anzar Simanjuntak. Arya Sinulingga menilai hal itu dilakukan karena Prabowo-Sandi butuh bantuan seorang mantan Presiden. (nuch/mer)