Ferdinand-Hutahaean
Ferdinand Hutahaean. (foto: IDN Times/Teatrika Handiko Putri)

harianpijar.com, JAKARTA – Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Ferdinand Hutahaean menanggapi soal usulan tes baca Alquran bagi pasangan capres-cawapres. Ferdinand Hutahaean menilai tes tersebut tak diperlukan, karena Presiden RI bukan pemimpin negara bersyariat Islam.

“Harus melihat bahwa capres bukan pemimpin negara syariat. Bahwa kita sedang mencari pemimpin nasional, seorang presiden yang memimpin kemajemukan,” kata Ferdinand Hutahaean saat dihubungi, Selasa, 1 Januari 2019.

Ferdinand Hutahaean mengatakan Indonesia berideologi Pancasila yang menyatukan berbagai keberagaman. Karena itu, kata dia, tak perlu ada tes baca Alquran demi mengetahui capres yang paling Islami.

“Karena yang kita butuhkan pemimpin yang adil, makmur membawa masyarakat kita sejahtera,” sebutnya.

Selain itu, lanjut Ferdinand Hutahaean, tidak ada aturan yang mengharuskan capres harus bisa membaca Alquran. Menurutnya, kemampuan membaca Alquran yang menjadi syarat wajib dalam mencari kepala daerah di Nangroe Aceh Darusaalam tidak bida diadopsi untuk diberlakukan di tingkat nasional.

“Nanti justru toleransi di negara kita menjadi berantakan, menjadi kacau. Ini harus dipahami betul. Ingat capres Indonesia bukan calon pemimpin negara syariat,” jelas politikus Partai Demokrat itu.

Seperti diketahui, usul tes baca Alquran sebelumnya disampaikan Dewan Ikatan Dai Aceh. Ketua Dewan Ikatan Dai Aceh Tgk Marsyuddin Ishak menilai tes itu akan mengakhiri polemik tentang capres yang dianggap paling Islami.

“Untuk mengakhiri polemik keislaman capres dan cawapres, kami mengusulkan tes baca Alquran kepada kedua pasangan calon,” ujar Tgk Marsyuddin Ishak di Banda Aceh, Sabtu, 29 Desember 2018. (nuch/jpn)