Sungai-Rindu

harianpijar.com, BABELAN – Ekowisata Mangrove Sungai Rindu yang terletak di pertemuan Sungai Kaloran Kampung dan Sungai Gentong, Kampung Sembilangan Desa Hurip Jaya, Babelen semakin ramai dikunjungi oleh warga pada saat liburan panjang akhir tahun.

“Pengunjung biasanya datang dari Jembatan Cinta di Paljaya Tarumajaya, berperahu melintasi pesisir dan konservasi mangrove lalu mampir di Sungai Rindu untuk sekadar istirahat, membeli makanan dan minuman atau ingin foto-foto di lokasi ini,” ujar salah satu pengurus Sungai Rindu, Zaid Al Ahmad dalam keterangan yang diterima harianpijar.com, Kamis, 27 Desember 2018.

Anggota BPD Hurip Jaya yang juga pengurus di Sungai Rindu, Mustana mengatakan Sungai Rindu ini awalnya merupakan gagasan pemuda-pemudi yang tergabung dalam Ikatan Remaja Putra-Putri (IRTRA) Sembilangan dibantu warga secara swadaya membuat saung-saung berteduh dan untuk warga berjualan sekitar bulan Mei 2018.

“Namun, semakin hari semakin ramai pengunjung, makin banyak konsumen dari kalangan wisatawan yang datang,” sebutnya.

Menurut Mustana, Sungai Rindu yang merupakan objek wisata terdekat dari Jembatan Cinta ini mulai mendatangkan wisatawan lokal berkat kerjasama dengan para pemilik perahu yang beroperasi di Jembatan Cinta yang membutuhkan destinasi saat mereka membawa penumpang berkeliling di kawasan konservasi mangrove pesisir Bekasi.

“Potensi ekonomi dari kehadiran wisatawan ini disambut oleh warga sekitar dengan membuka lapak dagangan kuliner maupun souvenir,” kata dia.

Mustana menjelaskan Sungai Rindu sudah menjadi alternatif pemasukan bagi warga Kampung Sembilangan di saat penghasilan dari tambak sedang lesu seperti saat ini di mana 1 kilo rumput laut Gracilaria kering dihargai Rp 2.500.

Sebagai anggota BPD, dirinya juga mencoba menggagas peraturan desa (Perdes) dengan dukungan penuh Karang Taruna Hurip Jaya agar ekowisata Sungai Rindu memiliki sistem dan dasar legalitas yang jelas.

Selain itu, Mustana juga menceritakan keinginannya untuk membentuk kelompok sadar wisata (pokdarwis) untuk membesarkan ekowisata mangrove dan sebagai wadah pendidikan kesadaran masyarakat atas pentingnya fungsi mangrove bagi ekosistem pesisir khususnya bagi para petani rumput laut dan petambak.

Salah satu pengemudi perahu mengaku dapat menarik perahu hingga 5 kali saat sedang hari libur, dengan tarif 10 ribu pulang pergi dari Jembatan Cinta ke Sungai Rindu.

Begitu pula penjual di salah satu saung di Sungai Rindu mengaku penghasilannya meningkat saat libur dan banyak wisatawan dari Jembatan Cinta yang datang.

Perkembangan ekonomi di pelosok Kampung Sembilangan mulai bergeliat dengan adanya destinasi ekowisata mangrove Sungai Rindu yang digagas oleh IRTRA Sembilangan dan tekad anak-anak muda sembilangan yang bergotong royong demi kemajuan ekonomi kampung mereka. (kiriman pembaca/editor Nuch)