Ferdinand-Hutahaean
Ferdinand Hutahaean. (foto: dok. The Telegram)

harianpijar.com, JAKARTA – Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mengusulkan tema korupsi orde baru untuk debat capres-cawapres. Partai Demokrat menuding PSI hanya berniat menyerang pemerintah Orde Baru dalam usulan tersebut.

“Saya lihat semangat PSI membawa itu semangat menyerang orba bukan semangat pemberantasan korupsi. Bicara pemberantasan korupsi tidak bicara orde baru, orde lama, orde manapun bahkan orde sontoloyo,” ujar Kadiv Advokasi dan Hukum Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean saat dihubungi, Jumat, 7 Desember 2018.

Menurut Ferdinand Hutahaean, usulan itu sengaja diangkat untuk menyerang kubu pasangan nomor urut 02. Pasalnya, Partai Berkarya yang dipimpin keluarga Soeharto itu menjadi pendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

“Jadi kalau sudah menyebut orde baru PSI cuma sedang menyulut kemarahan menyulut kebencian dan menyerang orde baru,” sebutnya.

Ferdinand Hutahaean mengatakan jika usulan tersebut diteruskan maka bisa saja usulan debat soal PKI juga diangkat. Supaya menyeret Orde Lama atau era Soekarno.

“Nanti bisa saja kelompok keluarga pak harto mengusulkan misalnya partai berkarya mengusulkan supaya debat memasukan tema PKI karena PKI ini sejarah kelam bangsa supaya milenial tidak lupa sejarah,” kata Ferdinand Hutahaean.

“Artinya siapa kan orde lama lagi, orde lama siapa, orde lama akan terkait ibu Megawati, anak-anak Soekarno bu Megawati terkait dengan PDIP terkait dengan pak Jokowi sebagai kader PDIP apakah kita akan selalu menyerang seperti itu? kan begitu nanti,” tambahnya.

Sebelumnya, Sekjen PSI Raja Juli Antoni mengatakan usulan itu dilontarkan karena di dua koalisi pasangan capres-cawapres berdebat mengenai citra Soeharto di masa kepemimpinannya.

Dirinya menilai, ketimbang berdebat hanya di tingkat koalisi, masyarakat perlu mendapat pandangan tersendiri melalui debat capres-cawapres mengenai hal tersebut.

“Usulan ini jauh lebih mendidik masyarakat secara politik. Daripada berkilah bahwa Soeharto bukan simbol KKN, Soeharto bukan guru korupsi,” ujar Raja Juli Antoni.

Raja Juli Antoni mengungkapkan, baik dirinya maupun Wakil Sekjen PDIP Ahmad Basarah akan siap jika diajak berdebat soal itu.

“Saya dan mungkin Mas Basarah akan siap jika diajak berdebat tentang warisan Orde Baru yang dipuja-puji kubu Pak Prabowo-Sandi, daripada kita menjadi dokter yang menyalahkan data KPK tentang korupsi Orde Baru,” terangnya. (ilfan/mer)