Inas-Nasrullah-Zubir
Inas Nasrullah Zubir. (foto: dok. metrotvnews)

harianpijar.com, JAKARTA – Politikus Partai Hanura Inas Nasrullah Zubir mengatakan penetapan tersangka terhadap Habib Bahar bin Smith dalam kasus dugaan diskriminasi ras dan etnis terkait ceramahnya, oleh penyidik Bareskrim Polri, dinilai belum cukup.

“Walaupun Habib Bahar bin Smith sudah ditetapkan sebagai tersangka, ternyata itu belum cukup karena baru saja terjadi lagi dugaan tindakan melawan hukum yang dilakukan oleh Bahar bin Smith, yakni kasus dugaan penganiayaan anak yang terjadi pada Sabtu, 1 Desember 2018 yang lalu,” kata Inas Nasrullah Zubir saat dikonfirmasi, Jumat, 7 Desember 2018.

Menurut Inas Nasrullah Zubir, peristiwa tersebut terjadi di Pesantren Tajul Alawiyyin di Pabuaran, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Selain itu, dirinya juga menganggap polisi tidak adil karena tidak langsung menahan Habib Bahar bin Smith. Bahkan, dirinya juga membandingkannya dengan kasus lain yang proses penahanan cepat.

“Terjadi perlakuan yang tidak adil antara kasus Bahar bin Smith dan kasus Sisca Dewi yang ketika dilaporkan oleh seorang petinggi Polri. Padahal, dugaan kasus Bahar bin Smith jauh lebih berat ketimbang Sisca Dewi,” ucap Inas Nasrullah Zubir.

Lebih lanjut, ditegaskan Inas Nasrullah Zubir, dirinya berharap polisi segera menahan Habib Bahar bin Smith dengan alasan keadilan.

“Dan jangan sampai juga timbul kesan di masyarakat bahwa Polri tajam terhadap perempuan yang tidak berdaya tapi tumpul ketika berhadapan dengan petinggi ormas,” tegas Inas Nasrullah Zubir.

Sementara sebelumnya, Polri menetapkan Habib Bahar bin Smith sebagai tersangka berdasarkan gelar perkara yang dilakukan penyidik Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri. Namun, meski jadi tersangka, Habib Bahar bin Smit tidak ditahan.

“Benar bahwa hasil gelar perkara penyidik, Habib Bahar bin Smith telah ditetapkan sebagai tersangka, telah dilakukan pemeriksaan, paraf, dan penandatanganan BAP oleh tersangka dan pengacaranya,” kata Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Syahar Diantono. [elz/det]