ma'ruf-amin-wapres
Calon Wakil Presiden nomor urut 01 KH Maruf Amin.

harianpijar.com, JAKARTA – Persaudaraan Alumni (PA) 212 mengaku keberatan dengan pernyataan Kapitra Ampera yang menyebut KH Ma’ruf Amin memiliki peran penting dalam Aksi Bela Islam 212 pada 2016 lalu.

Selain itu, Kepala Divisi Hukum PA 212 Damai Hari Lubis mengatakan, pihaknya juga keberatan Kapitra Ampera menyebut Ma’ruf Amin sebagai saksi mahkota pada sidang Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dalam kasus penistaan agama.

“Atas nama PA 212, kami menyatakan keberatan serta membantah keras pernyataan Kapitra bahwa Kiai Ma’ruf Amin merupakan saksi mahkota pada persidangan Ahok yang menistakan Al Maidah ayat 51,” kata Damai Hari Lubis seperti dikutip dari JPNN, Senin, 19 November 2018.

Damai Hari Lubis menilai pernyataan Kapitra Ampera itu telah menyesatkan publik. Dirinya pun lalu melurukan apa yang sebenarnya terjadi.

Dalam praktik hukum pidana formal di Indonesia atau KUHAP yakni UU Nomor 8 Tahun 1981, maupun hukum acara pidana, tidak mengenal istilah ‘saksi mahkota’ atau ‘kesaksian mahkota’.

“Logikanya negeri hukum asal HIR (Belanda) sendiri pun sampai saat ini, tidak mengenal dan tidak menggunakan terkait ‘saksi mahkota’ yang dinyatakan Kapitra. Di dunia ini hanya negara Italia yang memakai kesaksian ‘mahkota’,” terang Damai Hari Lubis.

Hal itu muncul karena Italia tengah memberantas kejahatan para mafia yang merajalela di sana.

Kemudian, Damai Hari Lubis juga menjelaskan soal saksi mahkota. Istilah itu muncul sekitar tahun 1950-an, di mana salah seorang anggota mafia dijanjikan oleh hakim, serta dijamin tidak akan diganjar hukuman serta akan diberikan kebebasan oleh dan atas nama negara Italia dengan cara-cara melalui pemberian identitas baru, tempat tinggal baru, termasuk paspor dan visa untuk keselamatannya si saksi mahkota dari praktik balas dendam para teman atau koleganya.

“Asalkan saksi membantu untuk membongkar praktek kejahatan termasuk tokoh-tokoh pelaku kejahatan dengan bukti-bukti akurat yang dimilikinya,” ujar Damai Hari Lubis.

Sebelumnya, Kapitra Ampera mengingatkan PA 212 soal Aksi Bela Islam pada 2 Desember 2016 atau Aksi 212. Menurut Kapitra Ampera, dalam aksi itu, cawapres nomor urut 01 Ma’ruf Amin memiliki peran penting.

“Kiai Ma’ruf orang yang punya peran penting. Tanpa Ma’ruf Amin, tak akan ada 212. Karena Ma’ruf Amin yang mengambil keputusan, bukan komisi fatwa, tapi langsung MUI,” ujarnya. (nuch/jpn)