Ahmad-Doli-Kurnia
Ahmad Doli Kurnia. (foto: dok. Liputan6)

harianpijar.com, JAKARTA – Partai Golkar mengakui bahwa meraka tak akan banyak mendapatkan efek ekor jas (coat tail effect) dengan mendukung pasangan nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin di Pilpres 2019. Kemungkinan, PDIP lah yang bakal mendapatkan banyak efek ekor jas tersebut.

Namun, Koordinator bidang Pemenangan Pemilu Sumatera DPP Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia menegaskan pihaknya akan tetap konsisten mendukung Jokowi-Ma’ruf Amin.

Perihal efek ekor jas yang tak akan mengalir ke Partai Golkar, dirinya menyebut sudah memiliki strategi sendiri agar partainya tetap bisa meraih suara di Pemilu 2019.

“Sekalipun memang efek pencalonan Pak Jokowi kecil terhadap elektoral Partai Golkar, kami sudah punya strategi sendiri untuk mengantisipasi itu,” ujar Ahmad Doli Kurnia dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 16 November 2018.

Ahmad Doli Kurnia menjelaskan, Partai Golkar sejak awal telah menyiapkan beberapa skenario saat Jokowi belum ditetapkan berpasangan dengan Ma’ruf Amin. Kala itu, Partai Golkar mengajukan sang ketua umum, Airlangga Hartarto, sebagai bakal cawapres untuk Jokowi.

Namun, saat koalisi menetapkan Ma’ruf Amin sebagai cawapres, Partai Golkar pun menyiapkan skenario lainnya untuk memenangkan Pemilu 2019.

“Kami sudah punya cara sendiri untuk memenangkan Pileg sekaligus Pilpres pada 17 April 2019 nanti,” kata Ahmad Doli Kurnia.

Dirinya menambahkan, Partai Golkar akan mengambil pelajaran dari sistem Pemilu di 2019 ini yang berlangsung serentak. Partainya akan menjadikan Pemilu 2019 sebagai evaluasi untuk ke depan dalam menghadapi Pemilu 2024.

“Kami sudah bertekad bahwa Partai Golkar harus memiliki calon presiden sendiri, dan akan kami matangkan pada Munas yang akan datang,” ungkap Ahmad Doli Kurnia.

Ahmad Doli Kurnia menilai, ketika Pileg disandingkan dengan Pilpres, maka fokus isu dan wacana yang berkembang lebih luas terkait capres dan cawapres ketimbang isu caleg dan partai politik.

Dalam sistem Pemilu 2019, pasangan capres dan cawapres memang diusung oleh parpol atau gabungan parpol. Namun faktanya, sekalipun diusung oleh gabungan beberapa partai, figur si Capres atau Cawapres tetap tak bisa dilepaskan dari parpol asalnya. (nuch/det)