Andre-Rosiade
Andre Rosiade.

harianpijar.com, JAKARTA – Ketum Partai Gerindra sekaligus capres nomor urut 02, Prabowo Subianto meminta maaf atas pernyataannya soal ‘tampang Boyolali’. Terkait hal itu, Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga Uno memuji kebesaran hati sang capres dan menyebut Prabowo Subianto bersikap kesatria.

“Beliau secara kesatria minta maaf kepada masyarakat Boyolali mungkin ada yang merasa tersinggung dengan pernyataan beliau meski dinyatakan tidak ada maksud penghinaan terhadap masyarakat Boyolali,” kata Juru bicara BPN Prabowo-Sandi, Andre Rosiade kepada awak media, Rabu, 7 November 2018.

Andre Rosiade yang juga poltikus Partai Gerindra ini menilai tak banyak tokoh yang memiliki kebesaran hati seperti Prabowo Subianto. Dirinya lantas membandingkan Prabowo Subianto dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang disebutnya kerap melanggar janji kampanye, tetapi tak pernah minta maaf.

“Kita tidak melihat pemimpin yang banyak berjanji dan gagal memenuhi janjinya nggak ada minta maaf tuh kepada rakyatnya. Bahkan pemimpin itu tetap ngotot mau dua kali meski gagal melaksanakan janji. Inilah bedanya Pak Prabowo dengan pemimpin itu,” ujar Andre Rosiade.

Sebelumnya, permintaan maaf Prabowo Subianto itu disampaikan melalui video yang diunggah oleh Koordinator Jubir BPN Prabowo-Sandi, Dahnil Anzar Simanjuntak ke dalam akun Instagram-nya pada Selasa, 6 November 2018.

“Jadi, dan ya. Tapi kalau saya, maksud saya tidak negatif. Tapi kalau ada yang merasa tersinggung, ya saya minta maaf, maksud saya tidak seperti itu,” ujar Prabowo Subianto.

Menurut Prabowo Subianto, maksud dirinya menyebut ‘tampang Boyolali’ karena empati dengan kondisi rakyat Indonesia. Dirinya menilai kesenjangan, ketimpangan ekonomi makin terasa di Indonesia.

“Dan maksudnya bukan menghina, justru empati. Jadi kalau saya bicara tampang, tampang di Boyolali, tampang Boyolali, kalau di Brebes tampang Brebes. Itu kan selorohnya dalam arti empati saya, solidaritas saya dengan orang,” jelas Prabowo Subianto.

“Saya tahu kondisi kalian, kan gitu. Saya justru, yang saya permasalahkan adalah ketidakadilan, kesenjangan, ketimpangan. Kan semua orang tahu di Indonesia ini makin lebar, makin tidak adil, yang menikmati kekayaan Indonesia kan hanya segelintir orang saja. Jadi maksud saya itu,” imbuhnya. (nuch/det)

loading...