Prabowo-Subianto
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. (foto: screenshot facebook/PrabowoSubianto)

harianpijar.com, JAKARTA – Ketua Umum Partai Gerindra yang juga capres nomor urut 02, Prabowo Subianto meminta maaf atas pernyataannya soal ‘tampang Boyolali’.

Permintaan maaf Prabowo Subianto itu disampaikan melalui video yang diunggah oleh Koordinator Jubir Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga Uno, Dahnil Anzar Simanjuntak ke dalam akun Instagram-nya pada Selasa, 6 November 2018.

“Jadi, dan ya. Tapi kalau saya, maksud saya tidak negatif. Tapi kalau ada yang merasa tersinggung, ya saya minta maaf, maksud saya tidak seperti itu,” ujar Prabowo Subianto.

Menurut Prabowo Subianto, maksud dirinya menyebut ‘tampang Boyolali’ karena empati dengan kondisi rakyat Indonesia. Dirinya menilai kesenjangan, ketimpangan ekonomi makin terasa di Indonesia.

“Dan maksudnya bukan menghina, justru empati. Jadi kalau saya bicara tampang, tampang di Boyolali, tampang Boyolali, kalau di Brebes tampang Brebes. Itu kan selorohnya dalam arti empati saya, solidaritas saya dengan orang,” jelas Prabowo Subianto.

“Saya tahu kondisi kalian, kan gitu. Saya justru, yang saya permasalahkan adalah ketidakadilan, kesenjangan, ketimpangan. Kan semua orang tahu di Indonesia ini makin lebar, makin tidak adil, yang menikmati kekayaan Indonesia kan hanya segelintir orang saja. Jadi maksud saya itu,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Prabowo Subianto pun menceritakan saat ‘tampang Boyolali’ itu dilontarkan. Saat itu, dirinya sedang berpidato di depan ratusan kader partai-partai yang mendukungnya di Pilpres 2019. Dirinya menyebut ‘tampang Boyolali’ itu sebagai candaan karena berpidato cukup lama.

“Itu kan, ya cara saya kalau bicara itu familiar, dari… Ya mungkin istilah bahasa-bahasa sebagai seorang teman. Jadi ya… Audiens itu, audiens waktu itu juga nggak terlalu besar, ya mungkin paling hanya 400, 500 orang kader dari partai-partai koalisi kita (di) peresmian kantor pemenangan. Ya saya seloroh ya dan itu kira-kira sambutan saya kan satu jam, mungkin 40 menit lebih, itu (soal ‘tampang Boyolali’) mungkin hanya 2 menit itu,” terang Prabowo Subianto.

Prabowo Subianto menilai dalam berdemokrasi tidak melulu harus serius, sedikit kelakar juga diperlukan. Namun, jika masih ada yang tidak terima dengan pernyataan ‘tampang Boyolali’ itu, Prabowo Subianto juga bersedia untuk berdialog.

“Dan saya siap kalau mungkin diminta dialog langsung atau apa, nggak ada masalah. Kita baik-baik saja, kita bicara ini demokrasi kan, demokrasi kan harus, harus dinamis, harus… Kalau demokrasi idelogis,” kata Prabowo Subianto.

“Kalau kita nggak boleh melucu, nggak boleh seloroh, nggak boleh joking, nggak boleh bercanda, ya bosan, ya tidur lah nanti semua, capek mereka, kasian. Jadi saya kira begitu maksud saya,” tambahnya.

Seperti diketahui, pidato yang menyinggung ‘tampang Boyolali’ itu disampaikan Prabowo Subianto saat meresmikan Posko Badan Pemenangan Prabowo-Sandi di Kabupaten Boyolali, pada Selasa, 30 November 2018.

Lewat video utuh yang beredar, Prabowo Subianto awalnya berbicara soal belum sejahteranya masyarakat saat ini. Dirinya kemudian memberi perumpamaan wajah Boyolali yang belum pernah masuk hotel-hotel mahal.

“Kalian kalau masuk, mungkin kalian diusir. Tampang kalian tidak tampang orang kaya, tampang-tampang kalian ya tampang orang Boyolali ini. Betul?” ujar Prabowo Subianto kepada para pendukungnya. (nuch/det)

loading...