Ace-Hasan-Syadzily
Ace Hasan Syadzily. (foto: Screenshot YouTube)

harianpijar.com, JAKARTA – Partai Golkar menganggap pidato Ketum Partai Gerindra yang juga capres nomor urut 02, Prabowo Subianto soal ‘tampang Boyolali’ yang tersebar melalui video di Twitter merupakan suatu candaan. Namun, Partai Golkar tetap mengingatkan Prabowo Subianto.

“Konteksnya mungkin Pak Prabowo sedang bercanda, tapi tidak lucu. Beliau mengatakan di Jakarta itu gedung-gedungnya tinggi-tinggi dan mewah sehingga bagi orang yang biasa-biasa tidak bisa masuk ke gedung-gedung itu,” ujar Ketua DPP Partai Golkar Ace Hasan Syadzily kepada awak media, Jumat, 2 November 2018.

Ace Hasan Syadzily menilai, candaan Prabowo Subianto kurang pas. Karena, menurutnya, siapa pun bisa masuk ke hotel mewah.

“Tapi sebenarnya, bagi seorang calon presiden, bercanda dengan mengatakan bahwa tampang orang Boyolali bukan tampang orang kaya rasanya tidak tepat,” kata Ace Hasan Syadzily.

“Jangan menganggap bahwa orang Boyolali tak layak masuk hotel-hotel yang ada di Jakarta. Tidak tepat mengatakan seperti itu,” tambahnya.

Seperti diketahui, video itu diunggah oleh beberapa akun di Twitter. Dalam pidato di depan pendukungnya, Prabowo Subianto berbicara soal kesejahteraan dengan membandingkan ‘wajah Boyolali’ dengan masuk hotel mewah.

“Saya yakin kalian tidak pernah masuk hotel-hotel tersebut. Betul?” ujar Prabowo Subianto dalam video tersebut dan disambut jawaban “betul” dari para hadirin.

“Kalian kalau masuk, mungkin kalian diusir. Kalian… tampang kalian tidak tampang orang kaya. Tampang-tampang kalian ya tampang Boyolali ini,” sambungnya.

Sebelumnya, Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga Uno, Faldo Maldini telah melihat dan menanggapi video yang viral itu. Dirinya pun membahas konteks pernyataan yang disampaikan Prabowo Subianto dalam video yang disebutnya terpotong tersebut.

Faldo Maldini mengatakan, intinya, mantan Danjen Kopassus itu ingin mengangkat derajat kesejahteraan orang-orang yang masih tergolong miskin di Indonesia.

“Orang miskin tidak boleh masuk hotel mewah, ini metafora, pemerintah selama ini gagal membuat orang lebih sejahtera. Bukan hotel mewahnya yang harus dibuka untuk orang miskin, tetapi orang miskinnya yang harus diangkat kesejahteraannya. Kayak tinju saja, kalau berat badan tidak cukup, bukan kelasnya yang diturunkan, tetapi berat petinjunya yang dinaikkan,” jelasnya, hari ini. (nuch/det)

loading...