Din-Syamsuddin
Din Syamsuddin. (foto: dok. M Din Syamsuddin)

harianpijar.com, SLEMAN – Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin meminta polemik pembakaran bendera berkalimat tauhid di Garut diakhiri. Apalagi, menurutnya, pihak GP Ansor dan Banser juga telah meminta maaf secara terbuka kepada masyarakat.

“Terkait dengan kasus pembakaran bendera di Garut itu sudah ada pertemuan pimpinan ormas-ormas Islam di rumah Wakil Presiden Jusuf Kalla, dan kebetulan saya hadir,” kata Din Syamsuddin kepada awak media di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Jumat, 2 November 2018.

“Intinya ya karena dari Banser, (GP) Ansor, termasuk PBNU sudah meminta maaf maka ya perlu diberi maaf. Saya kira kasus itu ya sudahlah sebagai sebuah kesalahan jangan terjadi lagi apapun motivasinya,” sambungnya.

Lebih lanjut Din Syamsuddin berharap kasus pembakaran bendera oleh oknum Banser itu jangan sampai memecah belah umat. Dirinya meminta umat Islam arif dalam menyikapi masalah tersebut, tidak terprovokasi, apalagi sampai memicu perpecahan bangsa.

“Saya justru menangarai lain, hal-hal ini semua tidak lepas dari pihak lain, orang luar yang ingin mengadu domba sesama umat Islam. Makanya umat Islam harus betul-betul menyadari ukhuwah Islamiyah terlalu mahal untuk dikorbankan,” jelasnya.

Namun, Din Syamsuddin tak melarang jika ada umat Islam yang tetap menggelar aksi bela kalimat tauhid. Dirinya menilai aksi itu merupakan bagian dari ekspresi umat, dan ekspresi tersebut dilindungi oleh undang-undang.

“Jadi itu kebebasan untuk berpendapat, mengungkapkan pendapat, selama tidak terjebak ke dalam kekerasan, anarkisme, dan apalagi tidak dalam bentuk yang menyebarkan permusuhan sesama kelompok,” ujar Din Syamsuddin.

“Bahwa aksi bela tauhid, aksi bela ini, bela itu, sah adanya. Ya tidak perlu disikapi secara sinis selama tadi itu catatannya. Tidak terjebak pada kekerasan, anarkisme, dan apalagi menebar permusuhan dan kebencian sesama anak bangsa,” tambahnya. (nuch/det)

loading...