Ferry-Juliantono
Ferry Juliantono. (foto: dok. Rmol Jabar)

harianpijar.com, JAKARTA – Partai besutan Prabowo Subianto, Partai Gerindra menilai pihak Istana sengaja menutupi ketidakmampuan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam menyelesaikan kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK, Novel Baswedan.

Pasalnya, meski sudah 500 hari insiden penyiraman itu terjadi, namun belum ada hasil apa pun yang berarti.

“Joko Widodo yang sebenarnya ternyata otoriter, pintar bohong, dan kebijakannya mendukung konglomerasi. Kasus Novel Baswedan ini menjelaskan bahwa istana dan lingkungannya bukan hanya tidak mampu menangani kasus ini, tapi justru menutupinya,” ujar Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Ferry Juliantono kepada awak media, Kamis, 1 November 2018.

Ferry Juliantono mengatakan kasus Novel Baswedan juga menjadi bukti pelanggaran HAM. Pelanggaran HAM, kata dia, justru sering terjadi dalam masa kepemimpinan Jokowi.

“Di era pemerintahan Joko Widodo ini banyak pelanggaran hak asasi manusia mulai dari intimidasi, persekusi, dan kriminalisasi termasuk kasus Novel Baswedan,” kata Ferry Juliantono.

Senada dengan Ferry Juliantono, Ketua DPP Partai Gerindra Sodik Mudjahid bahkan membandingkan penanganan kasus Novel Baswedan dengan sikap kepolisian saat mengungkap kasus hoax Ratna Sarumpaet.

“Ini salah satu keajaiban dunia. Terorisme dan kasus lain, termasuk terakhir kasus Ratna, bisa diungkapkan sangat cepat,” ujar Sodik Mudjahid.

“Ini akan jadi catatan khusus dalam sejarah Polri, bahkan bisa jadi catatan hitam,” imbuhnya. (ilfan/kum)

loading...